
Keesokan harinya saat Gina hendak memasuki ruang kerjanya. Kevin melihat Gina sedang membawa kotak berwarna hitam berukuran sedang. Kevin menyuruh anak buahnya untuk berpura-pura menjadi tukang sapu. Setelah Gina keluar dari ruangan itu, berjalan kearah ruang kerjaku.Gina pun meletakan kotak itu di atas meja dengan sepucuk surat lagi. Anak buah dari Kevin segera merekam aksi Gina tanpa sepengetahuannya.
Tak lama kemudian, aku dan Aldi pun sampai di kantor. Melihat sikap Gina yang begitu gelisah, aku segera menghampirknya.
"Gina!!" "Kamu kenapa?"
"Gak apa-apa, Vi. Lagi kurang sehat aja aku hari ini."
Gina pun mengajakku untuk segera ke ruangan kerja. Aku pun bergegas menuju ruang kerjaku bersama Gina. Saat aku hendak memasuki ruangan, ada hal yang mengganjal. Gina seperti menyembunyikan sesuatu. Kulihat ia memegang botol bening berukuran kecil. Aku pun mencari alasan untuk menghindarinya.
"Gin, bentar ya, ada yang ketinggalan, kamu masuk aja duluan," ucapku.
"Ya, Vi. Aku tunggu di dalam ruanganmu, ya,"
Aku pun pergi mencari Kevin untuk melaporkan kejadian yang membuatku curiga. Setibanya di ruang Kevin, aku membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan itu. Kevin yang melihat kegelisahanku pun langsung menyurhku untuk duduk.
"Kamu kenapa, Vio?" tanya Kevin. "Silahkan duduk."
"Ada yang tidak beres, Pak," "Gina sepertinya akan mencelakai saya."
__ADS_1
"Saya sudah menyuruh anak buah saya untuk memata-matainya. Kamu tenang saja. "Emang apa yang Gina lakukan?"
"Dia membawa botol kecil, Pak. Seperti botol obat. Saya tadi bersamanya, Pak. Tapi saya beralasan agar bisa bebas dari Gina"
Saat anak buah Kevin sedang mengawasi gerak-gerik Gina. Terlihat Gina sedang menuangkan cairan ke dalam gelas berisi minuman di atas meja kerjaku. Tiba-tiba Gina melihat kearah anak buah Kevin, ia pun curiga. Lalu, mendatangi anak buah Kevin itu yang tengah asyik menyapu ruangan kerjaku.
"Kamu baru bekerja di sini?"
"Ya, Buk. Ada yang bisa dibantu?"
"Tidak ada, cukup selesai bersih-bersih kamu segera keluar dari ruangan ini,"
"Permisi, Pak," "Saya ingin menunjukan ini."
"Hah, berarti benar dugaanku. Gina yang menerorku selama ini. Itu botol yang saya maksud tadi, Pak."
"Benar-benar si Gina, nanti akan saya datangi ke ruangannya. Walaupun dia sepupu, saya tidak bisa diam jika terjadi hal yang membuat orang lain merasa terganggu."
Setelah itu, Kevin pun menghampiri Gina dengan membawa bukti foto dan video yang tunjukan oleh anak buahnya tadi. Begitu Kevin membuka pintu, ia melihat Gina sedang berbincang dengan seorang pria asing, persis dengan yang Kevin lihat semalam.
__ADS_1
"Gina!!" "Kamu ikut saya."
"Kenapa kok tiba-tiba Kak Kevin ke sini?"
"Ada hal penting,"
Sesampainya di ruangan Kevin. Di sana ada aku, Aldi dan anak buah Kevin. Wajah Gina terlihat pucat pasi. Gina takut jika kevin tau, ia akan memindahkan Gina kerja ke kantor lain.
"Apa yang kamu lakuin ke Viona?"
"Gina gak ada buat apa-apa, Kak Kevin,"
"Kamu tidak jujur ya, Gina," "Ini apa? Masih mau ngelak kamu."
Gina diam membisu saat Kevin menunjukan foto dan video yang telah ia lakukan. Gina tertunduk melihat aksinya itu. Lalu, Gina pun mengakui perbuatannya.
"Maaf Kak Kevin, Gina ngaku salah udah neror Vio. Gina cemburu, Gina gak rela Vio dengan Aldi balikan. Gina suka sama Aldi, Kak. Gina minta maaf."
"Bukan begini caranya, Gina," "Yang ada perusahaan ini jadi bermasalah gara-gara kamu buat Viona panik. Semua proposal Vio yang buat, kalau tidak selesai bagaimana dengan perusahaan ini?"
__ADS_1
Akhirnya, Gina meminta maaf kepadaku. Gina pun dipindahkan ke kantor yang lain. Agar tidak membuat kerusuhan lagi di sini.