
Tok.. Tok..
"Assalamualaikum" ucap Arif dan Kamila.
"Ayah kok seperti suara..." ucap Rania.
"Assalamu'alaikum bunda ayah" ucap Arif dan Kamila.
"Walaikumsalam" ucap mama Rania.
"Uti..." ucap mereka sambil memeluk mbah uti.
"Kalian sama siapa kemari sayang?" tanya mama Rania.
"Sama Tante harum, itu Tante dimobil" ucap Arif.
"Apa Tante harum?" tanya Rania.
"Iya bunda, tante yang anterin kita kesini. Tapi dia tidak ijin sama ayah Panji" ucap Kamila.
"Iya sudah kalian masuk dulu sayang, Ade dan ayah ada dikamar" ucap Rania.
"Kamu ngapain anterin mereka kemari tanpa ijin sama ayahnya? Nanti kalau dia menyalahkan aku bagaimana?" tanya Rania.
"Rania maafkan, maafkan atas kesalahanku dimasa lalu. Aku sadar aku sangat-sangat keterlaluan dulu. Jujur Rania aku sangat menyayangi anak-anakmu dan aku tidak bisa melihat mereka tersenyum dalam hati menangis. Aku tau mereka sangat merindukan keluarganya disini, jadi aku membawa mereka tanpa seijin mas Panji. Tapi kamu tenang saja, selama kita tidak membuka rahasia ini maka akan aman namun jika sampai mas Panji tau. Aku yang akan berada didepan, karena aku yang membawa mereka kesini" ucap harum.
"Terus kalau kamu tunggu mereka, bagaimana dengan anakmu dirumah?" tanya Rania.
"Aku keguguran Rania, dan sekarang aku tidak bisa memiliki anak lagi" ucap harum.
"Apakah ini maksudnya, kenapa mas Panji menginginkan Arif dan Kamila tinggal dirumahnya?" gumam Rania.
"Iya sudah daripada kamu tungguin dimobil, lebih baik kamu masuk kerumah yuk" ucap Rania.
"Tapi ran.." ucap harum.
__ADS_1
"Sudah ayo masuk, aku janji mama papaku tidak akan marah. Karena kamu sudah membawa Arif dan Kamila kesini" ucap Rania.
"Kenapa kamu bawa dia masuk sayang?" tanya papa Rania.
"Papa harum itu tamu, masa seorang tamu disuruh menunggu diluar? Lagian harum kan yang sudah membawa Arif dan Kamila, kenapa kalian tidak bisa berterima kasih sedikit saja sama harum?" ucap Rania.
"Tapi sayang, gara-gara wanita ini kamu harus berpisah dengan Panji. Karena dia kamu harus mendapatkan penentangan dari keluarga Panji, kenapa kamu masih bisa berbaikan dengannya?" tanya mama rania.
"Mama papa tidakkah kalian lihat Arif dan Kamila saja bisa menerima harum, kenapa kita tidak?" tanya Rania.
"Tapi sayang, mereka berdua masih kecil. Jadi masih suka berubah-ubah" ucap mama Rania.
"Ran sudah, biarkan aku menunggu didalam mobil saja" ucap harum.
"Ma pa apa tega melihat dia menunggu dalam mobil? Ma pa Arif dan Kamila saja bisa menerima harum sebagai tantenya, kenapa kita tidak bisa. Ayo lah ma pa, aku mohon" ucap rania.
"Baiklah mama dan papa akan mengijinkan dia masuk dirumah ini" ucap papa Rania.
Waktu menuju jam 4 sore dan itu artinya Arif dan Kamila harus kembali kerumah Panji.
"Iya enggak apa-apa harum, terima kasih sudah ngantar mereka kerumah ini" ucap Rania.
"Tidak buat aku ran, asal mereka bahagia. Aku akan dengan senang hati bakal anterin mereka kesini, oiya ran kamu kalau rindu dengan mereka hubungi nomor aku saja. Tapi aku mohon hubunginya pas jam mas Panji kerja saja" ucap harum.
"Iya Arum, sekali lagi aku terima kasih banyak. Sebentar aku panggilkan mereka" ucap Rania.
"Bunda, Mbah uti dan Mbah kung. Kami pamit pulang dulu ya, nanti kapan-kapan kita kesini lagi. Boleh kan Tante?" ucap Arif.
"Iya sayang, nanti Tante yang anterin kamu" ucap harum.
"Daaaahhh.. Bunda, uti dan kung. Assalamu'alaikum" ucap Kamila.
"Walaikumsalam" ucap mereka.
Harum ternyata salah perkiraan, ternyata panji sudah pulang dari jam 3 sore. Panji pulang karena ada laporan dari papi dan maminya bahwa harum membawa Arif dan Kamila pergi. Saat harum membuka pintu.
__ADS_1
"Dari mana kamu?" tanya Panji.
"M.. mas panji. Emm... A...aku dari..." ucap harum.
"Ayah kami habis dari mall, kami bosan dirumah ayah. Jadi kami minta Tante harum buat anterin ke mall, seru deh tadi kami mainnya jadi lupa waktu deh" ucap Arif yang terpaksa berbohong.
"Benarkan kalian habis dari mall?" tanya Panji.
"Iya ayah, ini kita beli mainan dan ini stiker ditangan kita masih belum sempat dilepas" ucap Kamila.
"Oh.. Iya sudah kalau kalian habis dari mall, ayah pikir kalian habis dari rumah bunda Rania" ucap Panji.
"Ayah tadi pagi kan ayah larang kami buat ketemu bunda, jadi kami tidak berani pergi kesana tanpa seijin ayah. Iya kan Tante?" tanya Arif.
"Mas kita mandi dulu, bau kering nih" ucap harum sambil tersenyum masuk bergandengan tangan dengan Arif dan Kamila.
Dikamar Arif dan Kamila.
"Hufh... Maaf sayang, tadi Tante sempat syok. Jadi hampir saja ketauan" ucap harum.
"Iya enggak apa-apa Tante, untung tadi bunda sempat kasih ini sama kita. Jadi bisa buat alasan" ucap Arif.
"Kapan bunda kalian kasih itu?" tanya harum.
"Waktu kita akan pulang, bunda panggil kita dan bunda kasih ini ke kami" ucap Kamila.
"Bunda kalian kayanya tau akan kebiasaan ayah kalian?" tanya harum.
"Kita juga tidak tau Tante, tapi kata bunda. Opa dan Oma suka ngadu sama ayah, bunda khawatir jika opa dan Oma ngadu ke ayah kalau kita pergi" ucap Arif.
"Oh iya sudah kalau gitu kalian mandi gih, Tante tinggal dulu" ucap harum.
Ting..
SMS Harum : Terima kasih atas mainan dan stiker yang kamu kasih ke Arif dan Kamila, hampir saja kita ketauan dan untungnya kamu kasih mereka itu. Jadi kita terselamatkan karena kamu.
__ADS_1
SMS Rania : Tidak perlu bilang terima kasih harum, sebagai ibu hatinya pasti akan menyatu dengan anak-anaknya. Itu refleks saja aku kasih itu, aku yang seharusnya berterima kasih karena sudah membawa mereka kesini.