KITA

KITA
Episode 40


__ADS_3

Suara kicauan burung terdengar ditelingaku. Tubuhku masih tergolek diatas kasur empuk dengan mata terpejam seakan tak ingin mengakhiri sisa-sisa malam yang perlahan habis. Ingatanku dengan segar mem-flash back pertunanganku dengan Aldi. Kurasakan sinar matahari telah mengintip, memaksa menerobos masuk melalui celah-celah jendela seakan ingin mengingatkan kalau hari tak lagi malam. Aku pun membuka kedua mata melihat kearah jam dinding.


"Ya ampun, aku bisa telat berangkat kerja hari ini...," lirihku.


Aku langsung bangkit dari kasurku, dengan secepat kilat bersiap-siap. Lalu, terdengar suara sepeda motor Aldi, aku langsung berlari menghampirinya.


"Sayang, kita langsung berangkat, ya. Pak Kevin udah nungguin, aku telat bangun," ucapku dengan tergesa-gesa.


Sesampai di kantor, Kevin sudah menungguku di ruangannya. Aku membuka pintu lalu masuk menemui Kevin yang tengah menelepon client-nya. Kevin memintaku untuk memberikan berkas kepada clinet-nya, karena ada urusan mendadak, ia harus segera berangkat ke luar kota.


"Viona, saya minta tolong kamu untuk berikan berkas ini ke client baru saya," ucapnya sambil menyodorkan sebuah berkas.


"Baik, Pak kevin," jawabku.


Aku pun berjalan ke ruangan kerjaku dengan membawa berkas yang telah diserahkan kepadaku. Sembari aku menunggu kedatang client Kevin, aku mengerjakan tugas kampus. Sejam berlalu, salah satu karyawan menghampiriku, ia mengatakan bahwa client Kevin sudah menunggu di ruangan meeting. Aku pun menuju ke sana untuk memberikan berkas itu. Baru saja aku membuka pintu, aku kaget melihat lelaki itu. Ternyata client Kevin adalah Jauzan.


Jadi ternyata, client-nya si Jauzan. Tapi, kenapa harus dia aku muak melihat wajah sipenghianat itu.


"Eh, Viona..." sapanya dengan senyuman.


Memang, Jauzan lebih tampan, kaya ,setra sopan. Bahkan keluarga Jauzan menyetujui hubungan kami berdua. Tapi, sayangnya Jauzan seorang penghianat. Ia memutuskan hubungan yang sudah tiga tahun kami bangun, hanya dengan alasan jarak yang jauh. Dan itu bukan alasan yang sebenarnya, ternyata dia selingkuh dengan wanita lain di sana. Aku begitu menerima keputusannya, bahkan dia adalah orang yang sangat sulit kulupakan waktu itu. Sekarang dia muncul lagi dihadapanku, itu sangat membuat hatiku sakit.

__ADS_1


"Ini, titipan dari Pak Kevin. Aku permisi," tuturku dengan wajah kesal.


"Vio... tunggu.. Kenapa kamu terus-terusan diamin aku. Bukankah kita udah baikan?" tanyanya sambil menarik tanganku.


"Lepaskan!! Kita emang udah baikan, tapi bukan berarti aku bisa seakrab dulu," jawabku dengan melepaskan tanganku dari tangan Jauzan.


Aku lalu pergi meninggalkannya dan balik ke ruangan kerjaku. Setelah pekerjaan siap, aku menemui Aldi. Karena hari ini Kevin tidak ada, aku bisa pulang lebih awal.


"Sayang, yuk kita pulang sekarang...," lirihku.


"Tumben cepat, sayang. Emangnya Kevin gak di kantor, ya?" tanya Aldi dengan penasaran.


"Baik, jadi sore kita bisa berkunjung ke rumah Pamanku, sayang," ungkap Aldi. "Mau kan?"


Aku pun mengangguk. Akhirnya, Aldi mengantarkanku pulang ke rumah. Aldi menungguku bersiap-siap untuk segera berkunjung ke rumah Paman dan keluarganya yang lain. Kami pun berjalan menuju rumah Pamannya. Sampai di depan teras rumah, seperti tak asing dengan rumah itu.


"Loh, kok ke rumah Fira?" tanyaku dengan wajah cemberut.


"Gak apa-apa sayang, bentar doang kok, janji deh," jawab Aldi dengan tersenyum. "Kamu jangan cemberut dong, jelek tau sayang."


Aku pun masuk ke dalam untuk menyalami orangtua dari Fira. Walaupun mereka tidak suka terhadapku, aku tetap memberikan senyuman dari bibirku ini. Saat aku hendak pulang, aku menjatuhkan buku diary dari tas yang kubawa.

__ADS_1


"Ke mana buku diaryku? Perasaan tadi masih ada di dalam tas," gumamku sambil mencari diary itu.


"Kamu cari ini, kan?" tanya Fira yang tiba-tiba muncul dihadapanku. "My Diary." Fira menunjukkan diary itu ke wajahku.


"Ka.. kamu dapat dari mana, Fir? Tolong kembalikan..." lirihku dengan sedikit memohon.


Fira melemparkan diary itu ke kolam depan rumahnya dengan senyuman kebencian terhadapku.


"Tuh, silahkan ambil!!" bentaknya lalu Fira pergi meninggalkanku.


"Tega sekali kamu Fira, diary itu udah aku siapin untuk Aldi," gumamku sambil masuk ke dalam kolam itu untuk mengambil diary yang Fira lempar.


Aku berlari ke arah kolam untuk mengambil diary itu. Air mataku menetes, betapa jahatnya Fira kepadaku. Diary itu berisikan tentang kisah percintaanku dari awal hingga detik ini bersama Aldi. Padahal, aku ingin memberikannya ke Aldi hari ini. Tapi, semua gagal, diary itu basah tak dapat terbaca tulisannya. Tiba-tiba Aldi datang menghampiriku.


"Sayang, kenapa baju kamu basah gini?" tanya Aldi agak panik.


"Aku udah lama nyiapin ini untuk kamu. Tapi sia-sia semuanya, semua cerita kita ada didalam diary ini dan sekarang gak bisa terbaca lagi," jawabku sambil meneteskan air mata.


"Sayang, udah jangan nangis. Aku akan tetap terima diary itu. Pasti bisa terbaca, kok...," lirih Aldi.


Aldi pun mengambil diary itu dari tanganku lalu memelukku. Aku bersyukur mempunyai lelaki sepertimu Aldi, orang yang begitu tulus menyayangi dan menerimaku apa apadanya.

__ADS_1


__ADS_2