
Keesokan harinya, Aldi datang dan bertamu di rumahku. Ia berkenalan dengan Ibu dan Ayah. Lalu, Aldi mengajakku lagi untuk mengenal lebih dekat dengan sepupunya. Sebetulnya, aku malas ingin kesana. Tapi, ya sudahlah terpaksa aku terima ajakannya.
"Vio, kita ke rumah Om Dodi ya, biar lebih akrab," ajak Aldi.
"Abang tau kan, aku gak mau kesana lagi, karena mereka tidak suka denganku," jawabku dengan raut wajah sedih. "Bahkan, mereka tidak akan setuju dengan hubungan kita."
"Lupakan yang kemarin sayang," ucap Aldi dengan senyuman.
Aku terpaksa menerima ajakan Aldi. Karena menghargainya sebagai seorang pacar. Sesampainya disana ada Om Dodi. Dia melihat kearahku seperti tidak menyukai penampilanku.
"Oh, ini calonmu Aldi. Tidak secantik mantanmu yang dulu ya. Dapat dimana kamu?" tanya Om Dodi kepada Aldi.
"Apa sih, Om. Tidak baik bicara begitu," jawab Aldi.
Fira tidak mau berbicara sama sekali, ntah apa salahku. Aku begitu kesal, baru kali ini aku diperlakukan seperti itu.
Sudahlah, mungkin karena aku tidak secantik yang mereka harapkan.
Akhirnya, aku diantar Aldi pulang ke rumahku. Diperjalanan kami ngobrol. Aku begitu penasaran kenapa Fira dan Om Dodi tidak menyukaiku. Padahal, aku baru sekali berkunjung ke rumahnya.
"Bang, apakah aku ada salah sama keluarga sepupumu?" tanyaku dengan raut wajah sedih.
Aldi menjawab, "Tidak, kamu tidak salah apa - apa".
"Apa mungkin karena aku tidak secantik yang mereka inginkan? Tapi kenapa hanya dipihak sepupu kamu? Keluargamu saja tidak begitu padaku," tuturku. "Maafkan aku, jika aku tidak sempurna dimata keluargamu. Dan jika keluargamu tidak setuju aku siap mundur".
Aldi pun menjawab "Sayang, kamu ngomong apa? Biar pun sepupuku itu tidak suka, tapi aku tetap suka dan sayang padamu. Aku tidak peduli dengan omongan mereka. Yang menjalani itu kita, bukan mereka. Kamu jangan sedih ya".
Sesampainya di rumahku, Aldi pun turun dari motor yang dikendarainya itu lalu berjalan kearah pintu rumah.
"Kamu janji jangan pernah ngomong itu lagi, aku sayang kamu," ucap Aldi.
Lalu dia masuk ke rumahku dan meminta izin pulang.
**
Keesokan harinya pendaftaran kuliah dibuka. Kali ini aku memilih untuk kuliah di kotaku saja. Ya, walaupun swasta tidak apa - apa.
"Bu, hari ini pendaftaran kuliahnya, Bu," ucapku kepada Ibu.
"Mau Ibu temankan atau gimana, Nak? tanya Ibu.
"Sama Ibu aja deh, aku kan anak Ibu," jawab ku.
__ADS_1
"Ya udah, siapin berkas - berkasnya," ujar Ibu.
Aku pun menyiapkan semua persyaratan itu. Lalu bergegas pergi mengantarkan berkasny ke kampus baruku. Setelah selesai aku pun segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Aldi meneleponku.
Kring.. kring...
Ponselku berbunyi, aku segera mengangkatnya.
"Hallo.." ucapku.
"Sayang, nanti abang ke rumah. Kita jalan ya," jawab Aldi.
"Oke sayang," ucapku.
Jam menujukan pukul 16.00 WIB. Tiba - tiba saja ada yang mengetok pintu, ternyata Aldi. Aldi suka sekali membawakanku ice cream. Yang tadinya bad mood sekarang jadi happy mood. Aku harap hubungan ini tidak ada penghalang. Aku takut jika ini sudah serius keluarganya tidak menerimaku. 'Sudahlah, aku harus bisa membuang pikiran itu'.
Hari ini Aldi mengajakku jalan - jalan. Dia mengajakku ke toko boneka, aku kaget kenapa dia berhenti disini. Dia membawa ku masuk untuk memilih boneka.
Aldi bertanya kepadaku "Sayang, kamu mau pilih yang mana?"
"Yang ini aja sayang, aku suka kucing," jawabku.
Lalu aku mengambil boneka kucing itu. Aldi mengantarkanku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah.
"Aku suka kok, makasih ya sayang," jawabku.
"Oh ya, gimana kuliah kamu?" tanya Aldi.
"Aku udah daftar sayang. Kuliah disini aja kok, gak keluar kota. Ya, walaupun disini swasta, tapi kan gak jauh dari Ibu," jawabku.
"Kuliah yang rajin ya, jangan bolos. Kapan mulai kuliahnya? ucap Aldi lagi.
"Ya tentu, besok aku udah OSPEK sayang," jawabku.
"Eh, kok bisa sih Reza ngenalin aku ke abang?" tanya ku.
"Yakan abang yang minta kenalan sama dia. Eh, dianya ngasih nomor kamu. Ya, dicoba kali aja beruntung. Hahahahah" jawab Aldi sambil tertawa.
"Emang dikira undian apa, beruntung. Apaan sih kamu. Cubit ni baru tau" ucap ku.
"Jangan dong, atit tau" jawab Aldi dengan manja.
Jam sudah menujukan pukul 22.00 WIB Aldi permisi pulang. Aku begitu senang hari ini, karena Aldi begitu baik. Ternyata Aldi sayang kepada ku. Karna waktu sudah larut malam aku melanjutkan untuk tidur.
__ADS_1
**
Keesokan harinya, aku bangun lebih awal. Karena ini hari pertamaku kuliah. Aku segera menyiapkan perlengkapan OSPEK. Tak lupa, Ibu menyuruhku sarapan terlebih dahulu. Aku segera bergegas ke dapur. Setelah sarapan, aku berpamitan ke Ibu untuk berangkat kuliah.
Harus ya ada OSPEK, serius males banget. Malah bawa sapu lidi, rambut dikuncir, kaos kali beda warna. Pengen nangis rasanya, malu mau berangkat.
Sesampainya di kampus, aku segara memarkirkan motorku. Lalu aku bergegas mencari kelompokku. Aku pun berkenalan dengan teman baruku. Mereka sangat ramah, terutama Tari. Dialah orang pertama yang ku ajak kenalan.
" Hei, aku Viona. Salam kenal ya" ucap ku sambil mengulurkan tangan.
"Hei, aku Tari" balas Tari.
"Eh, kita mau ngapain ya hari ini. Mau jadi nenek sihir atau sapu ini buat kakak senior yang akan jadi nenek sihir. Hahahah" ucap ku sambil tertawa.
Tiba - tiba erdengar oleh salah satu Senior. Ia bernama Bunga. Bunga dikenal sebagai Senior galak, sombong, dan dia juga termasuk senior yang paling cantik. Lalu, Bunga berjalan ke arahku.
"Kamu ngomong apa barusan? Sini kamu! Anak baru udah belagu!" bentak Bunga.
"Idih, santai kak. Bercanda sayang," jawab ku.
"Eh, kamu.."
Bunga belum selesai bicara, tiba - tiba ada pria tampan datang menghampiri kami. Namanya Nicko.
"Kamu masuk ke kelompok kamu, cepet!!" ucap nya.
Aku segera berlari ke lapangan menuju barisan. Dan lelaki itu pun berjalan ke tengah - tengah lapangan. Ternyata Nicko adalah ketua OSPEKku. Dia senior terhits di kampus karena ketampanannya.
"Hari ini, hari pertama OSPEK ya. Jadi kalian semua wajib ikuti aturan," ucap Nicko.
"Baik, siap," jawab kami serentak.
Sambil mendengar Nicko memberi arahan, Tari teman kelompokku mengajak bercerita. Semua orang mengaguminya, termasuk Tari teman sekelompokku. Karena memang Nicko pria yang paling tampan diantara pria lainnya.
"Eh, Vio. Tu cowok ganteng ya. Coba aja aku cantik. Pasti dia mau tu" ucap Tari.
"Emang harus cantik? gak semua laki - laki memandang fisik, Tari. Kamu ih," ucapku.
" Dia tadi yang menolong ku terbebas dari nenek sihir," sambungku.
"Wah, kamu hebat. Bisa ngobrol dengan abang ganteng itu," ucap Tari lagi.
Akhirnya OSPEK selesai. Aku berjalan ke parkiran mengambil motorku, lalu bergegas pulang. Syukurlah, aku tidak berjumpa dengan Bunga si nenek sihir.
__ADS_1