KITA

KITA
Episode 21


__ADS_3

Hari ini, aku harus bisa memutuskan salah satu dari kedua pilihan yang diberi oleh Kevin. Pilihan yang membuat hatiku sedih.


Bagaimana tidak, disatu sisi jika aku memilih Aldi, maka Aldi akan dipecat. Dan jikaku memilih pekerjaan itu, aku harus menjauhi Aldi. Sakit, sedih, semua bercampur aduk menjadi satu dikepalaku. Ini bukan sebuah keberuntungan, melainkan kegelisahan pada satu arah. Lisanku tak mampu berucap, dimana pilihan akan ku jatuhkan.


Aku masih duduk diatas kasurku, sedang memikirkan situasi kedepan akan bagaimana.


Mungkin meninggalkanmu, adalah kesalahan besar bagiku Aldi. Tapi, karirmu, pekerjaanmu, itu lebih berarti. Lalu, aku berusaha untuk bangkit.


Aldi, aku sangat menyayangimu. Apa aku harus berkorban perasaan? Tapi, aku tak bisa. Dan jika aku tetap memilihmu, bagaimana dengan nasibmu.


Kring... kring...


Ponselku berbunyi, aku segera mengambil ponselku diatas meja. Kevin meneleponku. Aku bingung, harus jawab apa nantinya. Karena aku masih memikirkan apa yang akan aku katakan. Dengan hati yang tak karuan, aku langsung mengangkat teleponnya.


"Hallo...Viona, apa kamu bisa datang sekarang?" tanya Kevin.


"Bi.. bis.. bisa, Pak Kevin," jawabku dengan gugup.


"Baiklah, saya tinggu di ruangan saya," ujar Kevin.


Kevin langsung mematikan telepon itu. Aku berdiri dan termenung. Apa yang harus ku katakan pada Kevin itu. Aku pun bergegas untuk bersiap - siap. Lalu, segera ku berangkat ke kantor Kevin. Sesuai dengan janjiku, aku harus memilih salah satu dari tawarannya itu. Hari ini, bukan Aldi yang mengantarkanku. Aku menaiki ojek dari rumahku ke kantor Kevin. Aku tidak ingin Aldi mendengar jawabanku ini.


Ini sangat tidak mungkin, ini cuma mimpikan? Apa yang aku lakukan ini sungguh menyiksa perasaanku.


Akhirnya sampai di depan kantor Kevin, aku berjalan kearah pintu masuk dengan badan yang gemetar. Lalu, terus menapaki kakiku kearah ruangan Kevin. Begitu sampai di depan pintu masuknya, aku memberhentikan langkah kakiku.


Ya, Tuhan. Tolonglah aku!!!!


Aku sangat dilema dengan pilihan ini. Semoga hari ini ada mukjizat.


Aku membuka pintu secara perlahan, ku dengar dari dalam ruangan itu ada suara Kevin sedang berbicara dengan karyawannya. Lalu aku pun masuk ke ruangan itu. Suasana begitu mencekam.

__ADS_1


"Masuklah!!" perintah Kevin.


"Baa.. baik Pak," jawabku gugup.


"Silahkan, kamu duduk dulu disini," ucap Kevin. "Apa kamu sudah siap dengan jawabanmu?"


Aku menggelengkan kepala.


"Kenapa tidak?" tanya Kevin. "Bukankah kamu menyayangi Aldi?" silahkan pilih dia, Viona!"


"Saya tidak akan membiarkan Aldi kehilangan pekerjaannya, Pak Kevin. Pokoknya, jangan pecat dia. Saya siap bekerja disini dan akan menjauhi Aldi," jawabku sambil menahan air mata agar tidak jatuh dipipiku.


Kevin memandangiku saja dari awal masuk ke ruangan ini, aku hanya menunduk. Saat ini, aku hanya bisa pasrah. Aku rela mengorbankan perasaan, asal Aldi bisa tetap kerja disini. Dan aku bisa tetap melanjutkan kuliahku. Aku berusaha untuk tersenyum dihadapan Kevin, tapi tidak bisa. Berapa kali kuulangi, tetap tidak bisa.


Perasaanku saat ini dilema, aku menyayangi Aldi, tapi Aldi lebih membutuhkan pekerjaan ini, demi masa depan Adik - Adiknya.


Kristal dipelupuk mata ini kutahan, agar tidak terjatuh mengenai pipi. Tapi, apalah daya. Perasaan dilema ini membuatku tak berdaya menahannya. Kevin masih terfokus memandangi sikapku yang gelisah. Aku tetap menunduk, tak inginku tatap matanya.


Semoga dengan keputusanku ini, Aldi tidak kecewa. Semua yang aku lakukan demi dirinya dan keluarganya.


"Apakah saya tidak salah dengar, Pak Kevin?" tanyaku spontan berdiri.


"Tidak!! tidak ada yang salah. Kamu adalah gadis yang tulus, rendah hati, dan cerdas," ucap Kevin. "Saya tidak ingin memecat Aldi, karena dia berprestasi di perusahaan ini".


"Pak Kevin, terima kasih banyak. Sudah mengizinkan Aldi untuk tetap disini," ucapku sambil menitikkan air mata.


Aku langsung menyalami Kevin dan bergegas pulang ke rumah dengan menaiki ojek. Aku sangat bahagia, ternyata Kevin berubah pikiran. Bagaimana tidak aku bahagia, aku diterima kerja, dan Aldi juga tidak dipecat oleh Managernya itu.


Sesampainya di rumah, aku langsung menelepon Aldi untuk datang ke rumah. Aku tidak memberi tau berita gembira ini padanya. Aku berjalan ke arah teras rumah. Sambil menunggu Aldi datang, aku memainkan ponselku. Setelah menunggu Aldi selama hampir 30 menit, akhirnya Aldi pun datang. Wajahnya begitu cemas dan tangannya dingin seperti es batu. Aldi tidak tau keputusan apa yang sudah kubuat.


"Kenapa kamu terlihat cemas gitu, sayang?" tanyaku. " Ada berita baik yang harus kamu dengar".

__ADS_1


"Ceritalah sayang, apa pilihanmu? Apa Kevin masih menerimamu kerja di sana?" tanya Aldi dengan raut wajah sedih.


"Sayang, kamu tau, aku sudah menjawab tawaran dari Pak Kevin, sayang," ucapku dengan senyuman.


"Kamu tidak memilih pekerjaan itu kan, sayang?" tanya Aldi. "Kenapa kamu senyum gitu? Seperti baru dapat undian aja."


"Sayang, kamu itu tidak jadi dipecat. Bahkan Kevin juga menerimaku untuk bekerja di sana," jawabku.


"Serius sayang?" tanya Aldi dengan semangat.


Aku menganggukkan kepala.


Wajah Aldi yang tadinya cemas, kini berubah menjadi ceria. Aldi tersenyum kepadaku, lalu aku membalas senyumnya.


Aku pun menceritakan kejadian yang barusan aku alami ke Aldi. Bagaimana bisa Kevin luluh, dan memberikan kesempatan untukku dan Aldi. Kevin tau bahwa aku sangat tulus menerima Aldi. Sampai - sampai Kevin tetap menerima Aldi bekerja di sana, dan melupakan tawaran yang ia berikan kepadaku. Tak terasa jam sudah menujukan pukul 17.00 WIB, Aldi pun permisi untuk pulang. Setelah Aldi pulang, aku langsung bergegas untuk mandi.


**


Keesokan harinya.


Kring... kring.. alarm ponselku berbunyi.


Suara kicauan burung juga ikut serta membangunkan tidurku. Aku mematikan alarm itu, lalu melihat jam diponselku. Jam menujukan pukul 06.00 WIB, aku segera bangkit dari kasurku. Lalu menyiapkan pakaian kerjaku.


Hari ini adalah hari pertamaku kerja. Aku sangat senang, akhirnya aku bisa melanjutkan kuliahku lagi. Aku bergegas untuk bersiap - siap berangkat. Aku menuju teras rumah sembari menunggu Aldi menjemputku. Tak lama kemudian, Aldi pun datang.


"Akhirnya aku bisa kerja dan yang pasti bisa kuliah lagi, sayang," kataku.


"Yuk, kita berangkat. Kita jadi sering jumpa, nih sayang," ujar Aldi.


"Aku jadi bisa mantau kamu, kalau ada apa - apa sama Gina. Hayooo.." ucapku dengan candaan.

__ADS_1


"Ya, enggaklah sayang. Aku udah janji sama diriku sendiri. Gak akan ulangi kesalahan itu lagi," jawab Aldi sambil tersenyum.


Aku dan Aldi pun berangkat menuju kantor. Sesampainya di parkiran, Aldi menuju ke lapangan, sementara aku harus ke kantor untuk membantu Kevin.


__ADS_2