
Setelah pulang dari rumah sakit, Rania langsung menata pakaian-pakaian suaminya didalam koper berukuran besar.
"Mas jangan masuk ke kamar, nanti aku muntah-muntah lagi" ucap Rania.
"Terus aku tidur dimana sayang? Ayo lah, malu tau dengan mama papa. Mana lagi ini apa-apa koperku kamu taruh diluar?" ucap yoga.
"Bodo... Aku tidak ingin dekat-dekat sama kamu mas, aku tidak ingin lihat mukamu" ucap Rania sambil teriak.
"Sudah nak yoga, lebih baik nak yoga tidur dikamar anak-anak" ucap mama Rania.
"Tapi mama, masa aku tidur sama anak-anak?" ucap yoga.
"Nak yoga, bersabarlah.. Ini tidak akan lama, paling lama hanya 4-5 bulan" ucap mama Rania.
"Atau nak yoga pulang saja ke rumah mamanya nak yoga dulu, karena mama kasian melihat kamu seperti ini" ucap mama rania.
"Tapi..." ucap yoga.
"Nak itu adalah bawaan calon bayi kalian, bukan atas dari keinginan Rania. Nanti biar mama yang bicara dengan Rania" ucap mama rania.
"Mama papa" ucap Rania.
"Iya sayang, ada apa?" tanya papa.
"Anterin aku kerumah ridwan" ucap Rania.
"Ridwan? Teman kecil kamu?" tanya mama Rania.
"Iya mama, Rania ingin cium bau badan Ridwan dan memegang wajahnya" ucap Rania, mata yoga melotot seakan bola matanya akan keluar.
"Sayang aku anterin kamu boleh?" tanya yoga.
"Ihh... Mas apa-apaan sih, aku kan sudah bilang. Mas bau bangkai tahu" ucap Rania.
__ADS_1
"Sabar nak yoga, oke mama papa anterin ya. Nak yoga jagain anak-anak saja" ucap papa rania.
Mereka bergegas menuju kerumah Ridwan, karena memang hari sudah malam. Sementara yoga kekamar Arif dan Kamila. "Kalau bukan karena debay, aku sudah menghajar kamu Ridwan. Sabar... Sabar.." gumam.
Rania ngidam kali ini memang tak bermaksud untuk membuka harapan baru kepada Ridwan, hanya saja dia melakukannya demi anaknya.
Tok..tok...
"Wah ternyata Ridwan tajir juga ya pa" ucap mama Rania.
"Iya ma, dia juga memiliki perusahaan sendiri" ucap Rania.
"Iya tunggu sebentar" ucap pembantu.
"Maaf Bi, tuan Ridwan ada?" tanya Rania.
"Ada nyonya, silakan masuk" ucap pembantu.
Tok... tok... tok...
"What? Kamu serius? Suruh tunggu sebentar, saya akan turun" tanya Ridwan.
Beberapa menit kemudian.
"Rania, om dan Tante ada apa malem-malem kerumah? Tidak bilang-bilang lagi" ucap Ridwan.
"Maafin kami ya nak menganggu jam istirahat kamu, ini kami mengantarkan Rania. Dia lagi ngidam katanya mau cium bau tubuh kamu dan pegang wajahmu nak, kamu tidak keberatan kan?" ucap mama Rania.
"Tidak dong, lakukan sepuas kamu Rania" ucap Ridwan.
"Coba kalau aku bisa sedekat ini sayang, aku sangat cintaimu Rania" gumam Ridwan.
"Maaf ya Ridwan" ucap Rania.
__ADS_1
"Sudah belum sayang? Anak-anak kasian ditinggal sayang" ucap papa Rania.
"Sudah pa, Ridwan nanti pagi kerumahku iya. Aku mau mencium badan kamu setiap pagi" ucap Rania.
"Sayang apa-apaan sih kamu? Maaf nak Ridwan jangan dengerin rania" ucap mama Rania.
"Santai aja Tante, namanya juga lagi ngidam. Siap aku akan kerumahmu tiap pagi, sudah malam ran ini tidak baik udara malam untuk janinmu" ucap Ridwan.
Semenjak malam itu, Ridwan selalu kerumah Rania sambil membawakan mangga muda untuk Rania.
"Aaauuuwwww..." ucap Rania.
"Kenapa ran?" tanya Ridwan.
"Perut aku keram Ridwan" ucap Rania
Yoga yang melihat Ridwan dan Rania berdekatan, dia langsung menghalanginya.
"Sayang kamu kenapa?" tanya yoga.
"Iiihh... Mas kamu kenapa kesini? Aku hanya keram saja, pergi sana" ucap Rania.
Yoga pergi ke halaman belakang dan diikuti oleh Ridwan.
"Hahahaha... Pak yoga, kenapa? Cemburu? Itu yang aku rasakan, saat bapak dekat dengan Rania" ucap Ridwan.
"Maksud kamu pa?" tanya yoga.
"Bapak tau saya sudah mencintai Rania lebih dulu sebelum Rania menikah, namun berkali-kali ketika saya akan mengutarakan. Selalu saja gagal sekarang saya mengambil kesempatan ini pak yoga yang terhormat" ucap ridwan sambil kembali kepada Rania.
"Katanya dari toilet kok lama?" tanya Rania.
"Maaf ran, iya ran sudah siang. Aku berangkat kantor dulu ya. Nanti malam aku kesini lagi" ucap ridwan.
__ADS_1
Rania menganggukkan kepalanya, yoga berangkat kerja tanpa berpamitan dengan Rania.