KITA

KITA
Episode 32


__ADS_3

Keesokan harinya, tepat jam 19.00 WIB, Aldi membawaku ke rumah sepupunya yang paling menjengkelkan. Begitu sampai di depan pintu rumah mereka, terdengar suara ribut-ribut. Aku mulai menapaki kaki ke dalam rumah itu. Baru saja dua langkah aku menapak, telingaku mendengar mereka tengah menyebut namaku. Aku semakin penasaran, lalu berjalan lebih dekat kearah pintu ruang tengah agar mendengar jelas apa yang sedang mereka bahas. Ternyata mereka sedang membicarakan hubunganku dan Aldi. Keluarga Fira mengolok-olokanku dihadapan keluarga Aldi yang lainnya, serasa aku ini adalah manusia paling hina. Aku langsung berjalan ke luar dari rumah itu. Telingaku terasa panas seperti terbakar api mendengar ucapan keluarga Fira. Mataku mulai berkaca-kaca, tetapi aku tahan butiran permata itu agar tak jatuh membasahi pipi. Tak sengaja aku menabrak Fira, Fira tersontak kaget dan menolakku hingga hampir saja terjatuh.


"Eh, apa-apaan, sih kamu. Punya mata gak!!" bentak Fira sambil merapikan rambut panjangnya. "Kamu yakin mau masuk ke keluarga besar kita? Kamu gak pantas tau, lihat tu baju kamu norak banget. Ini baju model tahun kapan, sih? Udah deh, gak penting banget ngobrol sama cewek norak kayak kamu." Fira berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Aku hanya diam tak melontakkan balasan apapun. Aku berjalan ke halaman rumah. Kutemui bangku dibawah pohon lalu aku duduk di bangku itu. Hatiku sakit, telingaku panas, ingin aku berteriak sekencang-kencangnya. Air mata tak sanggup lagi terbendung, akhirnya kutumpahkan semuanya. Tiba-tiba, aku Mlmendengar suara Aldi dari kejauhan memanggil namaku, aku langsung menghapus air mata dengan secepat kilat.


"Sayang, ngapain kamu di sini?" tanya Aldi. "Ayo, ke dalam, keluargaku udah ngumpul. Kamu harus kenalan sama mereka." Aldi menarik tanganku.

__ADS_1


Aku hanya menganggukkan kepala. Sesampainya di dalam, semua mata tertuju padaku. Aku gugup, semua menatap kearahku, aku seperti tawanan saat itu. Terdengar disalah satu telingaku, mereka berbisik menyebut namaku. Tapi aku tetap memberikan senyuman manis dihadapan mereka.


"Silahkan duduk, Viona!!" ucap Ibu Fira.


"Ngapain sih duduk sama kita? Kayaknya gak pantas, Bu," jawab Fira.


"Jaga omongan kamu, Fira!!" bentak Aldi. "Kamu hargai kedatangannya, Viona ini calon istriku!!".

__ADS_1


"Cukup Fira!! Kamu mau gak suka itu terserah kamu, tapi jaga mulut kamu!!" potong Aldi dengan membentak Fira sambil meninggikan suaranya.


Aldi menarik tanganku untuk keluar dari rumah itu. Aku menahan sesak didalam dada. Begitu sampai diluar rumah, Aldi menguatkan aku, aku tidak bisa menahan semuanya. Lalu, butiran permata jatuh sedikit demi sedikit membasahi pipi. Aldi pun segera memeluk tubuhku.


"Sayang, kamu jangan dengarkan ucapan Fira tadi, ya," ucap Aldi. "Kamu itu lebih dari yang mereka bilang."


"Aku gak habis pikir, kenapa mereka ngomong begitu. Apa sih salah aku ke merak?" tanyaku sambil menangis dan melepaskan pelukan dari tubuh Aldi.

__ADS_1


"Udah, kamu gak boleh nangis lagi. Kamu akan tetap jadi istri aku, sayang," ujar Aldi sambil menghapus air mataku.


Jam menujukan pukul 21.00 WIB, Aldi mengantarkanku pulang ke rumah. Aldi tetap terus menyemangati dan menghiburku diperjalanan menuju rumah. Akhirnya, sampai di rumah, sebelum aku masuk ke dalam, Aldi memberikanku kecupan dikening. Hatiku yang tadinya sedih tiba-tiba berubah menjadi berbunga-bunga. Aldi pun tersenyum, lalu menyuruhku untuk segera masuk ke dalam rumah.


__ADS_2