KITA

KITA
Episode 20


__ADS_3

Jam menujukan pukul 07.00 WIB, aku segera bangun dari tidurku dan mengambil ponselku diatas meja. Lalu, aku menelepon Aldi aku memintanya untuk singgah ke rumahku.


Aku pun menunggu Aldi dibangku teras rumah. Tak lama kemudian, Aldi datang. Aku langsung memeluknya erat - erat. Seketika Aldi kaget karena tiba - tiba aku memeluknya.


"Vi, kamu kenapa? Ada masalah apa?" tanya Aldi sambil menenangkanku.


"Bang, aku sayang kamu. Aku gak mau kita jauhan lagi, aku gak mau kita berantem lagi," ucapku sambil meneteskan air mata.


"Vio sayang, kamu tau. Aku lebih sayang sama kamu. Aku kan udah dari kemarin minta maaf, kamu aja yang gak merespon aku. Aku tau aku salah. Tapi aku janji, gak akan ngulangi lagi," jawab Aldi.


"Aku udah maafin kamu, kok," ucapku sambil melepaskan pelukan itu.


"Terus kenapa kamu nangis?" tanya Aldi sambil mengusap air mataku.


"Kevin menerimaku kerja menjadi sekertarisnya. Tapi dia memberiku pilihan, pilihan yang tak akan mungkin aku pilih keduanya," jawabku dengan wajah sedih.


"Pilihan apa sayang? Ayo cerita ke aku" tanya Aldi.


"Kalau aku memilih pekerjaan itu, aku harus jauhin kamu. Aku tidak bisa memilihnya. Karena aku butuh keduanya," ungkapku sambil menangis.


Lalu Aldi menghapus air mataku yang jatuh membasahi pipi. Bagaimana mungkin aku harus menjauhi dia, sedangkan dia adalah orang yang selama ini bisa membuatku tersenyum. Aldi menarik tanganku dan mengarahkan pandanganku ke bola matanya. Jantungku mulai berdetak kencang saat menatap matanya.


"Sayang, aku tau kamu tak bisa memilih Jika kamu butuh pekerjaan itu. Pilihlah sayang, aku siap jauhin kamu. Karena cinta tak harus memiliki," ucap Aldi sambil tersenyum.


"Aku gak bisa, aku tetap memilihmu," jawabku sambil menarik tangannya.


"Udah, kamu jangan nangis lagi. Kita pasti bisa lewatin semua masalah ini. Kamu tau, aku pernah berniat selingkuh itu karena Gina mengancam. Gina itu sepupu Kevin. Jika aku menolak ajakan dia malam itu, aku dipecat sayang. Maafkan aku karena gak jujur ke kamu," ucap Aldi.

__ADS_1


"Udah, lupain soal Gina. Aku udah lupain masalah itu. Aku akan tetap pilih kamu. Kita bisa balikan sayang, aku gak akan pilih pekerjaan itu. Masalah kuliahku, aku bisa berusaha cari kerja ditempat lain," balasku.


Setelah lama aku berbincang, Aldi selalu menyemangatiku. Tak lupa sebelum berangkat kerja Aldi mengecup keningku.


Aku tau, cinta kita tak akan pernah bisa terpisahkan. Walaupun banyak penghalang dihubungan ini.


Setelah Aldi pergi, tiba - tiba saja Tari dan Nicko datang ke rumah tanpa mengabari terlebih dahulu. Ternyata mereka sudah dari tadi datang, mereka sengaja diam - diam tak ingin mengganggu waktuku bersama Aldi.


"Cie.. cie so sweet banget sih kalian. Aku jadi pengen," bisik Tari.


"Ih, kalian ngintai, ya? Ayo ngaku, yakan?" tanyaku penasaran.


"Maaf, Vi. Kami udah dari tadi datang, pas Aldi baru sampai kami sembunyi," jawab Nicko.


"Ih, kalian. Usil banget. Aku balikan sama Aldi guys," ucapku dengan wajah ceria.


"Semalam Kevin itu datang, dia menerimaku sebagai sekretaris. Tapi, dia memberiku pilihan. Aku gak bisa guys," jawbaku.


"Emangnya pilihan apa, Vi?" tanya Nicko penasaran.


"Kalau aku menerima tawarannya, aku harus jauhi Aldi. Ya gak mungkinlah, aku gak bisa. Lebih baik ku tolak aja, aku cari pekerjaan lain," jawabku dengan wajah sedih.


"Ya ampun, segitunya. Kayaknya si manager itu suka sama kamu, Vi," ucap Tari.


"Dan kalian tau, Gina itu sepupu Kevin. Aldi selingkuh itu karena diancam Gina. Kalau gak Aldi bakal dipecat," ujarku dengan kesal.


"Segitu liciknya Gina, kok aku yang geram ya sama tingkah mereka," balas Tari.

__ADS_1


Lalu, Tari dan Nicko pun pulang. Aku langsung menelepon Aldi untuk menjemputku. Karena aku akan menjumpai Kevin si Manager, aku akan menolak pekerjaan yang ia tawarkan. Begitu Aldi sampai, aku langsung menaiki motornya. Amarahku begitu bergejolak, ntah kenapa saat Kevin mengatakan Aldi miskin, aku begitu marah. Akhirnya, kami pun sampai. Aku berlari ke dalam dan mencari Kevin. Aku bertanya pada karyawannya, bahwa Kevin sedang diruangan sebelah. Aku menunggu didepan pintu ruangannya. Aldi menahan emosiku yang tak terkendali ini. Begitu pintu terbuka, aku dan Aldi langsung masuk ke dalam ruangan itu.


"Permisi, Pak Kevin. Saya ke sini, ingin menjawab tawaran semalam," ungkapku.


"Ya, silahkan. Kamu pilih pekerjaan atau Aldi si miskin itu. Terserah!" ucap Kevin sambil menggertakku.


"Maaf, saya memilih Aldi, Pak Kevin yang terhormat. Biarpun kata Pak Kevin dia miskin. Tapi saya yakin, dia orang yang tulus, dan satu lagi, dia tidak sombong seperti Pak Kevin," balasku.


"Baik, kalau kamu maunya begitu. Jangan salahkan saya, jika Aldi itu saya pecat. Kamu lebih memilih hidup susah bersama Aldi. Silahkan ,Viona!" bentak Kevin.


"Bukankah perjanjian kita tidak seperti itu, kenapa Pak Kevin curang. Bapak tidak mengatakan seperti ini kepadaku," ujarku sambil menahan marah.


"Ingat ya, Aldi. Kamu saya pecat. Saya tidak bisa mendapatkan Viona. Maka kamulah yang saya hancurkan," ucap Kevin kepada Aldi.


"Tidak apa - apa jika saya dipecat, asal Bapak tau, cinta dan sayang saya ke Vio lebih dari apapun. Tidak ada yang bisa menghalangi," jawab Aldi dengan sedikit senyum.


"Tidak!!! Jangan pecat Aldi. Saya akan pikirkan lagi, tolong beri saya waktu," ungkapku.


Aldi membawaku keluar dari ruangan itu. Aku hanya bisa menangis, saat Kevin memecat Aldi. Lalu, Aldi menenangkanku dan menghapus air mataku yang sudah tak mampuku bendung lagi. Aku tak rela, kekasihku dibentak, dicaci lalu dipecat. Aldi pun mengantarkanku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Aldi tetap berusaha menenangkanku.


"Udahlah sayang, kenapa kamu harus nangis. Kita akan tetap bersama. Aku masih bisa cari pekerjaan lain," ucap Aldi.


"Tidak, kamu harus tetap kerja sayang. Aku tidak mungkin membiarkanmu seperti ini. Bukankah kamu perlu biaya buat Adik - adik kamu yang masih sekolah sayang," jawabku.


Setelah lama berbincang dengan Aldi, kami pun membuat keputusan. Saat Aldi mendengar keputusanku, ia tersenyum ikhlas.


Aku tak tau, apakah ini akan menjadi lebih baik atau buruk kedepannya. Aku hanya ingin Aldi bahagia bukan sengsara. Jika Aldi dipecat, ia tidak akan punya pekerjaan. Bagaimana nasib Adik - adiknya yang masih sekolah.

__ADS_1


Lalu, Aldi pun pulang dengan perasaan yang tak karuan. Wajah Aldi terlihat murung. Aku segera masuk ke dalam rumah, lalu lanjut ke kamar. Ku ambil ponselku untuk menghubungi Kevin. Sayangnya, ponselnya mati. Sekitar 1 jam, aku menelepon Kevin lagi. Teleponku diangkat. Lalu, aku memberi taunya, bahwa besok akan ke kantornya lagi.


__ADS_2