
1 minggu lagi memasuki perkuliahan semester 3, tetapi tidak untukku. Aku harus berhenti disemester ini, karena kendala ekonomi orang tuaku. Yang harus aku lakukan adalah bekerja untuk membantu Ibu dan Ayah. Hari ini aku mulai sibuk mencari pekerjaan, apa saja aku kerjakan asal halal.
Kali ini aku tidak akan sibuk untuk ngerjain tugas kuliah lagi, jarang bertemu Tari, Bang Nicko, dan yang lainnya. Aku akan sibuk dengan pekerjaanku mencari uang untuk biaya hari - hari di rumah ini. Aku harus semangat.
Aku mulai melangkahkan kaki berjalan ke teras rumah, lalu menaiki motorku. Belum sempat ku menyalakan motor, Aldi datang. Dia heran melihatku berpakaian rapi.
"Vi, mau ke mana? Mau ke kampus?" tanya Aldi begitu heran.
"Enggak, Bang. Vio mau cari kerja. Kalau tidak gimana Vio mau melanjutkan kuliah dan gimana nasib Ibu sama Ayah," jawabku.
"Abang temani, ya. Tolong kali ini jangan nolak," ajak Aldi kepadaku.
"Tapi kan kamu kerja hari ini, Bang," jawabku.
"Ya, gak apa - apa. Kita ke perusahaan tempat Abang kerja itu. Mana tau ada lowongan," balas Aldi.
Aku dan Aldi pun segera berangkat ke sana. Semoga saja harapanku sesuai dengan kenyataan. Perjalanan yang ditempuh sekitar 5 menit dari rumahku.
Akhirnya sampai juga, ya ampun besar banget perusahaannya. Apa mereka mau menerima karyawan sepertiku ini. Ah, sudahlah jangan patah semangat.
Aldi memarkirkan motornya. Kemudian mengajakku ke dalam untuk menemui managernya. Aldi membuka pintu. Lalu, aku dan Aldi segera masuk ke dalam ruangan managernya.
"Pak, saya boleh bicara sebentar," ucap Aldi.
Ketika Kevin membalikkan badannya, aku terkejut. Ternyata dialah Kevin yang selama ini datang ke rumahku, yang selalu ku tolak kedatangannya.
Hah? Dia kan Kevin, yang mengantarkan ku pulang saat aku jatuh dari motor. Dan dia juga sering ke rumah memberi bingkisan. Apa ini mimpi? Hei, Vio. Ayo bangun dari tidurmu.
"Vio, kenapa kamu di sini?" tanya Kevin kepadaku.
"Tidak apa - apa, Pak. Saya cuma ingin mencari pekerjaan di sini," balasku.
"Kamu mau kerja? Bukannya kamu harus kuliah?" tanya Kevin.
__ADS_1
"Ya, Pak. Tapi keluarga saya sedang kesulitan ekonomi. Jadi, saya harus berhenti dahulu," jawabku.
Kevin bingung mau menjawab apa. Dia hanya termenung melihatku. Aku pun permisi untuk keluar dari ruangannya. Aldi pun penasaran saat Kevin tau namaku.
"Kamu kenal, Vi dengan managerku?" bisik Aldi ditelingaku.
"Nantiku jelaskan diluar," lirihku.
Sesampainya di parkiran Aldi masih penasaran dan terus melontarkan pertanyaan yang sama. Aldi mengantarkanku pulang.
Kenapa harus ketemu lagi dengan lelaki itu sih, manager Aldi pula. Duh, kalau aku diterima kerja di sana, aku bakal tiap hari jumpa dengan dia. Itu tidak membuat aku tenang. Tapi, disisi lain aku butuh pekerjaan. Arrrgghhhh aku tak tau apa yang akan terjadi.
Akhirnya sampai di rumah, aku pun akan menceritakan soal Kevin tadi pada Aldi.
"Jadi gini, Kevin itu pernah nolong aku pas jatuh dari motor terus dia ngantarin aku pulang. Ya, mana aku tau kalau dia itu manager kamu," ucapku ke Aldi.
"Dia kaya, punya segalanya. Apa kamu suka dengannya?" tanya Aldi.
"Ngaco kamu!!!" balasku.
Lagi - lagi Aldi membahas soal hubungan, aku pun mengalihkan pembicaraannya.
"Sebentar, aku ambilin kamu minum. Jangan kemana - mana," ucapku.
"Apa kamu tidak rindu dengan kebersamaan kita yang dulu, Vi?" tanya Aldi.
Aku rindu, sangat rindu. Kalau boleh aku ingin peluk kamu, Al. Jujur, aku masih menyayangimu, Al. Tapi, apa kamu tau luka dihatiku belum sembuh.
"Susah untuk dijelasin, udah nanti bahas itu. Udah jam kerja ini nanti kamu telat," balasku.
Lalu, Aldi pun pergi. Suasana hatiku tak karuan, sebenarnya hatiku ini masih ingin bersamanya. Banyak kenangan manis yang sulit dilupakan.
Seperti yang Ibu bilang, hidup ini penuh cobaan, lika - liku. Apa sampai disini saja perjuanganku. Aku harus bisa bangkit, harus bisa melawan egoisku, aku pasti bisa memulai semuanya kembali bersama Aldi dan aku pasti bisa melanjutkan kuliahku.
__ADS_1
Aku pun mengambil ponselku, lalu menghubungi Tari. Aku menyuruhnya untuk datang ke rumah. Selain Ibu, Tari adalah teman curhatku selama ini. Dia yang membantuku menyelesaikan semua permasalahan. Tiba - tiba terdengar suara klakson motor, ternyata Tari dan Nicko.
"Eh, Bang Nicko juga ikut. Sini yuk duduk guys!!" ajakku.
"Mau curhat apa, Vi?" tanya Tari kepadaku.
"Gini guys, aku udah nyari kerjaan. Terus Aldi bawa aku ke perusahaannya. Ketemu tuh sama managernya. Dan kebetulan aku kenal sama managernya. Tapi, disisi lain, aku tu risih kalau aku diterima kerja disana. Managernya itu suka banget deket - deket aku. Ya kan aku gak suka," jawabku dengan raut wajah sedih.
"Yang kemarin ke rumahmu itu ya, Vi? Yang bawa mobil mewah, tinggi, ganteng, wangi lagi?" tanya Tari.
"Ya, Tar. Yang itu. Kasihan orang tuaku lagi susah, aku perlu banget pekerjaan," jawabku.
"Yaudah, dicoba dulu, Vi. Kan ada Aldi yang jagain kamu disana," balas Nicko.
Akhirnya Tari dan Nicko pun pulang. Tak lama kemudian, Kevin datang dengan sikapnya yang bikin aku tidak suka. Kevin terlalu sombong, dia suka merendahkan orang lain. Termasuk merendahkan Aldi.
"Hei, Vio. Saya kesini mau bawa berita baik ke kamu," ungkap Kevin.
"Apa, Pak?" tanyaku.
"Kamu saya terima sebagai sekretaris perusahaan," ucap Kevin.
"Dan saya juga ingatkan, jika kamu menerima pekerjaan yang saya berikan itu. Kamu harus jauhin Aldi. Aldi itu mantan kamu kan?" sambung Kevin.
"Bapak tau dari mana soal itu?" tanyaku dengan wajah kaget.
"Sudah, kamu tidak perlu tau. Kamu cukup memilih pekerjaan atau Aldi. Kalau kamu memilih pekerjaan, tinggalkan Aldi, jauhin dia," ucap Kevin.
"Tapi, saya tidak bisa, Pak!!" tegasku.
"Kenapa? Kamu masih saja memilih dia. Bukannya dia selingkuhin kamu. Kenapa orang seperti itu kamu pertahankan. Sudah, kamu tinggalkan saja dia. Masalah uang kuliah, uang jajan, dan uang buat orang tua kamu, saya yang biayain. Aldi itu miskin, mana mampu bayarin uang kuliah kamu!" ucap Kevin dengan membentakku.
"Bukan masalah itu, Pak. Saya tidak bisa mengambil keputusan sekarang. Saya harus bicarakan ke Aldi. Dan Bapak jangan merendahkan Aldi, sekalipun dia miskin!" balasku dengan sedikit marah.
__ADS_1
"Terserah kamu, saya beri kamu waktu 2 hari. Kamu bisa datang ke kantor, saya tunggu jawaban kamu. Ini ada bingkisan buat kamu dan orang tua kamu. Saya permisi," ucap Kevin sambil menaruh bingkisan itu diatas meja.
Lalu, Kevin pun pergi. Aku terdiam saat harus memilih pilihan itu. Disisi lain, aku butuh pekerjaan. Tapi, aku juga masih sayang Aldi. Bahkan besok aku berniat ingin balikan lagi ke Aldi. Seketika aku menangis, air mataku tak mampu ku bendung lagi.