
Setelah sidang dihentikan, Rania keluar dan menetes air mata. Dia sangat menderita dengan persidangan yang semestinya tidak ada karena dulu hak asuh anak sudah diputuskan oleh pengadilan.
"Ibu Rania.." ucap ibu Melli
"Kenapa ibu Melli?" tanya Rania.
"Apa ibu baik-baik saja?" tanya ibu Melli.
"Iya, saya baik-baik saja" ucap Rania.
"Sayang maaf, aku baru bisa kesini sekarang. Tadi ada rapat mendadak. Maafin aku, sayang kamu ada disini? Apa sidangnya sudah selesai?" tanya yoga.
"Sidangnya ditunda sampai jam istirahat" ucap Rania.
"Terus kamu kenapa menangis? Anak-anak mana?" tanya yoga.
"Aku sedih mas, aku kasian sama Arif dan Kamila. Mereka seperti barang yang semudah itu bisa dipindah-pindah" ucap Rania.
"Terus apa yang kamu lakukan?" tanya yoga.
"Mas kalau seandainya aku berikan mereka kepada Panji dan harum bagaimana? Kamu marah tidak sama aku?" tanya Rania.
__ADS_1
"Maksud kamu apa sayang? Kamu ingin mengalah dalam sidang ini?" tanya yoga.
"Iya mas, aku ini bundanya mereka. Aku tau bahwa mereka tidak ingin jadi rebutan seperti ini, jadi sepertinya aku yang harus mengalah. Harum juga sudah sangat menyayangi Arif dan Kamila" ucap Rania.
"Kamu serius sayang? Aku akan selalu dukung semua keputusanmu, aku yakin kamu tau yang terbaik untuk mereka" ucap yoga.
"Terima kasih sayang" ucap Rania.
"Ibu apa yakin dengan semua ini? Bukankah ibu ingin sekali anak-anak kembali kepada ibu?' tanya pak Imanuel.
"Saya yakin pak, saya mohon sama bapak dan ibu. Apapun yang akan ditanya kepada saya, jangan pernah kalian mereka keberatan dengan apa yang saya ucapkan" ucap Rania.
"Rania kau benar-benar wanita yang hebat, kau sanggup merelakan kebahagiaan kamu demi orang lain. Aku tidak bisa lakukan ini, aku harus lakukan sesuatu dan memastikan hak asuh anak-anak berada kepada rania lagi, aku yakin tidak akan ada yang tau mana yang terbaik untuk anak-anaknya serta pengasuh yang terbaik adalah dalam asuhan ibu kandungnya" gumam harum dan dia langsung bergegas menuju kerumah untuk membawa Arif dan Kamila ke pengadilan karena kesaksian mereka sangat dibutuhkan.
Jam istirahat telah berlalu, sidang kini mulai kembali. Sidang ditengah hari yang sangat panas terasa semakin panas pula didalam ruang tersebut, hingga sidang telah berjalan tiga jam lamanya. Kini detik-detik pengumuman hasil sidang, tiba-tiba...
"Tunggu... Pak hakim jika saya diijinkan akan memberikan kesaksian tanpa memberatkan salah satunya" ucap harum.
"Baik, silakan anda ucapkan janji dan lalu berikan kesaksian apa yang anda ketahui" ucap pak hakim.
"Maaf sebelumnya karena saya sudah datang terlambat, saya juga minta kepada suami saya. Saya ingin memberikan penjelasan kepada semuanya yang saya ketahui. Dulu sebenarnya saya adalah pelakor suami mba Rania, saya melakukan itu karena mendapatkan dukungan penuh oleh orangtua mas Panji. Hingga saya melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar, saya hamil anak mas Panji. Dan akhirnya mba Rania menggugatcerai kepada Panji" ucap harum.
__ADS_1
"Memang benar mas Panji dan keluarganya sengaja untuk menyerahkan Arif dan Kamila kepada Rania, karena orangtua mas Panji tidak menginginkan cucu-cucu dari Rania. Hingga suatu kejadian menimpa saya, janin saya tidak berkembang setelah dilakukan rekap medis ternyata janin saya sudah meninggal didalam rahim. Akhirnya saya dilakukan pengangkatan janin" ucap harum.
"Setelah beberapa lama, saya pun harus dilakukan pengangkatan rahim itu dikarenakan rahim saya terkena virus. Dari semenjak itulah saya tidak akan bisa memberikan mas Panji keturunan, orangtua mas Panji menyuruh untuk mengambil Arif dan Kamila dari tangan Rania" ucap harum.
"Bohong! Itu semua bohong pak hakim, dia ini hanya depresi saja" ucap Panji.
"Apa mas bilang depresi? Iya aku memang depresi melihat perubahan besar atas dirimu dan keluargamu terhadapku, tapi apa yang saya katakan ini semuanya benar. Mereka menginginkan Arif dan Kamila hanya untuk dijadikan pewaris kerajaan bisnis yang mereka bangun" ucap harum.
"Satu lagi pak hakim, kesaksian Arif dan Kamila yang menginginkan ikut bersama mas Panji itu semuanya bohong. Mereka melakukan itu hanya merasa takut atas ancaman dari mas panji, dia adalah dalang dari kehilangan arif dan Kamila. Dan disana mas Panji sudah mengancam Arif dan Kamila untuk ikut dengannya ke rumah" ucap harum.
"Ibu harum apakah yang anda katakan itu benar adanya?" tanya pak hakim.
"Iya pak itu semua benar, jika bapak tidak percaya. Silakan bapak tanya sendiri kepada arif dan Kamila, sayang masuk nak" ucap harum.
"Ini Arif dan Kamila pak, maaf tidak seharusnya saya membawa mereka. Tapi jika pak hakim masih meragukan kesaksian saya, silakan bapak tanyakan kepada mereka" ucap harum.
"Baiklah setelah menimbang-nimbang kesaksian dari para saksi, maka sidang kali ini adalah hak asuh jatuh kepada Rania Kamila. Saya berharap keputusan saya tidak ada pihak yang keberatan, walau bagaimana pun anak adalah kebahagiaan sejati untuk para orangtua. Jadi untuk masalah Arif dan Kamila bisa dijadikan sebagai contoh, tak seharusnya anak hanya diberikan materi tapi juga kasih sayang, tak seharusnya anak dijadikan sebagai barang ketika orangtuanya bercerai dan tak seharusnya anak dijadikan. boneka yang bisa kita ajak kemana pun kita pergi' ucap hakim.
Tukk... Tuk... Tuk...
"Sidang saya tutup" ucap hakim.
__ADS_1