KITA

KITA
Episode 11


__ADS_3

Setelah masalah kemarin selesai, aku dan Aldi masih tetap tak terpisahkan. Bahkan, sejak Aldi pindah kerja balik kesini melebihi Romeo dan Juliet. Kemana - mana berdua, makan disuapin, pokoknya apa yang aku minta Aldi selalu nurutin. Hari ini aku minta Aldi yang mengantarkanku kuliah. Aku pun menunggunya di teras rumah. Tak lama kemudian, Aldi datang.


"Sayang, lama kamu nunggu tadi?" tanya Aldi.


"Enggak kok, baru aja keluar ni nungguin kamu," jawabku.


"Mau berangkat sekarang atau gimana?" tanya Aldi lagi.


"Bentar lagi deh sayang, kamu udah sarapan?" tanyaku.


"Belum, gak sempat tadi sayang. Buru - buru, takutnya kamu telat," jawab Aldi.


"Tuh kan, kok kamu sekarang yang suka telat makan. Kamu makan ya, aku suapin," ujarku sambil tersenyum.


"Beneran?" tanya Aldi dengan semangat.


"Sebentar ya, kebetulan aku tadi masak nasi goreng ada lebih. Kamu masuk aja dulu," jawab ku.


Akhirnya Aldi masuk dan menunggu aku mengambilkan sarapan.


"Nih sayang, kamu harus cobain masakan buatanku," ucapku.


"Pasti enak kan, jadi makin sayang sama Vio," ucap Aldi.


Sedikit agak lebay, tapi itulah yang dirasakan kalau sedang jatuh cinta. Tidak peduli mau dibilang lebay, yang penting selalu berdua bersama pasangan tanpa ada yang mengganggu. Aku pun menyuapkan Aldi, begitu pula sebaliknya.


"Kamu harus makan yang banyak, biar kuat kerjanya. Biar gak sakit, nanti kalau sakit gak ada yang nemani aku," ucapku.


Setelah aku menyuapi Aldi, aku pun melanjutkan untuk berangkat kuliah. Aldi yang mengantarkan ku.


"Hari ini serasa dunia milik berdua. Hahahah," ucapku sambil tertawa.


"Ya, gak apalah sayang. Yuk, pegang pinggangku ya. Ntar Abang berubah jadi pembalap," jawab Aldi.


Sesampainya di kampus. Tari menghampiriku.


"Cieee, udah kayak Romeo dan Juliet," ujar Tari.


"Ya, hari ini pokoknya dunia serasa milik berdua, Tar" jawabku.


Aldi pun menitipkan pesan ke Tari.


"Tari, kamu jagain Vio ya, kalau ada apa - apa kabari," ucap Aldi.


"Aman tu, Bang," jawab Tari.


Aku dan Tari pun bergegas masuk ke kelas.Tiba - tiba saja Bunga menghampiri.

__ADS_1


"Hei Vio!!!" sapa Bunga.


"Eh, Kak Bunga. Ada apa Kak? Aku gak ada dekat - dekat Bang Nicko. Jangan marahi aku lagi Kak," ucapku.


"Ya ampun, siapa juga yang mau nanyai Nicko. Gak penting tau," jawab Bunga.


"Terus kenapa? Kok tumben Kak Bunga gini. Biasanya marah - marah kalau jumpa Vio," tanyaku dengan penasaran.


"Kakak mau minta maaf sama kamu, Vio," jawab Bunga.


"Maaf karena apa Kak? Kakak gak ada salah," tanya ku.


"Maaf selama ini selalu nuduh kamu, marahi kamu. Padahal kamu itu baik. Kakak udah move on, Kakak udah nemu yang pasti dan sayang sama Kakak," jawab Bunga.


"Wah, baguslah Kak. Vio ikutan senang," ucapku.


"Oh ya, ini undangan Kakak. Kamu datang ya. Tari juga," ujar Bunga sambil memberikan undangan.


"Alhamdulillah, selamat ya Kak Bunga," ucap Tari.


Aku dan Tari pun melanjutkan ke kelas.


Hari ini jadwal mata kuliah tidak banyak. Aku berdiskusi dengan Tari sampai akhirnya mata kuliah pun selesai, kami segera keluar dari kelas.


"Tar, ntar malam keluar yuk. Sekalian beli kado buat nikahan Kak Bunga," ajakku.


"Yuk, aku bawa ikanku ya. Hahaha," jawab Tari sambil tertawa.


"Ya, aku tungguin nih," kata Tari.


Tak lama kemudian Aldi datang menjemput ku. Aku segera menghampirinya. Tari pun pulang.


"Lama gak sayang nunggunya?" tanya Aldi.


"Gak kok, gak nyampai 1 jam sayang. Yuk, jalan," jawabku.


"Hei, kamu gak jadi bucin lagi?" tanya Aldi


"Masih, sabar sayang sabar. Lagi pemanasan," jawabku.


"Pemanasan? Kompor kali yang panas sayang," ucap Aldi.


"Kamu tau gak sakit apa yang paling susah diobati?" tanyaku ke Aldi.


"Sakit hat," jawab Aldi dengan cepat.


"Salah" ucapku.

__ADS_1


"Apa dong jawabanya?" tanya Aldi.


"Sakitnya merindukan kamu sayang. Obatnya ya kamu. Kalau orang lain gak akan sembuh" jawabku.


"So sweet, udah pintar gombalin pacarnya nih," ujar Aldi.


"Oh ya, nanti malam jalan ya sayang. Mau cari kado buat nikahan senior," ucapku.


"Oke sayang, jam 7 malam udah sampai Abang di rumah kamu," jawab Aldi.


Begitu sampai rumah Aldi langsung berpamitan. Karena Aldi harus melanjutkan kerjaannya. Aku pun segera masuk ke dalam rumah lalu melanjutkan untuk makan siang.


Jam menujukan pukul 16.00 WIB aku pun bergegas untuk mandi lalu bersiap - siap. Aku segera menghubungi Tari untuk memberi tau jam berapa akan berangkat.


Jam menujukan pukul 19.00 WIB, Aldi dan Tari pun sampai di rumahku. Kami pun langsung berangkat.


"Tar, ini ikannya? Hahaha " tanyaku sambil tertawa.


"Vio, jangan terlalu polos gitu ngomongnya. Kebiasaan nih," jawab Tari dengan sedikit malu.


"Eh, ke toko ini aja yuk cari kadonya," ajakku.


"Nanti selesai nyari kado kita makan - makan dulu ya," ujar Tari.


Setelah aku dan Tari mencari kado, kami pun melanjutkan untuk makan. Dan selesai makan, Tari pun pulang.


"Sayang, mau langsung pulang atau lanjut jalan?" tanya Aldi.


"Pulang aja yuk, ngobrol - ngobrol di rumah" jawabku.


Sampai di rumah, aku dan Aldi duduk di teras rumah. Dan kami pun bercerita.


"Sayang, kamu kapan nyusul?" tanya Aldi.


"Nyusul apa nih? Nikah? Tergantung calonku, kapan dia dan keluarga ke rumah," jawabku.


"Serius? Kamu mau?" tanya Aldi lagi.


"Ya sayang, nanti kita akan bahas itu lagi. Kamu betulan mau nikah sama aku? Bukannya sepupu mu tidak suka?" tanyaku.


"Ya tentu lah sayang. Mereka gak suka bukan urusan kita, mereka cuma sepupu bukan orang tua ku. Biar mau ngomong apa," jawab Aldi.


"Aku cuma gak mau buat kamu malu nantinya, kamu tau kan. Aku memang jauh kalah dari fisik," lirihku.


"Cinta gak selalu soal fisik sayang. Kamu tau, rupa bisa dirubah jika kita punya uang, tapi hati sulit di rubah. Cantik itu relatif sayang. Udah jangan sedih. Sini aku kasih hadiah," jawab Aldi dengan menyemangatiku.


Aldi menggenggam tangan ku dan mengecup keningku, aku pun tersenyum. Aldi adalah orang yang benar - benar mampu buat aku bersemangat. Lalu Aldi memelukku, rasanya begitu nyaman saat Aldi memelukku.

__ADS_1


Boleh gak sih, gini aja. Jangan dilepas. Kamu selalu aja buat hatiku yang tadinya sedih tidak karuan, kini jadi semangat. Aldi, tetaplah bersamaku. Walaupun banyak rintangab yang kita lewati. Aku percaya, kita bisa berjuang bersama.


Karena hari sudah malam, Aldi pun berpamitan pulang. Aku pun segera masuk ke dalam rumah dan seperti biasa, cuci tangan, kaki, lalu tidur.


__ADS_2