KITA

KITA
Episode 27


__ADS_3

Setelah Gina mengakui hal itu, aku pun tenang dalam bekerja. Jam menujukan pukul 16.00 WIB, pekerjaanku telah siap. Saat itu, Aldi tengah keluar bersama Kevin, karena ada urusan yang harus diselesaikan. Aku mengambil ponsel lalu menelepon Aldi untuk segera menjemputku. Aku pun berjalan ke parkiran dan menunggunya. Tak lama kemudian, Aldi pun datang menjemputku.


"Maaf lama, sayang," ucap Aldi.


"Enggak, belum lama kok sayang," jawabku dengan senyuman. "Yuk pulang."


"Hari ini kuliah kan?" tanya Aldi. "Aku antar kamu ya."


"Ya, hari ini kuliah sayang. Kemungkinan pulang agak lama," jawabku sambil menaiki sepeda motor Aldi.


Aldi pun mengantarkanku pulang. Setibanya di rumah, Aldi menungguku bersiap-siap untuk ke kampus. Hari ini Aldi tidak sibuk, jadi dia bisa mengantarkanku ke kampus. Sesampainya di kampus, aku melihat Tari dan Nicko sedang menunggu kedatanganku di pintu gerbang kampus. Aku langsung menghampiri mereka yang tengah asyik bercerita.


"Hei, Tari, Bang Nicko!!" sapaku "Kalian gak kangen ya sama aku?".


"Ya kangenlah," ucap Nicko dan Tari serentak.


"Gimana dengan pekerjaanmu?" tanya Tari.


"Baik-baik aja. Eh tapi, Gina selama seminggu ini neror aku. Untung Kevin tau, jadi dia udah dipindahin ke kantor lain," tuturku dengan raut wajah kesal.


"Emang ya si Gina, gak kapok," ucap Tari. "Masalah apa lagi Gina neror kamu, Vi?".

__ADS_1


"Biasa, cemburu sama aku dan Aldi. Diam-diam dia merencanakan hal jahat, sampai-sampai pernah mau nabrak aku," tuturku. "Tapi sekarang aman, Gina udah pindah kantor."


"Ya udah, yuk masuk!!" ajak Tari. "Sebentar lagi dosen datang."


Akhirnya aku dan Tari pun masuk kelas. Sedangkan Nicko yang beda semester menunggu aku dan Tari di kantin, hari ini Nicko tidak masuk kelas. Dikarenakan dosen tidak hadir. Nicko yang dulunya memiliki rasa kepadaku kini menjadi sahabat dan sudahku anggap seperti Abang kandung. Setelah selesai jam mata kuliah, aku dan Tari pun menuju kantin untuk bertemu Nicko.


"Bang Nicko!!" sapaku. "Lama gak nunggu?"


"Enggak kok, lagian kan ada gebetan. Jadi gak kerasa lama nunggu kalian belajar," ucap Nicko sambil tertawa kecil.


Saat asyik bercanda dengan mereka tiba-tiba ponselku berbunyi. Ternyata Ibu menelepon dan segera menyuruhku untuk pulang, karena mendadak Ayah masuk Rumah Sakit. Aku terdiam saat mendengar kabar tidak enak itu. Mataku berkaca-kaca, sesekali inginku tumpahkan air mata itu, namun tetap tertahan. Aku menelepon Aldi dan memberitahunya untuk tidak menjemputku. Lalu, aku pun memesan ojek online.


Tari dan Nicko terlihat heran dengan sikapku. yang tadinya ceria menjadi murung.


"Gak kenapa-kenapa kok," jawabku dengan beralasan. "Vio duluan ya, udah dijemput."


Ojek pun sudah menunggu di pintu gerbang kampus, aku pun berjalan ke arah luar. Lalu berangkat menuju Rumah Sakit untuk melihat kondisi Ayah. Tari dan Nicko merasa ada hal yang aku sembunyikan dari mereka. Setibanya di Rumah Sakit aku menghampiri Ibu yang sudah menunggu di parkiran.


"Ayah kenapa, Bu?" tanyaku dengan raut wajah sedih. "Gimana keadaan Ayah?"


"Udah, kamu nanti tau sendiri, Nak," jawab Ibu dengan mata berkaca-kaca. "Kita ke dalam aja ya biar enak Ibu menjelaskan."

__ADS_1


Sesampainya di dalam ruangan itu, Ibu lalu memperlihatkan kertas hasil pemeriksaan Ayah. Ternyata Ayah diagnosa penyakit kanker dan harus segera dioperasi. Setelah aku melihat hasil itu, tiba-tiba perawat datang memeriksa Ayah dan memberikan selembar kertas total biaya untuk operasi besok. Ibu terdiam saat membaca selembar kertas itu.


"Bu, kenapa, Bu?" lirihku. "Ayah bisa sembuhkan?"


"Bisa, Nak. Kemana Ibu harus mencari uang sebanyak ini, Vio," ucap Ibu sambil memelukku.


Aku membaca total biaya yang dibutuhkan untuk operasi Ayah sekitar sepuluh juta rupiah. Aku memeluk Ibu dan menenangkannya.


"Ibu, Vio akan berusaha untuk biaya operasi Ayah," jawabku. "Ibu di sini aja ya jagain Ayah. Vio pergi dulu."


Aku pun keluar dari ruangan itu. Tetesan air mata tak mampuku bendung lagi melihat Ayah terbaring di Rumah Sakit. Aku bingung, ke mana akan kucari uang sebanyak itu. Aku bekerja baru saja seminggu. Lalu, aku mengambil ponsel dan segeran menelepon Aldi. Aldi yang mendengarku nangis tersedu-sedu pun tersentak kaget. Aldi khawatir terhadapku. Akhirnya, Aldi menemuiku di Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit, Aldi menghampiriku yang sedang menunggunya.


"Vi, kenapa?" tanya Aldi dengan penasaran. "Siapa yang sakit? Kenapa kamu gak cerita?".


"Ayah sakit, Bang," jawabku sambil menangis. "Maaf sayang, Vio gak ngomong tadi."


Aldi pun berusaha menenangkanku. Setelah beberapa menit, aku pun mulai bercerita kepada Aldi tentang penyakit Ayah. Aldi yang mendengarnya langsung tersentak kaget dan tetap meyakinkanku bahwa Ayah bisa sembuh. Lalu, aku mulai melanjutkan bercerita soal biaya operasi Ayah.


"Kamu harus yakin, sayang. Ayah pasti sembuh," ucap Aldi menyemangatiku.


"Vio harus mencari uang sepuluh juta untuk biaya operasi, Bang," tuturku dengan wajah sedih. "Uang segitu ke mana mau dicari. Kerja juga baru seminggu."

__ADS_1


"Nanti kita bahas sama Nicko, Tari dan Kevin. Mereka pasti akan bantuin kamu. Percayalah!" ucap Aldi sambil memelukku.


__ADS_2