
Hari ini aku berangkat kerja sendirian, karena Aldi sedikit terlambat. Begitu sampai kantor, tamu meeting Kevin sudah pada berdatangan. Aku bergegas untuk masuk ke ruangan kerjaku mengambil berkas yang sudah disiapkan semalam. Kevin pun menghampiriku, ia memintaku untuk ikut ke ruangannya.
"Viona, kemungkinan meeting saya agak lama. Jadi kamu bisa nyantai hari ini," ucap Kevin sambil menyodorkan amplop ke arahku. "Oh ya, ini saya titipkan amplop Aldi ke kamu. Bilang saja ini sebagai ucapan terima kasih saya, berkat dia perusahaan ini makin maju."
"Baik, Pak. Nanti saya sampaikan ke Aldi, Pak. Terima kasih, Pak, saya permisi," jawabku.
Akhirnya hari ini aku bisa bersantai, aku pun berjalan menuju tempat Aldi bekerja yang tak jauh dari kantorku, mungkin hanya membutuhkan waktu tiga menit jika berjalan kaki untuk sampai ke sana. Dikejauhan, aku melihat Aldi masih sibuk mengobrol dengan teman kerjanya. Aku pun menunggunya di pos tempat ia beristirahat. Terik matahari sangat menusuk ketubuhku, dahagaku mulai teriak kehausan. Aku pun berniat untuk ke kantin yang letaknya tak jauh dari sini. Belum sempat aku berdiri, Aldi menghampiriku dengan membawakan minuman dingin. Aku tersenyum, Aldi tahu saja apa yang sedang aku inginkan.
"Ini sayang, kamu pasti haus," ucap Aldi sambil memberikanku minuman dari tangannya.
"Kamu tahu aja, sayang. Makasih ya," jawabku dengan senyuman. Aku lalu menyodorkan amplop yang Kevin titipkan. "Eh, tadi Pak Kevin ada nitipin ini, katanya sebagai ucapan terima kasih gitu, berkat kamu perusahaannya jadi maju."
Setelah hampir setengah jam aku dan Aldi mengobrol, kami pun bergegas ke kantin untuk makan siang. Aku mulai membuka obrolan tentang Fira. Walaupun itu hanya sia-sia tapi aku lega sudah menceritakan semua yang aku rasakan. Aldi selalu tidak percaya dengan perbuatan Fira selama ini terhadapku.
__ADS_1
"Sayang, terserah kamu mau percaya apa enggak. Fira itu selama ini jahat sama aku. Dia bilang ke kamu setuju dengan pertunangan kita, tapi dibelakang kamu dia ngancam aku," ucapku sambil menunjukan SMS diponsel.
"Maksdunya apa sayang? Ngancam apa?" tanya Aldi dengan bingung.
"Teror semalam itu dari Fira, tolong percaya kali ini aja sayang..." lirihku.
"Udahlah sayang, kita mau tunangan jadi gak usah mikir yang aneh-aneh. Udah fokus aja sama hubungan kita, ya, ungkap Aldi sambil menggenggam tanganku. "Kita akan tetap tunangan bahkan menikah."
Mendengar ucapan Aldi membuat semua masalah yang ada dipikiranku seketika hilang. Aku beruntung mendapatkan lelaki sepertinya. Bagaimana tidak, ia mau berkorban untukku, bahkan ia siap dikucilkan keluarganya hanya karena menikahiku. Setelah siap makan siang, aku dan Aldi kembali ke pekerjaan masing-masing. Ternyata Kevin belum juga selesai meeting, aku pun meninggalkan ruanganku, lalu bergegas ke lapangan tempat Aldi bekerja. Aku mendengar seperti suara perempuan dari parkiran, suara itu seperti tak asing bagiku. Aku penasaran untuk mendekat kearah sumber suara. Ternyata Fira sedang bersama seorang perempuan yang tidak aku kenali, ntah apa yang mereka bahas. Fira memberikan sesuatu ke orang asing itu. Kecurigaanku semakin bertambah.
Setelah mendapatkan bukti berupa foto, aku pergi menghampiri Aldi. Aku menceritakan apa yang baru saja kulihat. Aldi masih tidak percaya, aku pun menunjukan foto mereka. Aldi terkejut saat melihat foto itu, ternyata orang asing itu adalah mantan Aldi.
"Sayang, kamu masih gak percaya?" tanyaku sambil memunjukan foto diponsel yang kugenggam. "Aku lihat Fira sama cewek itu. Ayolah, mereka ini pasti ada apa-apanya."
__ADS_1
Aldi mematung, ia seperti memikirkan apa yang Fira lakukan di sini bersama mantannya pula. Aku pun menggoyang-goyangkan badan Aldi agar ia menjawab pertanyaanku.
"Sayang, cewek yang sama Fira itu mantanku. Namanya Kinara, dan memang Fira sama Nara itu akrab. Ya ampun kenapa jadi gini," tutur Aldi sambil memegang kepala.
Oke, aku mengerti sekarang. Fira sama Nara kerjasama untuk membatalkan pertunanganku.
"Terus kita harus ngapain seka...."
Belum selesai aku menanyakan hal itu ke Aldi, ia langsung menarik tanganku untuk mencari keberadaan Fira dan Kinara. Terlambat, mereka sudah pergi. Jam menujukan pukul 16.00 WIB, aku dan Aldi pun bergegas untuk pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung berangkat ke kampus. Aku menceritakan masalah pertunanganku ke Tari dan Nicko. Mereka senang mendengar berita bahagia itu. Tapi dibalik itu semua, ada permasalahan yang membuatku jadi gelisah.
"Tapi, ada penghalang yang ingin merusak pertunanganku guys," ucapku dengan wajah sedih.
"Maksud kamu, Vio?" tanya mereka serentak.
__ADS_1
"Mantan Aldi sama sepupunya menyuruhku untuk membatalkan pertunangan itu...," lirihku.
Mendengar hal itu, Nicko dan Tari tetap menguatkanku dan tetap menyuruhku untuk melanjutkan acara pertunangan itu.