
Pak Broto sengaja tidak memberitahukan pihak keluarga yoga, karena dia yakin ini adalah aib keluarga. Sebelum dia tau semuanya, maka dia tidak ingin memberitahukan kepada siapapun.
Sementara Roy dan putri masih berusaha mencari pelaku penembakan sahabatnya, jauh di lubuk hati mereka. Mereka sangat-sangat merasa menyesal, mereka tidak bermaksud mengundang bahaya untuk sahabatnya sendiri.
Baik Roy ataupun putri, mereka berdua sudah meminta maaf ke Rania dan keluarganya atas insiden ini. Rani dan keluarganya tidak pernah menyalahkan Roy atau putri sama sekali, yang mereka pikirkan saat ini adalah kesembuhan yoga.
Sudah hampir tiga bulan, Rania mendampingi yoga dirumah sakit. Bahkan Rania harus meninggalkan baby Januar dirumah orangtuanya demi merawat sang suami, dia sangat-sangat berharap suaminya cepat sadar.
"Sayang bagaimana dengan keadaan yoga" ucap papa Rania.
"Rania tidak tau papa, sampai kapan mas yoga akan sembuh" ucap Rania.
"Sayang kamu jangan putus asa nak, dampingi nak yoga terus. Karena saat-saat sekarang dia hanya butuh support dari kamu sayang" ucap mama Rania.
"Tapi ma... Rania tidak enak kalau harus sering-sering meninggalkan baby Januar bersama kalian" ucap Rania.
"Sayang kamu tidak perlu merasakan tidak enak dengan mama papa, kami senang bantu anak kami yang satu ini" ucap mama Rania.
"Bunda... Ayah kapan sembuh?" tanya Arif.
"Bunda tidak tau sayang, kita berdoa saja" ucap Rania.
"Jahat sekali bunda yang sudah bikin ayah Kamila sakit" ucap Kamila.
"Sayang tidak usah bicara seperti itu, mungkin orang itu hanya hilaf sayang" ucap Rania.
"Kami rindu ayah bunda, biasanya kalau malam hari kita lagi bercanda-canda dikamar bersama ayah" ucap Arif.
"Iya bunda, Kamila juga rindu sama kejutan-kejutan yang selalu ayah berikan sama Kamila" ucap Kamila.
Rania yang tanpa sadar meneteskan air matanya, karena dia tak kuasa menahannya. Rania menyadari bahwa yoga adalah seorang ayah tiri yang terbaik Allah berikan untuk kedua anak-anaknya, dia benar-benar bersyukur bahwa kedua anaknya mendapatkan kasih sayang yang tak pernah mereka dapatkan dari ayahnya.
"Bunda kok nangis? Bunda sedih iya?" tanya Arif.
"Bunda tidak sedih sayang, bunda hanya merasa bahwa kalian sudah semakin pandai" ucap Rania.
"Iya dong, anak siapa dulu" ucap Arif.
"Bunda Rania dan ayah yoga" ucap Kamila.
"Sayang sudah malam, tidur sana. Nanti terlambat bangun loh" ucap Rania.
"Siap bunda" ucap keduanya sambil meninggalkan Rania dan mbahnya.
"Sayang kamu juga istirahat gih pasti kamu sangat-sangat lelah sekali" ucap mama Rania.
__ADS_1
"Iya ma" ucap Rania sambil mengambil baby Januar dari keranjang tidur bayi.
"Loh.. Loh.. Sayang, Januar biar sama kami saja" ucap mama Rania.
"Tidak ma pa, Januar malam ini bersama Rania saja. Tidak apa-apa kan?" ucap Rania.
"Sudah ma, biarkan Rania berdua Januar. Rania pasti sangat merindukan baby janur, iya kan sayang?" tanya papa Rania.
"Iya pa" ucap Rania.
"Iya sudah kalau begitu, baiklah tapi bila kamu kelelahan bilang dengan kamu sayang" ucap mama Rania.
Rania langsung menuju kamarnya dengan menggendong baby Januar, dikamar dia menangis ketika melihat Januar dan berkata "Sayang maafkan bunda, bunda merasa bersalah kamu harus bernasib sama dengan mamas dan mbamu yang harus tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahmu disaat kamu baru melihat dunia ini" ucap Rania.
"Tapi sayang, kita harus kuat demi ayahmu yang sedang sakit. Kita doain ayahmu sayang, agar ayahmu lekas sembuh" ucap Rania.
"Anak bunda yang ganteng, persis seperti ayahmu" ucap Rania.
"Ya Allah, sembuhkanlah suamiku, ayah dari anak-anakku. Ya Allah aku pernah kehilangan imamku, aku mohon jangan kalau lakukan hal yang sama. Aku tidak sanggup jika harus kehilangan imamku yang terbaik ini, dia adalah imam yang selalu menuntunku kejalanmu, menyempurnakan keimananku dan memberikan kasih sayang dan cintanya yang kepada kedua anakku yang haus akan itu" ucap Rania.
Saat mata terbuka, Rania melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Dia bergegas melakukan rutinitasnya sebagai seorang ibu, saat dia sedang masak dia termenung. Dia sangat merindukan pelukan dan ciuman suami tercinta.
"Sayang kamu kenapa?" tanya mama Rania.
"Nak jangan lemah sayang, kasian anak-anakmu. Jangan bersedih ya, pasrahkan semuanya kepada sang illahi nak" ucap mama Rania yang juga terpukul melihat buah hatinya sakit batin.
Setelah kedua anaknya berangkat sekolah. Tok.. Tok.. Tok...
"Selamat pagi ibu" ucap kurir pos.
"Iya pak ada apa?" tanya Rania.
"Bisa saya bertemu dengan Ibu Rania Kamila?" tanya kurir pos.
"Iya saya sendiri, ada apa?" tanya Rania.
"Ini ibu ada titipan berkas dari kantor urusan agama, silakan ibu tandatangani serah terimanya" ucap kurir pos.
"Siapa sayang yang datang?" tanya mama Rania.
"Dari tukang pos ma, nganterin berkas" ucap Rania sambil membolak-balik surat itu.
"Apa nak isinya, ayo kita buka dan baca bersama-bersama" ucap mama Rania.
Deg.. Deg..
__ADS_1
"Surat Banding Hak Asuh Anak!" ucap Rania.
"Apa maksudnya sayang?" tanya papa Rania.
"Mas Panji ma pa, dia mengajukkan surat Banding atas hak asuh anak Arif dan Kamila" ucap Rania.
"Brengsek! Apa-apaan ini, Panji harus papa kasih pelajar" ucap papa Rania.
"Jangan pa.. Kalau papa kesana, dan papa hajar dia. Itu bukan solusinya pak, malah nanti akan menyusahkan Rania dipersidangan pa" ucap Rania.
"Betul pa, ingat papa punya darah tinggi juga loh" ucap mama Rania.
"Terus sekarang apa yang akan kamu lakukan sayang?" tanya mama Rania.
"Rania akan mengikuti prosedur yang ada ma pa, Rania akan hadir dipersidangan nanti" ucap Rania.
"Kamu sendiri sayang?" tanya papa Rania.
"Entahlah ma, ma pa kan tau. Bahwa Rania tidak mungkin sanggup menyewa pengacara handal" ucap Rania.
Tiba-tiba...
"Ran kamu jangan hawatir, biar pengacaraku yang urus semuanya" ucap putri.
"Put sejak kapan kamu disitu?" tanya Rania merasa terkejut yang tak menyadari ada tamu.
"Sejak kamu membaca surat itu" ucap putri.
"Nak putri serius akan membantu Rania?" tanya mama Rania.
"Iya Tante, putri janji akan menyewakan pengacara yang handal untuk Rania. Putri tidak akan bisa membiarkan pria itu mengambil apa yang seharusnya menjadi milik sahabatku Rania" ucap putri.
"Put.. Terima kasih banyak, terima kasih sudah membantuku" ucap Rania.
"Sudah ran, jangan menangis lagi. Ini adalah bentuk ucapan maaf aku, karena acara pernikahan aku, suamimu sekarang koma" ucap putri.
"Tidak put, itu semua bukan salah kalian. Itu semua musibah, orang itu memanfaatkan acara kamu saja" ucap rania.
"Rania besok kamu akan aku kenalkan pengacara handalku, kamu siap?" tanya putri.
"Aku siap put" ucap Rania.
"Iya sudah aku pamit ke kantor dulu semuanya, ran ini ada sejumlah uang. Terima iya untuk kebutuhan anak-anakmu, maaf aku tidak bisa memberikan yang seperti suamimu berikan" ucap putri.
"Iya tidak apa-apa out, jadi merepotkan kamu" ucap Rania.
__ADS_1