
Flash back..
Disaat harum setelah hamil, harum merasakan bahwa janin dalam kandungan aneh. Walaupun usia kandungannya sudah menginjak 5 bulan, namun perutnya masih terlihat sangat kecil. Akhirnya Panji dan harum pergi kerumah sakit untuk cek up.
"Maaf pak Bu, setelah dilakukan rekap medis berulang kali. Dan hasil sama, maka saya harus memberitahukan ini. Kandungan ibu bermasalah pak" ucap dokter.
"Maksudnya?" tanya Panji.
"Kandungan ibu memang tidak berkembang, bahkan janin ibu sudah meninggal dalam rahim. Jadi harus dilakukan operasi segera, tetapi saya juga menemukan kelainan pada rahim ibu" ucap dokter.
"Kelainan? Maksud dokter apa? ucap harum.
"Sebenarnya ini masih di cek ulang, tapi yang mesti kita lakukan adalah operasi pengangkatan janin anda. Jika ini tidak dilakukan akan berbahaya bagi kesehatan ada, karena virus dari janin itu akan menyebar" ucap dokter.
Seminggu kemudian dilakukan operasi pengangkatan janin, mama panji sangat terpukul karena kejadian itu.
"Nak kok bisa sih calon anakmu meninggal dalam rahim?" tanya mama Panji.
"Panji dan harum juga tidak tau ma, padahal kami sudah mengikuti semua yang dianjurkan dokter" ucap Panji.
"Bagaimana kalau sampai harum tidak dapat memberikan keturunan? Lalu tahta kerajaan keluarga ini tidak ada penerusnya" ucap papa Panji.
"Kalau sampai itu terjadi, mama minta kamu ambil anak-anakmu dari tangan Rania. Supaya kerajaan keluarga ini punya penerus sayang" ucap mama Panji.
Panji hanya mengangguk, beberapa Minggu kemudian setelah operasi pengangkatan janin. Dokter kembali mengabarkan berita buruk.
"Maaf ibu bapak, saya mohon kami tetap bersabar. Karena seperti yang saya bilang dulu soal kelainan pada rahim ibu itu benar, ternyata penyebabnya adalah virus yang disebabkan oleh janin yang membusuk di rahim" ucap dokter.
"Lalu apa yang harus kita lakukan dok?" tanya Panji.
"Kita harus melakukan pengangkatan rahim Bu pak, jika kita terlambat maka virus itu akan menyebar ke tubuh ibu" ucap dokter.
__ADS_1
"Tidak... tidak... mas, aku tidak mau kalau rahimku diambil. Aku mohon mas, aku tidak ingin bila aku tak bisa memberikan kamu keturunan mas. Belum kering tanah makam anak kita, sekarang aku harus mengalami. Ya Allah apa ini? Mengapa ujian terlalu besar" ucap harum.
Sejak saat itulah kedua orangtua Panji terus mendesak Panji untuk mengambil Arif dan Kamila dari Rania, sehingga Panji merasa jenuh dan mulai berusaha menuruti keinginan kedua orangtuanya.
Flash off..
"Sayang kamu lama sekali, dari mana saja sih?" tanya yoga.
"Aku habis ketemu Panji, mas" ucap Rania.
"Apa?" tanya yoga.
"Iya aku habis bertemu dia, mas. Aku tidak rela dia mengambil Arif dan Kamila, mereka adalah semangatku mas. Hiks.. Hiks.. Tanpa mereka aku akan mati mas" ucap Rania.
"Sayang kamu tenang dulu, kamu sabar. Panji tidak akan bisa mengambil anak-anak kita sayang, aku janji sama kamu apapun yang terjadi, aku tidak akan melepaskan mereka sayang. Mereka adalah bagian hidupku juga, walaupun mereka bukan anak-anak ku namun aku sudah sangat menyayangi dan mencintai mereka dengan tulus dan ikhlas sayang" ucap yoga.
"Terima kasih mas" ucap Rania.
"Bunda.." ucap Kamila sambil memeluk Rania.
"Kok ayah menangis?" tanya Arif.
"Iya bunda juga, kenapa menangis?" tanya Kamila.
"Sayang ayah dan bunda tidak menangis, iya kan bunda" ucap yoga.
"Terus itu kenapa ada air mata di pipi?" tanya Kamila.
"Ohh.. Ini? Ini tadi gentingnya bocor, tadi kan gerimis sayang" ucap bunda.
"Memang iya mamas tadi gerimis?" tanya Kamila.
__ADS_1
"Tidak tau de, tadi mamas kan dikelas" ucap Arif.
"Terus itu pipi ayah kenapa?" tanya Kamila.
Tanpa ada jawaban.
"Sudah.. Sudah... Sekarang ayo kita pulang saja, pasti kalian laper kan?" tanya Rania.
"Iya bunda, bunda hari ini masak apa?" tanya Kamila.
"Bagaimana kalau makan siang kita adalah mie ayam ala bunda Rania? Setuju" ucap Rania.
"Setuju bunda, apapun masakan bunda pasti eeeemmm nyami. Iya kan ayah mamas" ucap Kamila.
Sesuai keinginan Rania, yoga tidak masuk kantor dahulu. Seharian mereka bercanda tawa bersama, hingga tak terasa hari sudah gelap. Dan mereka masuk kedalam masing-masing, namun didalam kamar.
Rania tak merasa tenang, dia merasa hawatir dan terus memikirkan soal Panji. Tiba-tiba..
"Sayang kamu kenapa? Sudah jam 12 belum tidur?" tanya yoga.
"Enggak apa-apa mas, kalau mas sudah ngantuk tidur saja" ucap Rania.
"Sayang bagaimana aku bisa tidur, sementara guling aku masih berkeliaran?" ucap yoga sambil memandang Rania.
"Iya iya mas, ayo kita tidur" ucap Rania.
"Sayang aku tau apa yang kamu pikirkan, aku mohon sayang jangan terlalu dipikirkan. Ingat didalam sini (sambil mengusap perut Rania) ada calon anak kita dan adik dari Arif dan Kamila" ucap yoga.
"Iya mas, maafkan aku iya" ucap Rania.
Mereka pun tidur terlelap hingga fajar menyingsing, seperti biasa mereka sarapan bersama dan yoga mengantarkan kedua anaknya ke sekolah.
__ADS_1
Disekolah dari kejauhan Panji melihat senyuman yang tulus dari Arif dan Kamila, tanpa dia sadari air matanya berjatuhan. "Seandainya saja waktu bisa diputar kembali, mungkin aku akan bahagia bersama mereka. Untuk apa harta melimpah namun keturunan tak ada, benar kata mama aku harus ambil sidang banding atas hak asuh anak" gumam Panji.