
Hari ini ujian terakhir semester 2 telah selesai. Aku berharap mendapat IPK yang baik. Tari pun mengajakku ke kantin.
"Vi, kantin, yuk!! Laper," ajak Tari
"Yuk, aku juga laper, nih," jawabku.
Tiba - tiba Nicko lewat dihadapan aku dan Tari.
"Bang, Nicko. Kantin, yuk!!" ajakku.
"Boleh, boleh. Abang traktir kalian," jawab Nicko sambil memasukkan buku ke dalam tas.
Sambil berjalan ke arah kantin, Nicko bertanya kepadaku tentang hubunganku dan Aldi. Aku pun diam saja, karena memang malas untuk membahas hal itu.
"Vi, cerita dong. Masalah jangan dipendam sendiri, ntar tambah sakit," ucap Nicko.
"Gak apa - apa kok, Bang. Vio udah lupain semuanya. Vio juga udah renggang dengan Aldi, mungkin bakalan putus," jawabku sambil tersenyum.
Tari pun bertanya "Jadi, kamu belum mutusin Aldi, Vi?".
"Belum, tapi setelah dipikir-pikir. Kayaknya emang harus putus. Sekarang Vio udah jarang komunikasi, walaupun Aldi sering nelepon dan SMS. Tapi, Vio jarang respon," jawabku ke Tari.
"Vi, kamu beneran mau jauhin Bang Aldi?" Tanya Tari.
"Ya, Tar. Rasa sakit dihati belum bisa hilang," jawabku.
Sesampainya di kantin, kami pun mengambil tempat duduk.
Nicko bertanya "Kalian mau makan apa?"
"Bang, Vio mie ayam ya minumnya teh es aja," jawabku.
"Tari nasi goreng, Bang. Minumnya juga teh es," sambung Tari.
Lalu, Nicko pun pergi memesankan makanan dan minuman itu.
"Ujian kan udah selesai, ada rencana mau kemana, Vi?" tanya Tari kepadaku.
"Di rumah aja kayaknya, Tar," jawabku.
"Yaudah, ntar aku sering main ke rumahmu ya, Vi," ucap Tari.
"Makanan dan minuman udah datang nih, eh kalian mau kemana habis ini?" tanya Nicko.
"Vio mau langsung pulang aja, Bang," jawabku.
"Tari juga, Bang," sambung Tari.
Tiba - tiba ponselku berbunyi. Ada nomor baru yang meneleponku. Aku pun tidak mengangkat telepon itu. Lalu, nomor yang tadi kembali meneleponku. Aku begitu gelisah, hingga Tari dan Nicko pun heran melihat tingkahku.
__ADS_1
Tari bertanya kepadaku "Kamu kenapa sih, Vi?".
"Ini, ada yang nelepon. Aku gak tau siapa," jawabku dengan sedikit kesal.
"Angkat aja dulu, Vi. Barang kali penting," jawab Tari.
Lalu ponselku berbunyi, ada pesan masuk via SMS. Aku segera membaca pesan itu. Ternyata dari Gina, ia menyampaikan bahwa Aldi sakit, dan harus segera dirawat. Aku pun sedikit tersenyum.
Ada - ada aja akting Gina, pakek bilang Aldi sakit lagi. Dua hari yang lalu baik l-baik aja kok. Mau ngerjai gak perlulah akting sakit segala.
"Siapa, Vi?" tanya Nicko.
"Gina guys, aktingnya jago. Bilangi Aldi sakit segala. Biar apa sih? Biar aku datang kesana terus maafin Aldi gitu?" jawabku dengan kesal.
"Hmm.. coba kamu telusuri, Vi," balas Nicko.
"Ya, siapa tau Aldi beneran sakit. Aldi gak ada hubungi kamu?" tanya Tari kepadaku.
"Ada sih, semalam. Tapi aku gak merespon. Dia nelepon gak ku angkat, SMS juga gak ku balas," jawabku.
"Kamu sih, Vi. Apa salahnya kamu angkat. Kamu gak khawatir? Kalau dia beneran sakit gimana?" tanya Nicko.
"Aldi gak mungkin sakitlah, dia baik-baik aja kok," jawabku.
"Yaudah, terserah kamu, Vi. Yuk, makan," ajak Tari.
Ah sudahlah itu cuma akting mereka aja. Aku gak percaya. Merekakan sama-sama tukang bohong.
Aku pun menyalakan motorku lalu berjalan pulang ke rumah. Sambil mengendarai motor aku melamun memikirkan apa yang dibilang Gina. Tiba-tiba mobil didepanku berhenti, aku pun terkejut lalu mengerem depan. Aku pun terjatuh dari motor yang ku kendarai itu.
Ada seorang pria datang menolongku. Namanya Kevin, dia adalah Manager di Perusahaan tempat Aldi bekerja.
"Duh, sakit," lirihku.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Kevin.
"Gak apa, cuma luka dikit kok. Pak," jawabku.
"Panggil aja saya Kevin," ucapnya. "Saya antarkan pulang ya, takut kamu kenapa - kenapa di jalan".
"Hmm.. Baiklah," jawabku.
Aku pun diantar pulang oleh Kevin.
"Yang mana rumah kamu?" tanya Kevin.
"Warna hijau, nomor 31," jawabku.
Setelah sampai rumah, Kevin menanyakan namaku.
__ADS_1
"Boleh saya tau nama kamu?" tanya Kevin.
"Viona," jawabku singkat.
Lalu Kevin bertanya kepadaku "Oh ya, saya boleh minta nomor HPmu?"
Aku pun memberikan nomor ponselku ke Kevin. Lalu segera masuk ke dalam rumah.
Aku masih kepikiran Aldi, apa aku telepon aja ya. Aku bingung harus ngapain sekarang.
Jam menujukan pukul 13.00 WIB, aku segera makan siang sambil memainkan ponselku.
Eh, Gina ngechat aku di Facebook. Kepo ah apa sih isi chat dari dia.
Aku dan Gina pun chatingan. Dia mengirimkanku foto Aldi yang terbaring diatas kasur. Gina tetap memaksaku untuk datang. Saat itu Aldi sudah pulang dari Rumah Sakit, aku menelepon Tari untuk menjemputku. Tak lama, Tari pun sampai kami langsung bergegas untuk pergi ke rumah Aldi.
"Tuh, kan. Beneran sakit Aldi, Vi. Kamu sih ngeyel dibilangi," ucap Tari.
"Ya, maaf. Kamu tau sendiri, kan. Mereka berdua habis bohongi aku, ya gak bisa secepat itu aku percaya," jawabku.
Sesampainya di rumah Aldi, aku pun segera bertemu Ibu Aldi dan menanyai tentang sakitnya Aldi. Ternyata, Aldi mengalami sakit magh. Beberapa belakangan ini ia sering telat makan.
"Kamu ya, bilangi aku jangan telat makan. Kamu sendiri suka telat makan," ucapku mengagetkan Aldi.
"Eh, Vio. Kamu mau juga datang. Maaf ya, beberapa hari ini aku telat makan, Vi. Tapi setelah kamu datang, sakitku jadi hilang," jawab Aldi dengan senyuman manisnya.
"Masih sempat ya kamu bercandaan, aku masih kesel tau sama kamu," ucapku dengan raut wajah kesal.
Aldi mengambil tanganku lalu diletakkan diatas dadanya.
Apaan sih ni orang, kesempatan dalam kesempitan.
Aldi menatap mataku, matanya yang begitu tajam membuat jantungku berdetak kencang. Aku pun mengalihkan pandanganku. Pura-pura melihat ke arah jam.
"Vi, kamu gak usah pura-pura lihat kesana. Tatap mata aku, Vi. Aku serius denganmu," ucap Aldi.
"Al, aku permisi bentar ya. Bentar aja lima menit," balasku.
Aku keluar dari kamar Aldi, dan mencari Tari. Tari pun duduk di ruang tamu sedang mengobrol dengan Ibu Aldi. Aku pun membawa Tari masuk ke kamar Aldi untuk melihat kondisinya.
"Jadi, Bang Aldi sakit apa?" tanya Tari.
"Sakit magh, Tar. Telat makan dia, sekarang udah lumayan baik keadaannya," jawabku.
Aku dan Tari pun berpamitan pulang ke Aldi. Aku menyuruh Tari menunggu diluar, karena ada hal yang akan ku sampaikan ke Aldi.
"Kamu jangan telat makan lagi, aku pulang dulu. Udah sore," ucapku sambil meletakkan buah diatas meja.
Aldi pun terduduk saat aku melangkahkan kaki untuk keluar dari kamarnya, lalu Aldi berdiri, menarik tanganku dan mengecup keningku.
__ADS_1