KITA

KITA
Episode 34


__ADS_3

Pagi yang cerah, suara kicauan burung membangunkan dari tidur nyenyakku. Kulihat kearah jam yang berada didinding kamar, jam menunjukkan pukul 06.30 WIB, aku langsung bergegas untuk segera bersiap-siap berangkat kerja. Terdengar suara klakson sepeda motor dari luar rumah.


Duh, Aldi udah sampai, malah aku belum sarapan lagi.


Aku berlari kearah luar rumah menghampiri Aldi yang sudah menungguku sekitar sepuluh menit. Aldi melihatku sangat heran, aku mulai mengatur nafasku.


"Sayang, kamu habis ngapain, sih?" tanya Aldi. "Kamu kayak dikejar rentenir aja, sini aku rapiin rambut kamu."


"Maaf, sayang. Vio telat bangun, jadi buru-buru," jawabku. "Sayang, kamu udah lama nunggu?" Aku mengambil sisir kecil dari dalam tas lalu menyisir rambutku dan mengikatnya agar terlihat rapi.


Aku dan Aldi pun berangkat ke kantor. Sesampainya di sana, Aldi memberikanku kotak makanan yang ia bawa. Aku pun menolaknya dengan alasan sudah sarapan di rumah. Dengan terpaksa aku berbohong, karena tak ingin pacarku Aldi sakit lagi karena ia memberiku sarapan itu. Aku pun bergegas masuk ke dalam ruangan kerjaku, kulihat tugas dari Kevin sudah menumpuk di atas meja kerja.


"Ya ampun, tugas segini banyak lagi," gumamku.


Kevin datang ke ruanganku, lalu membawakan setumpuk berkas yang harus ku ketik untuk meeting besok pagi dan harus selesai hari ini.

__ADS_1


"Viona, kamu ketik hari ini yang ini saja," ucapnya sambil memberikanku berkas dari tangannya. "Soalnya, besok pagi harus meeting. Kamu udah sarapan?"


"Belum, Pak," balasku dengan sedikit tertunduk malu. "Maaf, Pak. Saya tadi pagi telat bangung, jadi saya gak sempat sarapan."


"Sudah, kamu tunggu saja. Nanti ada yang mengantarkan sarapan untukmu. Saya tinggal, ya," ujar Kevin sambil berjalan kearah pintu.


Kevin pun pergi, aku segera melanjutkan tugas setumpuk dari Kevin dan harus disiapkan hari ini juga. Memang sangat begitu melelahkan hari ini. Sepertinya jadwal istirahatku akan terpakai untuk mengejar semuanya. Sekitar lima menit aku mengetik, terdengar ketukan pintu. Suara lelaki yang sepertinya tak asing bagiku.


"Permisi.."


"Silahkan masuk!!" perintahku. "Seperti suara Aldi, masa sih Aldi ke ruanganku. Emang Pak Kevin ngizinin?".


"Sayang, kamu bohong, ya. Tadi bilangnya udah makan," ucap Aldi sambil menahan tanganku dari keyboard komputer. "Berhenti ngetiknya, sarapan dulu. Nanti kalau sakit kamu gak bisa marahin aku."


"Kok kamu bisa ke sini?" tanyaku heran. "Ya sayang, aku sarapan nih. Makasih sayangku."

__ADS_1


"Kevin yang menyuruhku buat antarin sarapan, kamu jangan nakal. Ntar Kevin marah sama aku kalau kamu sakit," jawab Aldi.


Aku pun segera melahap sarapan yang dibawakan Aldi. Setelah selesai, Aldi pun kembali ke lapangan untuk melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba ponselku berbunyi di atas meja kerja. Kulihat, ada nomor baru menelepon. Aku tidak mengangkat telepon dari nomor baru itu. Lalu, ku letakkan kembali ponsel diatas tumpukan buku. Dan lagi-lagi ponselku terus berbunyi. Aku pun mematikan nada deringnya agar tidak menganggu kerjaku. Setelah pekerjaanku selesai, aku bergegas keluar untuk bertemu Aldi.


"Gimana sayang, udah selesai tugasnya?" tanya Aldi dengan senyuman.


"Sedikit lagi siap, kok," jawabku. "Yuk, kantin sayang.."


Aku dan Aldi pun makan siang di kantin seperti biasa. Sekarang terasa aman tanpa ada gangguan dari Gina, karena Gina sudah dipindahkan ke kantor yang cukup jauh dari sini. Aku mengambil ponsel dari saku celana, melihat ada sepuluh panggilan tak terjawab, aku masih berpikir, siapa yang meneleponku sebanyak ini. Tiba-tiba saja perasaanku tidak enak, seperti ada yang mengganjal. Aku pun menyodorkan ponselku ke Aldi.


"Sayang, kamu kenal dengan nomor ini?" tanyaku dengan wajah cemas. "Dia meneleponku sepuluh kali, tapi aku tak mengangkat telepon itu. Aku takut teror lagi."


"Sini coba kulihat," Aldi mengambil ponsel itu dari tanganku. "Kayaknya, gak kenal, sayang. Kamu blokir aja deh nomor yang gak kamu kenal, lebih aman sayang."


Aku pun mengikuti saran Aldi untuk memblokir nomor baru itu. Setelah selesai, aku kembali ke ruangan kerja dan menyelesaikan tugas untuk meeting besok. Sekitar satu jam aku mengetik berkas itu, tiba-tiba ada SMS masuk keponselku. Kulihat nomor baru lagi yang masuk, aku pun penasaran, lalu membuka pesan itu. Aku terkejut saat membaca isinya yang mengancamku untuk segera membatalkan pertunanganku dan Aldi. Tubuhku seakan mematung tak bergerak, mataku tersorot tak berkedip menatap ponsel dan berulang kali membaca pesan dari orang asing itu, dengan kalimatnya yang begitu menusuk hatiku.

__ADS_1


Viona, kamu simak pesan ini, ya. Aku kasih tau sebelum terlambat. Kamu mending batalin aja pertunanganmu bulan depan dengan Aldi. Jika kamu ngotot ingin melanjutkannya, siap-siap aja kamu akan menerima akibatnya. Hubungan kamu akan hancur berkeping-keping.


"Ya ampun, siapa yang mengirim SMS ini? Aku harus cepat-cepat siapin ngetik. Aku akan tunjukin SMS ini ke Aldi," gumamku.


__ADS_2