KITA

KITA
Episode 38


__ADS_3

Hari ini, aku dan Aldi akan pergi mencari cincin tunangan. Aku begitu bersemangat, karena besok adalah hari pertunanganku. Bagaimana aku tidak bahagia, hubungan yang sudah kujalani setahun ini tidak sia-sia. Aku bergegas untuk bersiap-siap, karena Aldi akan datang menjemputku.


Tit.. tit..


Suara klakson sepeda motor terdengar dari teras rumah. Aku bisa menebak, bahwa itu adalah suara motor Aldi yang baru saja sampai. Aku pun berjalan sambil berkhayal memperagakan pengantin yang akan menjumpai pasangannya. Begitu aku membuka pintu, ternyata yang datang bukan Aldi, melainkan Jauzan ia adalah mantan pacarku yang paling sulit aku lupakan. Tapi semenjak mengenal Aldi, aku berhasil melupakannya.


Dia? Kenapa dia yang muncul. Apa aku sedang bermimpi?


Aku menampar pelan pipiku.


Plak..


"Duh, sakit..." lirihku sambil memegang dan mengelus kedua pipi.


"Kamu kenapa, Vio?" tanya Jauzan khawatir.

__ADS_1


Jauzan berjalan mendaktiku yang sedang berdiri di depan pintu. Jantungku berdebar, aku berusaha mengatur nafas. Ia semakin dekat denganku, hingga akhirnya berdiri dihadapanku.


"Viona, kamu masih ingat, kan sama aku?" tanyanya dengan menatap kedua mataku.


"Kamu Jauzan, kan? Ada perlu apa ke sini? Bukannya kamu sudah pindah ke luar kota? Aku tak ingin melihatmu lagi," tuturku sambil mengalihkan pandangan agar aku tak mengingat semua masa lalu itu.


"Udahlah Vi, lupain semuanya. Kita buka lembaran baru. Aku masih sayang sama kamu, Viona Rinata," ucap Jauzan dengan begitu serius.


"Maaf, Jauzan Adrian. Aku gak bisa lama-lama ngobrol sama kamu," jawabku sambil membalikkan badan untuk masuk ke dalam rumah. "Aku harus pergi bersama calon tunanganku, mending kamu sekarang pulang. Aku gak mau nanti jadi salah paham."


"Kamu mau tunangan? Gak mungkin, aku tau kamu hanya berpura-pura, kan?" tanyanya. "Vio... Aarrggghhh!!"


"Kenapa? Kenapa disaat seperti ini kamu muncul Zan. Aku bersusah payah melupakanmu, sekarang aku harus melihatmu lagi," gumamku sambil meneteskan air mata.


Tak lama kemudian, terdengar suara Aldi mengetuk pintu rumah. Aku segera menghapus air mataku dan kembali merapikan rambutku yang acak-acakan. Aku pun segera membukakan pintu. Aldi tersenyum kepadaku.

__ADS_1


"Maaf, ya sayang aku telat datangnya. Kamu udah lama nunggu, ya?" tanya Aldi.


"Gak apa-apa sayang. Yuk, kita pergi sekarang," jawabku dengan senyuman.


Aku dan Aldi segera pergi menuju toko mas untuk mencari cincin tunangan. Aldi meminta petugas toko memilihkan yang paling bagus untukku. Saat itu, Aldi meminta aku memcobanya dijari manisku, betapa terharunya hatiku. Sudah setahun aku dan Aldi melalui suka dan duka bersama. Tidak mudah memang, tapi aku selalu heran, kenapa segala kesulitan itu tak mengapa, asal aku selalu bersama Aldi. Mengarungi derasnya waktu, akhirnya cincin ini akan menjadi pengikat untuk aku dan Aldi menuju jenjang pernikahan.


"Ada nama yang selalu tertulis di dalam hati, namun, belum tentu tertulis di atas buku nikah. Dan aku ingin namamu tertulis dikeduanya, Viona..." lirih Aldi.


Sungguh, ini hal yang paling membuatku berbedebar. Saat menatap mata indahmu Aldi. Aku berharap, Jauzan tak mengganggu kehidupanku lagi. Terlalu sakit mengingat seorang penghianat seperti dia.


"Terima kasih sayang, aku bahagia bersamamu," balasku dengan senyuman.


Akhirnya, aku dan Aldi pun pulang. Aku harus merapikan rumah untuk acara pertunangan besok. Sesampainya di rumah, aku melihat Fira bersama Abang kandungnya yang bernama Fadil sedang duduk di teras rumah. Sepertinya, mereka sedang menunggu kepulangan aku dan Aldi. Mereka pun menghampiri kami yang baru saja tiba di depan rumah.


"Hei Bang Aldi, Kak Viona," sapa Fira dengan senyuman palsu. "Selamat ya, kalian berdua bakalan tunangan. Aku dan Bang Faldi ikutan senang, ya kan Bang." Fira menyenggol tubuh Faldi.

__ADS_1


"Oh, tentu senang..." lirihnya.


Fira dan Fadil pun bergegas pulang, mereka datang cuma berpura-pura memberi ucapan selamat. Memang sungguh munafik, dihadapanku mereka mengancam, tapi dihadapan Aldi mereka mendukung.


__ADS_2