
Putri dan Roy masih tetap mencari tau siapa dalang dari penembakan yoga, sementara Rania harus berurusan dengan sidang yang tak akan pernah dia inginkan, sudah susah payah dia melepaskan masa lalunya. Kini dia harus berharap dengan mantan suami yang tak pernah bersikap dewasa.
Sidang pertama kali ini membahas soal perjalanan hidupku bersama kedua anak-anakku, dan cara aku menghidupi mereka berdua.
Sungguh pilu memang, karena semenjak berpisah tak kurang dari dua kali dia memberikan nafkah itupun karena desakan dari orangtua rania. Setelah itu hilang entah kemana, sekarang dia harus datang dengan menanyakan kedua anak-anaknya.
Masihkah pantas seorang ayah yang meninggalkan anak-anaknya sekian lamanya, lalu bertanya tentang anak-anaknya? Masih pantaskah bahwa hak asuh anak diminta cuma hanya tidak sanggup membiayai mereka? Terlebih lagi, dahulu karena hasutan dari keluarganya. Dia meragukan anak keduanya.
Sidang pertama pun telah berakhir...
"Aku tidak akan gentar untuk menegakkan keadilan" ucap Panji.
"Keadilan dalam bentuk apa tuan Panji yang terhormat?" tanya Rania.
"Anak-anak harus ikut aku, karena kamu tidak bisa mendidik dan membiayai anak-anakku" ucap Panji.
"Apa hak kamu? Kamu memang ayah biologisnya, namun jangan lupa tuan Panji terhormat. Kamu sudah membuang kami seperti sampah, dan sekarang kamu meminta mereka kembali kepadamu? Jangan harap! Sebanyak apapun harta yang kau miliki, tak akan pernah membeli kebahagiaan sejati. Camkan itu!" ucap Rania.
"Tunggu akan tiba saatnya" ucap panji.
"Sabar ibu, ibu harus tenang. Saya tau batin ibu tersiksa, namun ibu harus sabar" ucap Melli.
"Tapi ibu dia sudah keterlaluan..." ucap Rania.
Seperti biasa orangtua menanyakan hasil sidangnya, namun Rania seperti biasa pula menjawab dan tidak ingin membahasnya lebih lanjut. Karena dia tau, pasti hati orangtuanya akan semakin terluka jika mengetahui sidang pertama membahas soal apa.
Kring.. Kring..
"Iya halo" ucap Rania.
"Ran kamu bisa kekantor aku?" tanya putri.
"Baik put" ucap Rania.
Setelah setengah jam berlalu
"Ada apa put?" tanya Rania.
"Kamu lihat ini, adakah yang kamu kenal?" ucap putri.
"Astaga put, ini sih mantan direkturku dulu. Kamu dapet darimana? Jadi..." ucap Rania.
__ADS_1
"Aku dapet dari anak buahku ran" ucap putri.
"Put aku pergi dulu, aku ingin bertemu dengan pak Broto. Karena dulu beliau mengangkat jabatan mas yoga, namun kenapa menantunya yang melakukan ini?" ucap Rania.
"Ran jangan emosi, tenang. Siapa tau memang pak Broto tidak mengetahui tentang peristiwa ini" ucap putri.
"Iya makanya put, aku ingin langsung menanyakannya. Aku pergi iya" ucap Rania.
"Iya hati-hati" ucap putri.
Dirumah pak Broto.
"Permisi..." ucap Rania.
"Buset ini rumah apa rumah? Tapi kok sepi amat iya" gumam Rania.
"Iya mba ingin cari siapa?" tanya Nuri.
"Pak Brotonya ada mbak?" tanya Rania.
"Sebentar saya panggilkan, dengan mba siapa?" tanya Nuri.
"Permisi tuan, diluar ada rania" ucap Nuri.
"Steven ada dirumah tidak bi?" tanya pak Broto.
"Tidak tuan, dia sedang pergi. Biasanya pulang malam" ucap Nuri.
"Ajak dia keruangan saya bi" ucap pak Broto.
"Rania siapa papi?" tanya Cantika.
"Dia istri dari suami yang ditembak oleh Steven" ucap pak Broto.
"Kalau gitu aku ikut Pi, dia pasti sudah tau tentang mas Steven. Aku akan memberikan penjelasan kepadanya Pi, aku mohon" ucap Cantika.
"Boleh sayang" ucap pak Broto.
Belum sempat pak Broto dan Cantika memberikan penjelasan, Rania sudah naik tikam.
"Ini apa pak maksudnya? Bukankah bapak yang menginginkan mas yoga menjadi CEO, lalu kenapa menantu bapak melakukan ini? Apa salah suami saya pak?" tanya Rania.
__ADS_1
"I...Itu..." ucap pak Broto yang bingung menjelaskannya, karena bila dia menjelaskan maka dia akan membuka aib keluarga.
"Jawab tuan Broto yang terhormat!" ucap Rania yang semakin marah.
"Mbak Rania, biar saya yang menjelaskan" ucap Cantika.
Setelah Cantika menjelaskan panjang lebar, akhirnya Rania mengerti.
"Lalu kenapa sampai suami saya jadi sasarannya?" tanya Rania yang merasa bingung.
"Ibu Rania, maafkan keluarga saya. Sebenarnya saya juga masih menyelediki motif menantu saya hingga berani dan nekad melakukan itu untuk kedua kalinya, saya janji ibu akan membantu ibu Rania mencari keadilan bagi suami ibu" ucap pak Broto.
"Baiklah saya percaya kepada tuan, saya harap ini masalah cepat selesai" ucap Rania.
"Iya mbak, terima kasih sudah mengerti kondisi kami saat ini" ucap Cantika.
Setelah Rania pulang...
"Pi bagaimana ini? Kasian mba Rania, tapi bagaimana kita memasukkan mas steven? Sedangkan sampai saat ini kita masih belum punya bukti apa-apa" ucap Cantika.
"Sabar sayang, kita berdoa saja. Semoga kita bisa cepat menyelesaikannya, sayang sepertinya itu suara mobil Steven" ucap pak Broto dengan hawatir.
Mereka pun bersikap seperti biasanya...
"Steven tunggu nak!" ucap pak Broto.
"Iya Pi ada apa?" tanya steven.
"Steven bagaimana perusahaan setelah kamu menjadi CEO?" tanya pak Broto.
"Lancar Pi, malah semakin meningkat. Kalau papi tidak percaya cek saja, papi seharusnya milih aku daripada yoga. Dia tau apa sih Pi?" ucap Steven.
"Iya nak, maafin papi ya. Untung ada kamu, jika tidak perusahaan papi tidak tau bagaimana sekarang" ucap pak Broto.
"Iya sudah Pi, aku masuk dulu ingin melihat istri tercintaku dulu" ucap Steven.
"Halo sayang, suamimu sudah pulang" ucap Steven.
"UPS.. Kamu kan tidak bisa bicara" ucap Steven.
"Hahaha... Untung aku hari ini 10 juta, hasil korupsi di perusahaan mertua. Tapi ini belum cukup sebelum harta beliau habis, supaya kamu dan papimu merasakan betapa sulitnya hidup dijalanan" ucap Steven.
__ADS_1