
Keadaan diasrama.
"Halo ibu Rania dan pak yoga" ucap ketua yayasan.
"Halo pak" ucap mereka.
"Wah seperti Arif dan Kamila sudah sangat lelah hingga langsung ke kamarnya" ucap ketua yayasan.
"Maaf pak" ucap yoga.
"Tidak apa-apa, yang terpenting mereka baik-baik saja" ucap ketua yayasan.
"Maaf pak, tapi mereka tidak bersama kami" ucap Rania.
"Maksudnya?" tanya ketua yayasan.
Akhirnya Rania dan yoga menjelaskan apa yang telah terjadi kantor tadi.
"Tapi pak ibu kenapa ini terjadi?" tanya ketua yayasan.
"Maafkan atas kecerobohan kami" ucap mereka.
"Baiklah saya akan membantu kalian, tapi saya tidak janji. Karena apabila seandainya pengadilan tau, mereka tidak ada dalam yayasan ini. Maaf saya tidak bisa membantu apa-apa, karena ini pertaruhan nasib saya" ucap ketua yayasan.
Setelah mereka kekantor polisi, mereka akhirnya pulang. Dilain situasi, Arif dan Kamila akhirnya sadar.
"Aaayahh..." ucap mereka.
"Syukurlah anak-anak ayah sudah sadar" ucap Panji.
"Ayah kenapa jahat kepada kami, lepaskan kami ayah. Kami ingin tinggal bersama bunda dan ayah yoga" ucap kamila.
"Usstt.. Sayang jangan nangis, kalian tau tidak sebenarnya bunda dan ayah kalian itu tidak menginginkan kalian buktinya mereka tidak mencari kalian" ucap Panji.
"Ayah bohong..." ucap Kamila.
"Ayah yoga dan bunda pasti mencari kami, kami yakin itu" ucap Arif.
"Begini saja, kami tinggal bersama ayah dan bunda harum. Nanti ayah akan lepaskan kalian, bagaimana?" tanya Panji.
__ADS_1
"Tidak ayah.. Kami tidak mau" ucap Arif.
"Kalian itu" ucap Panji sambil memukul mereka.
"Ampun ayah... Ampun..." ucap mereka.
"Jadi kalian masih ingin tinggal dirumah bunda Rania dan ayah yoga daripada sama ayah Panji dan bunda harum?" tanya Panji.
"Tidak ayah, kami akan tinggal bersama ayah. Ampun ayah..." ucap mereka.
Beberapa hari kemudian, setelah luka lebab pada tangan mereka sembuh. Akhirnya mereka dikembalikan ke asrama, dengan alasan bahwa Panji menemukan mereka dijalanan.
Keesokkan harinya sidang ketiga pun dilaksanakan, Rania lega akhirnya Arif dan Kamila bisa kembali di asrama. Karena Rania yakin bahwa mereka akan ikut bersama Rania, ternyata tidak salah. Sidang ketiga Rania kembali kalah, terlebih lagi mereka memberikan kesaksian bahwa ingin tinggal bersama ayah kandungnya.
Pengacara Rania merasakan ada hal yang aneh kepada Arif dan Kamila, karena sekembalinya mereka ke asrama bersama Panji. Mereka menjadi murung dan lebih suka diam, lantas pengacara Rania mengajukkan keberatannya tapi mereka meminta ijin untuk menghentikan ini semua hingga Arif dan Kamila kembali menjadi periang dan ceria kembali.
Meski begitu sesuai keputusan hakim dan jaksa, Arif dan Kamila akan tinggal bersama Panji. Dirumah Panji sebenarnya mereka mendapatkan apa yang tidak mereka dapatkan yaitu kemewahan, namun mereka tak terlihat menikmati kemewahan yang diberikan oleh Panji.
Lama kelamaan orangtua Panji dan harum semakin tertekan melihat anak kecil itu, dan mereka merasa kasian kepadanya. Namun Panji tetap tidak akan mengembalikan arif dan Kamila, karena menurutnya mereka adalah penerus dari kerajaannya.
Hingga suatu malam..
"Apa?" tanya Panji.
"Kamu sibuk enggak mas? Aku ingin bicara sama kamu tentang Arif dan Kamila" ucap harum.
"Kenapa dengan mereka?" tanya panji.
"Mas sepertinya mereka tidak menyukai semua yang kita kasih" ucap harum.
"Kamu itu tau apa? Mereka tidak mungkin tidak menyukai apa yang aku untuk mereka, buktinya mereka senang-senang saja. Mereka juga menerimanya, sudah aku ngantuk. Kamu jangan ikut campur urusan aku dengan kedua anakku, kamu bukan ibunya jadi kamu tidak akan tau apa yang mereka butuhkan" ucap Panji.
Deg... Hati harum merasa terpukul ketika mendengar ucapan suaminya dan harum kebawah untuk menenangkan dirinya.
"Ya ampun mas, tega kamu bicara seperti itu sama aku" gumam harum.
"Aku memang bukan ibu kandungnya namun aku juga pernah menjadi seorang ibu walaupun hanya sebentar" gumam sambil menetes air matanya.
"Tante sedang apa?" tanya Arif.
__ADS_1
"Sayang kalian sedang apa disini?" tanya harum.
"Ini Tante tadi Ade Kamila ingin minum jadi aku anterin dia untuk mengambil minum" ucap Arif.
"Tante harum kenapa menangis? Siapa yang bikin Tante menangis? Ayah Panji ya?" tanya Kamila.
"Bukan sayang, ini sudah malam sayang. Yuk Tante anterin kalian ke kamar" ucap harum.
"Tante yang sabar ya, ayah memang begitu Tante. Dulu saja bunda sering dibuat menangis seperti Tante, tapi untungnya bunda sabar dan sekarang sudah ada ayah yoga yang bisa bikin bunda tertawa dan tersenyum" ucap Arif.
"Iya Tante, jangan menangis. Kata bunda jika ada masalah lebih baik kita berdoa saja supaya masalahnya cepat selesai" ucap Kamila.
"Iya sayang, terima kasih iya" ucap harum.
"Sayang Tante boleh tanya enggak?" tanya harum.
"Apa Tante, silakan" ucap Arif.
"Jawab dengan jujur, apa kalian bahagia berada disini?" tanya harum dengan merekam ucapannya.
"Kalau boleh kita memilih sebenarnya kita ingin tinggal bersama bunda Rania dan ayah yoga Tante, tapi..." ucap Kamila.
"Tapi apa sayang, ayo cerita sama Tante?" tanya harum.
"Tapi ayah Panji mengancam kami Tante" ucap Arif.
"Mengancam kalian? Maksudnya?" tanya harum.
"Iya Tante, ayah Panji mengancam kami akan disekap lagi digudang itu" ucap Kamila.
"Ya Allah mas Panji keterlaluan, jadi kalian pernah disekap sama ayah Panji?" tanya harum.
"Iya Tante" ucap mereka.
"Iya sudah, kalau begitu kalian jangan takut ya. Tante janji kapanpun kalian ingin bertemu dengan bunda dan ayah yoga, Tante siap anterin kalian" ucap harum.
"Serius Tante?" ucap mereka dengan girang.
"Iya dong sayang, sekarang kan masih malam. Yuk kita tidur lagi, Tante boleh kan tidur bersama kalian, peluk kalian" ucap harum.
__ADS_1
Mereka akhirnya tertidur pulas dalam pelukan hangat dari harum.