KITA

KITA
Episode 15


__ADS_3

Pagi ini aku bangun cepat, karena hari ini Ujian Semester 2. Aku cepat-cepat menyusun perlengkapan kuliahku dan bergegas untuk berangkat kuliah.


Duh, minyak motor habis. Kalau ke pom bensin bakalan telat nih. Go-Jek aja deh biar cepat.


Aku pun order Go-Jek, lalu duduk di kursi teras rumah menunggu jemputan. Tiba-tiba Aldi datang, aku pun mengambil ponsel dari sakuku, dan pura - pura memainkannya.


Serius, males buat jumpa Aldi. Ngapain sih dia datang kesini. Masih kurang puas apa yang semalam.


"Vi, mau ngampus kan?" tanya Aldi.


Aku cuma menganggukkan kepala.


"Ya udah, yuk ku antarin!!" ajak Aldi.


"Gak usah, udah order Go-Jek tadi," jawabku.


"Yaudah, nih aku bawain sesuatu buat kamu," ucap Aldi sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


Aldi memberiku sebuah kotak yang dibungkus kertas kado. Aku pun bingung, harus terima apa tidak. Sementara aku masih sakit hati kepadanya. Aku pun diam tak menjawab apa pun.


"Ambilah,Vi. Kalau kamu gak mau maafin aku gak apa. Tapi tolong terima ini," ucap Aldi dengan raut wajah sedih.


Apa sih isi didalamnya, segitu maksanya dia menyuhku ambil. Ambil, tidak, ambil, tidak, ambil aja deh.


"Makasih," ucapku sambil mengambil kotak itu.


Go-Jek pun datang menjemputku. Aku berpamitan sama Ibu dan aku meninggalkan Aldi.


"Hati - hati ya, Vio," ujar Aldi.


Sampai di kampus, aku pun memasukan ke dalam tas benda kecil yang terbungkus kertas kado itu. Aku masih penasaran dengan isi didalamnya. Aku pun berjalan ke arah kelas.


"Vio!!" teriak Tari.


"Eh, Tari. Kamu dari mana aja?" tanyaku.


"Aku duduk di kantin, Vi," jawab Tari. "Gimana si Aldi?".


"Udahlah lupakan aja, aku malas bahas dia. Hari ini ujian, aku gak mau kepikiran itu terus. Ntar nilaiku jelek," gumamku.


"Yaudah yuk, ke kelas. Bentar lagi masuk. Good luck untuk ujian hari ini!" ucap Tari.


Sesampainya di kelas, aku langsung mengambil tempat duduk yang sudah tersusun rapi. Aku mulai mengeluarkan buku dan membacanya sembari menunggu dosen datang. Tak lama kemudian, dosen pun datang dan segera memulai ujian. Aku pun mengerjakan soal dengan mudah.


Untung soalnya yang barusan dibaca, jadi ingat jawabannya. Hehehe.

__ADS_1


Setelah 1 jam, waktu pun habis. Kami segera mengumpulkan kertas ujian itu. Lalu bergegas untuk pulang. Tiba-tiba aku melihat Aldi dari kejauhan, ia sedang duduk menungguku di halte kampus. Aku pun berhenti dari langkahku dan memikirkan alasan ke Aldi.


Aldi ngapain pakai kesini segala, aku kan udah bilang gak usah antar jemput. Gimana ni beralasan ke dia. Aku gak enak, dia udah nungguin disitu.


Tiba-tiba Tari mengagetkanku.


"Vi, dipanggil dari tadi bengong aja. Mikirin Aldi mulu," ejek Tari.


"Eh, masa sih kamu manggil. Aku gak kedengeran," jawabku.


"Makanya jangan melamun. Ada apa sih?" tanya Tari dengan penasaran.


"Itu, kamu gak lihat. Di halte, Aldi udah nungguin disitu. Apa ni alasanku biar gak pulang sama dia," jawabku.


"Yaudah tinggal bilang aja, aku gak mau pulang sama kamu. Aku mau pulang sama cowok baruku. Gampangkan?" ucap Tari.


"Ih, gak bisa, Tar. Aku gak tegaan orangnya. Apalagi dia udah nunggu disitu. Gimana perasaannya nanti," jawabku.


"Sekarang aku tanya sama kamu, emang dia semalam ngerti dengan perasaan mu? Enggak kan?" tanya Tari dengan sedikit marah.


Ya juga sih, apa yang dibilang Tari benar. Tapi aku gak bisa jahat balik ke dia. Ya, walaupun hati aku masih sakit


"Yaudah, Vi. Aku duluan ya, udah dijemput. Gak apa - apakan?" tanya Tari.


Tari pun pergi, aku masih berdiri memikirkan yang tadi.


Duh, samperin Aldi gak, ya. Kasihan juga dia udah nunggu.


Aku pun berjalan menuju halte. Aku saat itu pura - pura tidak melihatnya.


"Viona!!!" teriak Aldi.


"Yah, dia ngeliat aku. Duh, terpaksa aku kesana," ucapku.


Aku pun menghampiri Aldi.


" Ada apa, Al?" tanyaku ke Aldi.


"Gimana ujian kamu? Lancar kan?" tanya Aldi.


"Alhamdulillah lancar, Al" jawabku. "Kamu ngapain disini? Udah lama?".


"Mau jemput kamu. Belum lama kok. Mau ya ku antarkan pulang, dari pada Go-Jek. Aku takut kamu kenapa-kenapa" jawab Aldi.


Aldi menawarkanku untuk pulang bersamanya. Aku pun masih berpikir untuk menerima tawarannya itu.

__ADS_1


Aku sih gak tega lihat dia ngemis gitu, cuma gara - gara mau ngantarin pulang. Tapi, tau kan gimana perasaanku, Al. Sakit.


Dengan hati yang terpaksa, aku pun menerima tawaran Aldi.


Sesampainya di rumah, aku pun langsung turun dan tak ada sedikit basa - basi seperti biasanya.


"Vi, kamu maafin aku dong," ucap Aldi.


"Eh, Al. Aku buru - buru. Soalnya besokkan masih ujian. Aku mau lanjut belajar dulu ya," jawabku sambil berjalan menuju pintu rumahku.


"Vi, jawab dulu dong. Jangan alihkan pembicaraan," ucap Aldi lagi.


"Aku belum bisa maafin, sory ya. Kamu tau sendirikan, kalau seseorang udah sayang terus disia - siain itu sulit untuk memaafkan," jawabku dengan sedikit tersenyum.


"Ya, aku tau. Tapi, kasih aku kesempatan sekali lagi, tolong, Vi," ucap Aldi.


"Besok - besok aja deh bahas ini, aku mau fokus belajar. Aku masuk duluan ya. Daaa.." jawabku sambil berjalan ke arah pintu.


Lalu aku masuk ke dalam rumah, dan aku mengintip dari balik jendela, Aldi begitu sedih mendengar jawaban dariku.


Maaf ya, Al. Tapi, untuk saat ini aku memang belum bisa maafin kamu. Semoga kamu mengerti maksudku.


Aku pun segera masuk ke kamar dan mengambil buku, aku melanjutkan belajar untuk ujian besok. Tiba - tiba ponselku berbunyi, Aldi meneleponku.


Males mau ngangkat, biarin aja deh. Silentkan aja HP ini.


Selesai belajar aku pun lanjut untuk makan siang. Lalu, aku mengambil ponsel dan melihat ada 30 panggilan tak terjawab.


Banyak banget 30 panggilan, Aldi semua lagi. Maaf ya, Al. HP aku silent tadi, jadi gak tau kalau kamu nelepon.


sambil mengambil buku diatas meja.


Tiba - tiba Aldi mengirimkan pesan via SMS.


Aldi mengajakku untuk makan malam. Aku pun membalas pesan itu, karena aku masih belum mau untuk jalan sama Aldi akhirnya aku beralasan agar dia tidak kecewa.


Jam menujukan pukul 20.00 WIB. Ibu pun duduk disampingku.


Ibu bertanya kepadaku "Vio, tumben Aldi gak kesini?".


"Ya, Bu. Aldi ada lembur. Lagian Vio kan ujian, mau fokus belajar, Bu," jawabku.


"Yaudah, jangan terlalu malam. Nanti kecapekan kamu jadi sakit," ucap Ibu.


Aku pun segera memberskan buku - buku diatas meja. Lalu aku pun melanjutkan untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2