KITA

KITA
Episode 30


__ADS_3

Hari ini kebetulan libur ngampus dan juga libur kerja. Aku memutuskan untuk mulai mengetik tulisan yang akan aku kirim ke kontes menulis itu. Aku melihat begitu banyak karya-karya orang yang begitu bagus. Sempat pesimis tidak akan mungkin bisa lolos. Tiba-tiba Aldi datang tanpa mengabariku.


"Sayang, kamu kenapa kok bengong?" tanya Aldi.


"Vio gak jadi ikutan lomba deh," jawabku. "Coba kamu lihat, pesertanya udah banyak yang daftar pada bagus semua karya mereka."


"Ya ampun, karya mereka bagus juga berawal seperti kamu, sayang. Kamu punya bakat, apa salahnya disalurkan. Menang atau kalah itu hal biasa," ucap Aldi menyemangatiku.


Aku mendengar ucapan Aldi yang awalnya lemah dan hampir membatalkan niatku untuk mengikuti kontes itu. Akhirnya, aku melanjutkan untuk mengetik. Sejam berlalu, akhirnya selesai. Lalu, aku terdiam. Keraguanku mulai datang lagi. Aldi pun mengambil laptop itu lalu mengirimkan tulisan itu.


"Ih, sayang, kok kamu kirim," lirihku dengan wajah cemberut. "Aku malu hasilnya tidak sebagus mereka itu."


"Jangan bandingkan karyamu dan karya mereka. Kamu harus bangga dengan hasil kamu sendiri sayang,"

__ADS_1


Setelah selesai, Aldi mengajakku untuk pergi ke cafe tempat biasa kami nongkrong. Seperti biasa, Aldi hapal apa makanan dan minuman favoritku, begitu sampai ia langsung memesankan. Aku melihat Aldi gelisah, seperti ada hal yang disembunyikan. Ponselnya berbunyi, ia tidak mengangkat telepon itu. Dan masih terus berbunyi hingga aku kesal dan mengambil ponsel Aldi yang ia letakkan di atas meja.


"Siapa sih yang sibuk menelepon kamu?" tanyaku sambil mengambil ponsel Aldi. "Gina? Kamu masih nyimpan nomor Gina?"


"Masih nyimpan bukan berarti aku ada hubungan lagi sama Gina, sayang," jawab Aldi. "Dia emang ingin ngancurin hubungan kita. Gak kapok-kapok, blokir aja nomornya, sayang."


Lalu, aku memblokir nomor Gina diponsel Aldi. Aku memasang muka cemberut karena cemburu pasal Gina menelepon itu. Tiba-tiba Aldi menarik tanganku, aku tersontak kaget. Sepertinya Aldi ingin berbicara serius.


"Boleh, silahkan!!" jawabku mempersilahkan Aldi untuk berbicara. "Mau ngomong apa?"


"Kamu mau gak kalau aku lamar? Kita tunangan, sayang," ucap Aldi menatapku lebih dalam.


Hah? Serius Bang Aldi mau ngelamar? Mau tunangan? Ya ampun, aku barusan mimpi apa. Aku mau banget, tapi aku gugup mau jawab itu.

__ADS_1


"Sayang, kok bengong. Gimana jawaban kamu?" tanya Aldi sambil mencubit pipiku.


"Aku... aku... bingung mau jawab apa," jawabku dengan gugup. "Soalnya aku mau banget sayang."


Aldi pun menarik kedua tanganku, lalu ia mencium kedua tanganku itu. Jantungku mulai berdetak, semakin lama semakin kencang. Darahku mengalir lebih cepat dari ujung kaki hingga kepala. Ntah kenapa mendengar ucapan Aldi membuatku serasa terbang tinggi dan berasa sedang bermimpi. Aldi berjanji dalam seminggu ini, ia akan datang bersama keluarga besarnya untuk bertunangan denganku. Aku pun menganggukkan kepala.


Aldi mengantarkanku pulang dengan membawa kebahagiaan yang selama ini kutunggu. Akhirnya, aku dan Aldi akan segera bertunangan. Berharap, tidak ada yang menghalangi niat kami berdua untuk menuju keseriusan.


"Semoga niat ini membawa kita kejenjang pernikahan ya, Vio," ucap Aldi dengan senyuman.


"Aamiin, Vio seneng banget hari ini," tuturku dengan membalas senyum. "Vio juga berharap semoga keluarga Bang Aldi menyetujui hubungan kita."


Aldi pun mengecup keningku, lalu ia permisi untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2