KITA

KITA
Episode 29


__ADS_3

Hari ini tepat pukul 09.00 WIB, Ayahku akan segera dioperasi. Aku berada di Rumah Sakit bersama Ibu, Aldi dan dua sahabatku Tari dan Nicko yang selalu setia menemaniku. Kami menunggu diruang tunggu yang berada di depan ruangan operasi Ayah. Aku begitu gelisah bercampur sedih. Berharap Ayah tidak apa-apa dan lekas sembuh agar bisa berkumpul lagi. Aldi yang melihatku begitu gelisah segera menenangkanku.


"Sayang, kamu harus yakin. Ayah pasti sembuh dan bisa cepat pulang," ucap Aldi.


"Makasih sayang, kamu udah nemani aku," jawabku "Makasih ya Tari dan Bang Nicko udah bantuin biaya Ayah."


"Ya, Vio. Sama-sama," balas Nicko. "Udah tugas seorang sahabat saling menolong."


Tari dan Nicko pun pulang terlebih dahulu karena ada hal penting yang harus dikerjakan.


Sejam berlalu, akhirnya dokter bedah keluar dari dalam ruangan. Dokter memberitahu kabar baik, bahwa operasinya berjalan lancar. Ayah akan segera pulih lagi. Mendengar kabar itu aku bahagia. Lalu, aku memeluk Aldi.


Hari ini aku memutuskan untuk kuliah, karena takut tertinggal banyak mata kuliah. Aldi mengantarkanku ke kampus.


Sesampainya di kampus, kedua sahabatku menunggu di parkiran. Aku pun menuju kearah mereka.

__ADS_1


"Tari, Bang Nicko!!" teriakku sambil berjalan kearah mereka.


"Eh, Vio maaf ya tadi kita duluan," ucap Tari sambil memegang pundakku.


"Gak apa-apa, Tar," jawabku tersenyum. "Ayah kemungkinan malam nanti udah pulang."


"Syukurlah, Vi," ucap Nicko. "Nanti malam kita ke rumah kamu."


Aku, Tari dan Nicko pun menuju kelas karena jam kuliah sudah akan dimulai. Tari memberiku selembar kertas formulir lomba menulis cerita. Tari menyuruhku untuk mengikuti lomba itu, kebetulan hobiku menulis. Akhirnya, aku membawa pulang formulir itu untuk diisi di rumah. Jam mata kuliah telah selesai, aku dan Tari menuju ke kantin untuk bertemu Nicko. Sesampainya di kantin, terlihat Nicko tengah asyik memegang selemar kertas dan membacanya.


"Ini, Vi. Ada lomba menulis," jawab Nicko sambil menunjukkan kertas itu. "Kamu coba aja ikut ini. Kan kamu suka menulis, Vi."


"Tadi Tari udah kasih Vio formulirnya, Bang," ucapku. "Nanti Vio isi di rumah, coba-coba kali aja beruntung."


"Bener, gak ada salahnya mencoba," tutur Nicko sambil tersenyum kearahku. "Urusan menang atau kalah itu belakangan, yang penting udah berusaha."

__ADS_1


Aldi meneleponku, ia sudah menungguku di halte kampus. Aku pun segera menghampirnya. Lalu, Aldi mengantarkanku pulang ke rumah. Sampai di rumah, Aldi memberi sesuatu didalam plastik hitam. Ntah apa isinya, aku begitu penasaran. Aku pun membuka plastik itu, ternyata isinya sebuah buku yang sudah lama aku inginkan. Lalu, aku menjukan selembar formulir kepada Aldi.


"Sayang, makasih ya bukunya, aku seneng banget," ujarku dengan raut wajah bahagia. "Oh ya, tadi Tari ngasih formulir ini. Aku boleh ikutan lomba ini ya sayang." Menunjukan kertas formulir itu.


"Lomba apa sayang?" tanya Aldi. "Ya gak apa-apa, bagus dong. Aku dukung kamu sayang."


Aldi membantuku mengisi formulir itu, setelah selesai, lanjut aku dan Aldi mencari judul cerita untuk tulisan yang akan aku tulis nanti. Tak lama kemudian, Tari dan Nicko datang. Mereka menanyai keadaan Ayah.


"Bagaimana Ayah kamu, Vi?" tanya Nicko. "Udah pulang ke rumah Ayah?"


"Ayah udah membaik, cuma gak tau jam berapa pulangnya, Bang," jawabku. "Dokter bilang malam udah boleh pulang sih."


"Vi, gimana udah diisi formulir yang tadi aku kasih ke kamu?" tanya Tari. "Ini, Vi, aku ada bawain makanan." Menyodorkan sebuah plastik berisi makanan.


"Udah, Tar. Baru aja selesai ngisi formulirnya, tinggal nyari judul aja lagi," jawabku sambil mengambil makanan dari dalam plastik yang Tari bawa.

__ADS_1


Setelah cukup lama kami berbincang, akhirnya Tari dan Nicko pulang. Aldi masih menemaniku. Tiba-tiba terlihat dari luar pagar ada mobil hitam berhenti, pintu mobil pun dibuka. Ternyata Ayah dan Ibu sudah pulang. Aku dan Aldi segera membantu Ibu membawa barang-barang yang berada di dalam mobil.


__ADS_2