
Kring.. kring...
Alarm ponsel berbunyi. Suara kicauan burung pun terdengar. Aku segera mematikan alarm ku. Aku terbangun dan bergegas untuk mandi lalu bersiap - siap untuk kuliah.
"Hari ini dosennya, yah, sama Pak Agus. Bakalan lama nih pulang, malah mata masih ngantuk," ucapku sambil membereskan buku.
Lalu aku berpamitan dengan Ibu. Karena Aldi kerja di luar kota, sekarang aku berangkat kuliah bawa motor sendiri. Sesampainya di kampus, aku melihat Tari dan teman - teman yang lain menungguku.
"Lama banget kamu, dari tadi juga ditungguin," ujar Tari.
"Ya, maaf. Telat bangun," jawabku.
"Eh, ngomong - ngomong tadi aku jumpa Bang Nicko. Dia nanyain kamu terus," ucap Tari.
"Udah gak usah dilayan, gara - gara dia ntar nenek sihir nyamperin aku lagi," jawab ku.
"Nenek sihir siapa? Kak Bunga?" tanya Tari.
"Ya, siapa lagi. Dia kan mirip tuh dengan nenek sihir galaknya," jawabku.
"Hahah, kamu ada - ada aja, Vio," ucap Tari dengan tertawa.
Tak lama kemudian, aku dan Tari berjalan ke arah kelas. Pak Agus dosen yang paling lama jam mengajarnya datang. Tiap Pak Agus masuk selalu diberi tugas segunung.
"Duh, itu dosen kesayangan mu, Vio," ucap Tari.
"Enak aja, Hahaha" jawabku sambil tertawa.
Setiba di kelas, aku segera mengeluarkan buku untuk mencatat materi yang disampaikan oleh Pak Agus.
"Pagi anak - anak," sapa Pak Agus kepada kami.
" Pagi, Pak," jawab kami serentak.
"Hari ini kita membahas tentang Manajemen, kalian Bapak tugaskan untuk ke Perpustakaan mencari materi disana. Minimal harus 20 halaman yang kalian ketik" ucap Pak Agus.
"Hah?" kami semua terkejut.
"Kenapa? kalian mau protes? Baiklah, nilai Bapak turunkan semua jadi D," ucap Pak Agus.
"Jangan, Pak!!!!" teriak kami dengan sedikit keras.
"Nah, gitu. Supaya kalian rajin baca. Baiklah, kalian bisa langsung mencari materi di Perpustakaan ya. Bapak hari ini ada acara jadi tidak bisa lama - lama" ucap Pak Agus.
Akhirnya Pak Agus keluar. Kami pun mulai ribut di kelas. Aku mengajak Tari mencari buku di Perpustakaan. Tiba - tiba saja ada Nicko. Aku pun menghampirnya.
"Eh, maksud kamu apa SMS begitu?" tanyaku kepada Nicko.
"Bercanda doang, Vio. Gitu aja marah," jawab Nicko.
__ADS_1
"Gak lucu tau" ucapku dengan kesal.
Tiba - tiba Bapak penjaga Perpustakaan menegur kami.
"Heh, ini Perpustakaan. Jangan ribut!" ucap Bapak itu.
"Yang bilang lapangan futsal siapa, Pak. Hahah," jawab Aldi dengan candaan.
Lalu aku pergi mencari buku. Nicko mengikutiku. Aku pura - pura tidak tau. Tapi, lama - lama aku risih dengan keberadaannya.
"Kenapa sih ngikutin terus, gak ada kerjaan ya?" tanya lku.
"Ya, emang kenapa? Gak boleh? Ini Perpustakaan jadi bebas. Suka - suka dong mau kemana," jawab Nicko.
"Oke, aku yang pergi," ucapku.
"Heh, mau kemana?" tanya Nicko lalu mengejarku.
"Apalagi? aku males berurusan sama si Bunga. Serius, apalagi soal cowok" jawabku dengan kesal.
"Bunga bukan siapa - siapa" ucap Nicko.
"Ya, tapi dia suka dengan kamu. Jadi stop, jangan ganggu aku dan jangan ganggu hubungan aku," jawabku.
Aku pun menghampiri Tari yang sedang sibuk mencari buku untuk tugas kami.
"Tar, udah dapat belum?" tanyaku kepada Tari.
"Gak usah, di luar aja. Risih disini ada Nickoz" jawabku.
Lalu kami pun keluar Perpus, kami melanjutkan untuk mengerkan tugas di taman. Tak lama kemudian Bunga datang.
"Viona!!!" teriak Bunga.
"Ada apa, Kak?" tanyaku kaget.
"Kamu lihat Nicko?" tanya Bunga.
"Tadi sih di Perpus, Kak. Cuma gak tau sekarang dimana. Gak tau dan gak mau tau dimana dia," jawabku sambil mengerjakan tugas.
"Ingat!! Jangan sampai dekati dia ya. Kalau dia dekati kamu, tinggal kamu jauhi aja dia" ucap Bunga.
Aku pun pergi meninggalkan si nenek lampir.
Tiba - tiba aku melihat Nicko dari kejauhan. Aku pun datang menghampirinya.
"Bang Nicko. Ada titipan pesan dari nenek lampir. Eh, si Bunga" ucapku kepada Nicko.
"Pesan apa?" tanya Nicko.
__ADS_1
"Dia ngajakin jumpa" balasku singkat.
"Ih, males. Mending jumpa sama kamu aja Viona. Kamu itu cewek baik, beda sama Bunga," jawab Nicko dengan senyuman. Tiba - tiba Tari lewat.
"Tari!!!!" sapaku.
"Eh, ya Vio. Ada apa?" tanya Tari.
"Kantin yuk, lapar nih" ajakku.
"Boleh, yuk" jawab Tari.
Sesampainya di Kantin. Aku pun melihat ada nenek lampir di sana. Akhirnya, kami membatalkan untuk ke kantin.
"Eh, ada nenek lampir, Tar. Balik aja yuk, males," ujarku.
"Ya udah yuk, ntar ribut lagi," jawab Tari.
Akhirnya kami bergegas untuk pulang. Aku pun segera menghidupkan sepeda motorku dan berjalan pulang. Aku melihat dari kaca spion sepeda motorku, seperti ada yang mengikuti. Aku lihat terus dari kaca spionku dan sampailah di pos kampus tiba - tiba berhenti. Ternyata Nicko sedang mengikutiku.
"Stop!!!!!" teriakku ke Nicko.
"Maaf, aku tidak akan mengganggumu lagi," ucap Nicko.
Lalu Nicko pun pergi meninggalkanku. Sesampainya di rumah. Jam menujukan pukul 13.00 WIB. Aku langsung mengganti pakaian ku. Lalu, aku mengambil ponsel dan menelepon Aldi. Aldi mengangkat teleponku.
"Siang sayang, udah makan siang?" ucap Aldi.
"Belum nih, baru aja pulang ngampus sayang," jawabku.
"Ya udah, makan dulu sana. Udah jam berapa ini!!!" ucap Aldi sambil menyuruhku makan siang.
"Ya sayang, kamu kapan pulang?" tanyaku.
"1 minggu lagi selesai kerjaanku, sayang. Do'a kan aja, ya," jawab Aldi.
"Janji ya, jangan lama - lama disana. Aku rindu," ucapku.
"Ya, sayang," balas Aldi.
Telepon pun ku tutup. Aku segera ke dapur untuk makan siang. Biasanya, aku tak pernah telat makan. Ibu datang menghampiriku.
"Viona, Ibu dan Ayah sedang susah. Gimana kalau kuliahmu libur dulu semester depan?" tanya Ibu kepadaku.
"Oh, ya tidak apa - apa, Bu. Jangan dipaksa, mungkin aku harus kerja bantu Ibu," jawabku.
"Maafin Ibu ya, keuangan tahun ini susah. Ayahmu kerja gaji digantung, masih ada sisa yang belum dibayarkan," ucap Ibu.
"Ya, Bu. Gak apa. Nanti Vio berusaha," jawabku.
__ADS_1
Aku bakal rindu teman - teman kampusku. Tapi, yaudahlah. Aku tak tega melihat orang tuaku susah begini. Aku harus cari pekerjaan. Aku harus tetap bisa melanjutkan kuliahku.
Jam menujukan pukul 20.00 WIB. Aku mengambil ponsel dan mengirimkan pesan via SMS ke Aldi. Aku mengatakan bahwa akan berhenti kuliah disemester depan. Aldi pun menyuruhku memakai uangnya untuk membayar uang semester. Tapi, aku menolaknya. Karena, jika Ibu berpesan tidak boleh menerima uang dari siapapun, termasuk Aldi. Lalu, aku menuju kamarku, ku lihat kamar yang berantakan seperti kapal pecah, aku langsung bergegas merapikannya. Setelah 10 menit membereskan kamar, aku pun keluar membuang sampah yang menumpuk di kamarku. Jam menujukan pulul 21.00 WIB. Mataku sangat berat, akhirnya aku pun melanjutkan untuk tidur.