KITA

KITA
Episode 17


__ADS_3

Kring.. kring..


Ponselku berbunyi. Ada yang meneleponku. Aku termenung sejenak memikirkan siapa orang yang meneleponku ini. Tiba-tiba ponselku berbunyi lagi hingga mengagetkanku.


'Ya ampun, siapa sih orang ini, udah 4 kali dia meneleponku. Baiklah akan ku angkat'.


"Hallo.." sapa Kevin. "Apa betul ini Viona?"


"Ya, dengan saya sendiri. Anda siapa? Dan ada perlu apa?" jawabku.


"Saya Kevin, yang mengantarkan kamu pulang semalam. Masih ingatkah kamu?" tanya Kevin kepadaku.


"Ya, saya ingat," jawabku. "Ada perlu apa, Pak?"


"Jangan panggil Bapak, saya belum jadi Bapak orang kok. Tapi, kalau jadi calon Bapak buat Anak - Anak kamu saya mau," ucap Kevin


Apaan sih ni orang, ilfil banget. Gak demen sama yang beginian. Baru juga kenal udah nyosor aja. Dasar cowok.


"Ya udah, saya ada urusan. Nanti aja kita sambung ya," ujarku.


Aku pun mematikan telepon dari Kevin. Lalu bergegas untuk mandi. Hari ini libur kuliah, aku bisa bersantai di rumah. Sambil membereskan kamarku yang berantakan seperti kapal pecah. Setelah 1 jam aku membereskan semuanya, aku menemukan sebuah kotak berukuran kecil yang dibungkus ketas kado. Aku baru ingat, Aldi yang memberikanku kotak ini. Lalu segeraku buka dan melihat isi di dalamnya. Aku begitu haru, ada sebuah kalung dengan bertulisan huruf V. Dan dibawah kalung itu ada amplop berisikan foto aku dan Aldi.


Inikan foto waktu liburan waktu itu, ternyata Aldi masih menyimpannya.


Aku tersenyum sambil meneteskan air mata bahagia. Aku langsung mencoba kalung itu keleherku.


Jam menujukan pukul 15.00 WIB, tiba - tiba Aldi datang ke rumahku. Aku kaget, Aldi begitu memaksakan diri untuk menemuiku.


"Kamu bukannya istirahat, malah jalan. Ntar kalau kamu sakit lagi, gimana?" tanyaku.


"Vio, aku tidak apa - apa. Aku sudah sehat kok. Malah kalau di rumah aja aku gak sembuh - sembuh. Disini kan ada kamu,". jawab Aldim


"Kamu udah makan belum?" tanyaku.


"Belum, Vi. Aku mau makan tapi kamu yang suapin, ya," jawab Aldi.


"Manja kali sih, yaudah bentar aku ambil makanan dulu di dapur," balasku.


Aku pun pergi ke dapur untuk mengambilkan makanan.Tiba - tiba Ibu menghampiriku, Ibu menyuruhku untuk membuatkan susu hangat.


"Untuk siapa, Bu?" tanyaku.


"Untuk Aldi lah, siapa lagi. Dia itu sakit, kamu harus berikan makanan dan minuman yang sehat," jawab Ibu sambil mencubit pipiku.


Lalu aku menaruh piring yang berisikan makanan dan minuman diatas meja. Aldi melihat kearahku, sambil memasang muka sedih.

__ADS_1


"Tuh, buruan makan. Ntar sakit siapa yang susah. Ya, aku," ucapku.


Aldi diam tak menjawab ucapanku. Dia hanya melihat ke arahku saja. Lama - lama membuatku risih.


"Kamu kenapa sih, lihatin aku terus?" tanyaku.


"Aku kan minta kamu suapin, kenapa tidak kamu lakukan. Kamu tau kan, aku sakit, Vio," jawab Aldi.


"Yaudah, sini. Buka mulut kamu!!" gumamku sambil menyuapi Aldi.


Jam sudah menujukan pukul 17.00 WIB, Aldi pun pamit pulang. Tak lama Aldi pergi, datang seorang pria menggunakan jas hitam keluar dari mobil mewahnya. Dia berjalan kearahku. Ternyata Kevin Manager Aldi. Aku bingung harus tetap disini atau masuk kedalam. Akhirnya, aku kembali duduk di teras rumahku.


"Hai, Vio. Apakah saya mengganggu waktumu?" tanya Kevin.


"Sedikit," jawabku singkat.


"Saya kesini cuma mau ngantarin bingkisan ini, kamu terima, ya," ucap Kevin.


"Hmm.. terima kasih Pak Kevin eh Kevin," jawabku gugup.


Kevin pun pulang, aku segera masuk ke dalam rumah. Saat aku masuk, aku tak sengaja mendengar suara Kevin sedang menelepon. Aku segera mengintip dari jendela.


Bukannya dia udah pulang, kok masih di depan rumahku. Apa yang dia bicarakan itu. Seperti mencurigakan.


Aku tidak mendengar apa yang Kevin bicarakan diponselnya, aku sangat penasaran lalu aku keluar dan mengagetkannya.


"Oh, ya. Maaf saya balik lagi. Ada yang ketinggalan, Vi," jawab Kevin. "Nanti malam kamu sibuk? Saya ingin bertamu ke rumahmu".


"Tidak, saya tidak sibuk," jawabku.


"Ya sudah, nanti malam jam 8 saya datang. Saya permisi dulu. Ada meeting," ucap Kevin.


Kevin berjalan ke arah mobil mewahnya, aku masih berdiri di teras rumah sembari menunggunya pergi. Tiba - tiba Tari datang. Tari pun penasaran siapa pria yang barusan pergi itu.


"Yaampun tu cowok udah ganteng, putih, tinggi, bau parfumnya masih kecium lagi. Siapa tu, Vi?" tanya Tari.


"Bukan siapa - siapa, Tar. Dia cuma bertamu aja," jawabku.


"Bohong ni, gebetan kamu pasti. Jawab jujur, Vi," ucap Tari.


"Yaelah, dibilang bukan siapa - siapa dia, Tar. Ngapain aku bohong sama kamu. Dia itu Kevin yang nolong aku pas jatuh dari motor," balasku.


"Kok kamu diam aja gak cerita ke aku sih, Vi. Kapan kamu jatuh?" tanya Tari.


"Udah gak apa - apa kok, Tar. Cuma luka dikit, nih dikit doang," sambil menunjukkan luka di kaki.

__ADS_1


"Ya ampun, Vi. Itu bukan dikit, kamu kalau ada apa - apa tu cerita ke aku. Nih, aku ke sini mau antarin oleh - oleh, Mamaku baru pulang dari Malaysia," ucap Tari sambil memberiku bingkisan yang dibawanya.


Tari pun permisi pulang, aku segera masuk ke dalam rumah dan memberikan oleh - oleh dari Mama Tari ke Ibuku. Jam menujukan pukul 20.00 WIB, aku menuju teras rumah memainkan ponselku sembari menunggu Kevin datang.


Semoga aja dia gak jadi datang, males banget mau jumpa si Kevin. Aku akan hitung sampai 10 ya, jika kamu tidak datang aku akan masuk lalu kunci pintu.


Aku pun mulai berhitung, baru hitungan ke-9 tiba - tiba ada mobil yang berhenti di depan rumahku.


Semoga bukan Kevin, semoga bukan Kevin, jangan sampai dia datang.


Lalu pintu mobil itu pun dibuka, ternyata Kevin yang datang. Wajahku yang tadinya ceria kini jadi cemberut. Lalu Kevin berjalan kearahku.


"Sudah lama kamu menunggu?" tanya Kevin kepadaku.


Kenapa sih kamu harus datang.


Aku tidak menyimak apa yang ditanyakan oleh Kevin.


"Hei, saya bertanya. Kenapa kamu bengong?" tanya Kevin lagi.


"Ya, Pak. Saya belum bisa jawab sekarang," jawabku.


"Maksud kamu? Saya bertanya, kamu sudah lama menunggu?" tanya Kevin heran.


"Oh ya. Belum lama kok, Pak. Maaf Pak maaf," balasku.


"Jangan kebanyakan melamun, ntar kesambet kamu!!" tegas Kevin.


Kami pun duduk di bangku teras rumah. Kevin banyak bertanya kepadaku. Mulai dari kuliahku, teman - temanku, keluargaku dan bahkan pacarku. Aku hanya diam saat dia menanyakan hal itu, ku alihkan ke pembicaraan lain. Tiba - tiba Kevin menatapku, dia seperti ingin mengungkapkan sesuatu.


Apaan sih Kevin, aku paling gak bisa ditatap gitu. Bikin grogi aja ni orang.


"Vi, saya mau bilang sesuatu sama kamu," ucap Kevin.


"Ya, Pak. Silahkan!!" balasku.


"Saya belum tua, Vi. Umur saya baru 26 tahun, kenapa kamu panggil Bapak," ucap Kevin dengan nada kesal.


"Heheh, maaf maaf. Biar sopan saya panggil Bapak," jawabku.


"Saya mau bilang, kalau saya itu suuu.. suka..." ucap Kevin terbata - bata.


Duh, lama banget ni orang pulang. Aku harus cari alasan.


"Pak, bisa kita sambung lain waktu? Ini sudah malam, Pak. Ibu saya akan marah kalau saya masih di luar. Jadwal tidur saya jam segini," ucapku.

__ADS_1


Lalu Kevin pun menganggukan kepala dan pamit untuk pulang. Aku masuk ke dalam rumah dengan wajah ceria dan melanjutkan untuk tidur.


__ADS_2