KITA

KITA
Episode 9


__ADS_3

Keesokan harinya, Aldi mengabari ku, bahwa dia akan pulang. Mendengar itu, aku sangat senang. Karena hari ini Aldi pulang, aku berniat ingin memasakan makanan kesukaannya.


Semoga Aldi suka dengan masakanku.


Tak lama kemudian Ibu datang menghampiri ku. Dan Ibu bertanya "Tumben kamu pagi - pagi udah masak, Nak. Buat siapa?" tanya Ibu.


"Ya, Bu. Buat Aldi, hari ini dia pulang, Bu," jawabku sambil memotong sayuran.


Ibu pun pergi ke depan. Aku sibuk dengan


masakan yang ku buat. Tiba - tiba ponselku berbunyi.


Kring.. kring..


Aku segera mengambil ponselku, tenyata Tari menelepon. Aku pun mengangkat telepon itu.


"Hallo, Vio" sapa Tari kepadaku.


"Ya Tari. Ada apa?" tanyaku.


"Hari ini kan libur ngampus, aku ke rumahmu ya. Kita ngerjain tugas," jawab Tari.


"Oh, oke. Jam 10 pagi ini, ya," balasku.


"Oke, Vio. Kamu ada titip sesuatu gak? Kebetulan lagi diluar" tanya Tari.


"Hmm.. minuman kayak kemaren aja, Tar," jawabku.


Lalu aku menyelesaikan masakanku dan bergegas ke kamar untuk menyusun buku - buku yang diperlukan.


Ini adalah semester terakhir aku kuliah. Aku harus bisa mendapatkan hasil terbaik.


Lalu aku pun kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan, karena sebentar lagi Tari akan datang. Tak lama kemudian.


"Ngapain sih, Vio?" tanya Tari.


"Tumen cepat, Tar. Biasanya ngaret terus," jawabku.


"Ya, tadi aku lagi di luar jadi langsung kesini aja. Malas mau pulang ke rumah dulu. Oh ya, ni titipan mu, Vio," ucap Tari.


Kami pun menuju ke meja ruang tamu untuk mengerjakan tugas kuliah. Lalu ponselku berbunyi. Aldi meneleponku, dengan sigap kuangkat teleponnya dengan penuh rasa bahagia.


"Sayang, Abang udah mau sampai. Tapi, Abang pulang dulu ke rumah, ya," ucap Aldi kepadaku.

__ADS_1


"Oh, ya gak apa - apa. Kamu hati - hati di jalan," jawabku.


Telepon pun dimatikan. Aku melanjutkan untuk mengerjakan tugas. Tiba - tiba ponselku berbunyi lagi.


"Duh, siapa lagi sih ni. Nomor baru lagi, gak mungkin Aldi," ucapku dengan kesal.


"Kenapa, Vio?" tanya Tari.


"Ini ada yang meneleponku. Nomor baru gak tau siapa. Kamu kenal nomor ini?" tanyaku sambil melihatkan ponselku ke Tari.


"Gak tau, Vio," jawab Tari.


Lalu nomor itu mengirimkanku sebuah pesan yang berisi "Kamu angkat jika mau pacar mu selamat".


Aku kaget dan menunjukan pesan itu keTari.


"Ih, Tar. Dia SMS aku kayak gini. Perasaan aku gak enak. Gimana ni, Tar," ucapku sambil ketakutan.


"Nanti kamu angkat aja dulu, udah jangan takut," ucap Tari.


Lalu nomor itu kembali meneleponku. Aku segera mengangkatnya. Ternyata yang mengirim SMS itu adalah Nicko.


"Eh, diangkat juga," ucap Nicko.


"Kamu ni siapa, apa maksudnya kirim SMS kayak gitu?" tanyaku dengan nada marah.


"Kenapa kamu ketawa?" tanyaku.


"Aku Nicko, makanya jangan cuek. Setiap ditelepon, SMS, gak pernah dijawab," jawab Nicko.


"Terus kenapa ngancam gitu SMS kamu?" tanyaku lagi.


"Biar kamu mau angkat telepon aku," jawab Nicko.


"Eh, gak lucu ya. Aku paling gak suka dibuat bercandaan gini!" bentakku.


Setelah sekian lama aku dan Nicko bertengkar lewat telepon. Aku mematikan telepon itu.


"Emang ya si Nicko, ternyata dia yang kirim SMS tadi, Tar. Serius kesal aku," ucapku kepada Tari.


"Apa maksudnya coba dia kirim begituan? Iseng banget jadi orang," jawab Tari.


"Aku gak tau, Tar. Udahlah lagi sedih, semester depan aku gak bisa kuliah lagi. Ditambah lagi baca SMS tadi," lirihku dengan mata berkaca - kaca.

__ADS_1


"Loh, kenapa kamu gak kuliah lagi? Cerita dong, Vio," tanya Tari.


"Orang tua ku lagi susah, Tar. Jadi terpaksa aku berhenti dulu. Aku gak mau maksain orang tuaku, aku gak tega. Biarlah aku berusaha cari kerja dulu," jawabku.


"Kamu yang sabar ya, mungkin dibalik ini semua pasti ada jalannya," ucap Tar


Lalu, Tari memeluk dan menghiburku. Tari juga banyak berpesan kepadaku. Setelah 1 jam kami mengerjakan tugas kuliah, Tari pun pulang. Tak lama kemudian ponselku berbunyi, Aldi menelepon. Aku pun langsung mengangkat telepon itu.


"Oh, jadi gitu kamu ya. Dari tadi aku telepon nomor kamu sibuk terus. Ternyata, teleponan sama cowok lain. Bagus ya, Vio. Lanjutkan!!"


bentak Aldi.


"Apa maksud kamu? Kenapa membentakku?" tanyaku.


"Bukannya kamu lagi telepon dengan cowok bernama Nicko? Gak usah ngelak mau cari alasan. Nicko sendiri yang bilang ke aku, nih masih ada bukti chat yang dia kirim ke aku," tanya Aldi dengan jengkel.


"Ya, memang benar. Nicko menelepon aku. Tapi, sebelumnya aku gak angkat kok. Cuma, karena dia ngirim SMS ngancam aku, ya aku angkat dong telepon dari dia. Dia sengaja ngerjain aku supaya aku mau angkat teleponnya," jawabku dengan meyakinkan Aldi.


"Halah, kamu pintar ya beralasan. Basi tau alasan kamu. Gak ada alasan lain emangnya?" tanya Aldi.


"Gak masuk akal. Ya udah kita akhiri aja ya, mentang - mentang dia senior kamu terus kamu seenaknya aja dibelakang aku. Apalagi kita LDR gini" ucap Aldi.


Telepon pun langsung terputus. Aldi begitu marah denganku. Dia lebih percaya dengan Nicko dari pada pacarnya sendiri. Aku pun diam membisu dengan kejadian hari ini. Aku sempat meneteskan air mata saat Aldi membentak dan menuduhku.


Aku pun menuju dapur, lalu kubuang masakan yang kubuat itu ke tempat sampah.


Kenapa sih kamu lebih percaya si Nicko dari pada aku. Aku gak seburuk itu mau menduakan kamu Aldi. Aku masih sabar menunggu mu pulang. Kenapa saat kamu pulang semua jadi hancur.


Jam menjukan pukul 16.00 WIB. Aku bergegas ke kamar mengambil handuk dan pakaianku, lalu mandi. Aku akan pergi ke rumah Tari untuk mencari solusi masalah ini.


Setiba di rumah Tari, aku pun mengetok pintu rumahnya. Saat Tari membukakan pintu aku langsung memeluknya.


"Kamu kenapa, Vio? Kok nangis. Ada masalah apa?" tanya Tari.


"Tar, bantuin aku. Ini semua salah paham," jawabku sambil menangis.


"Salah paham apa, Vio? Aku gak ngerti," tanya Tari bingung.


"Ini semua kerjaan Nicko, Tar. Dia sengaja buat hancurin hubungan aku sama Aldi. Aldi mutusin aku cuma gara - gara pas aku angkat teleponnya Nicko dia juga nelepon aku. Jadi si Nicko yang ngechat Aldi bilang kalau aku tu selingkuh sama Nicko," jawabku.


"Ya udah, besok kita datangin si Nicko tu, dia harus minta maaf karena itu semua rekayasa dia," ucap Tari.


"Tapi kamu yang ngomong ya sama Nicko. Bantuin aku ngelurusin masalah ini," jawabku.

__ADS_1


"Aku selalu bantuin kamu kok, Vio. Udah ya jangan nangis. Aku tau kamu sedih. Padahal kamu kan gak ngelakuin itu," ucap Tari.


Jam menujukan pukul 17.00 WIB, aku pun pulang ke rumah. Malam harinya, Aldi mengirimi pesan via SMS, dia menanyakan tentang hubungan aku dengan Nicko. Aku tidak membalasnya. Aku pun lalu melanjutkan tidur.


__ADS_2