
Dua hari kemudian yoga berangkat ke Jepang untuk pengobatannya, namun karena Rania harus menghadiri persidangan hak asuh anak. Rania terpaksa tidak mendampingi yoga kesana, yoga didampingi oleh mamanya dan orang kepercayaan pak Broto.
Setelah yoga pergi, Rania langsung diperkenalkan oleh pengacara keluarga pak Broto supaya dia bisa bekerjasama dengan ibu Melli.
Sidang kedua pun berlangsung setelah sidang pertama dimenangkan oleh Rania, sidang kedua dibahas tentang janji-janji Rania yang sanggup memberikan pembiayaan yang jika penafkahan dari sang mantan dirasa kurang.
Disini Rania merasa down saat ditanya soal bagaimana cara menafkahi anak-anaknya saat Rania tidak bekerja dan itu dijadikan senjata bagi Panji. Dan sidang kedua ini dimenangkan oleh Panji.
Rania sangat bingung, dia tidak ingin kehilangan kedua anaknya. Rania benar-benar merasa kecewa pada saat itu, masa-masa sulit dia harus lalui seorang diri.
Rania bertekad bahwa dia harus memenangkan sidang terakhir nanti, sepulang dari kantor pengadilan agama.
"Assalamualaikum" ucap Rania.
"Walaikumsalam sayang, bagaimana hasil sidang kedua kamu nak?" tanya mama Rania.
"Kali ini mas Panji yang menang mama" ucap Rania.
"Apa ran? Mantan suamimu yang menang?" tanya Cantika.
"Iya mba, mas Panji yang menang" ucap Rania.
"Mana mungkin ran? Seharusnya sidang itu kamu yang menang?" ucap Cantika.
"Saat sidang tadi, pengacara mas Panji menanyakan saat-saat tidak mendapatkan pekerjaan mba. Dia mengatakan kalau aku tidak sanggup membiayai kedua anakku, dengan bukti aku tidak bekerja dan aku harus menumpang dirumah orangtuaku" ucap Rania.
"Kenapa kamu tidak menjawab ran, kamu bisa balikkan. Kalau aku bekerja siapa yang anakmu yang kedua, terus dimana hati dia yang tidak pernah menafkahi anak-anaknya. Sebenci apapun dia terhadap kamu, yang namanya anak tetap satu darah ran" ucap Cantika.
"Iya mba, mungkin aku tadi tidak fokus jadi aku gagal kali ini" ucap Rania.
"Kamu kenapa? Pasti mikirin mas yoga ya?" tanya Cantika.
"Iya mba, kenapa setelah aku punya suami kok sepertinya aku seorang janda ya?" ucap Rania.
"Usstt.. Kamu itu bicara ngawur ran, ucapan itu doa loh" ucap Cantika.
"Iya sudah biar kamu tenang, ini nomor yang bisa kamu hubungi untuk video call sama mas yoga. Kamu nanti bicaranya pakai bahasa Indonesia saja" ucap Cantika sambil memberikan nomornya.
Kring.. Kring..
"Halo pak, saya Rania kamila, istri dari pak yoga" ucap Rania.
"Iya nyonya ada apa?" tanya pengawal.
"Bagaimana keadaan suami saya?" tanya Rania.
"Belum ada perubahan nya" ucap pengawal.
"Maaf pak tolong handphone didekatkan ke telinga pak yoga" ucap Rania.
"Sudah nya" ucap pengawal.
"Halo sayang, sayang aku kengen sama kamu. Anak-anak juga sudah kangen sama kamu, kapan kamu kembali ke Indonesia?" ucap Rania.
"Sayang kamu masih ingat kan lagu ini" ucap Rania.
Dengar suaramu
Aku rindu
Ingat dirimu
Ku ingin bertemu
Aku tak bisa
Musnahkan
__ADS_1
Dirimu
Tanpa cintamu
Aku lemah
Sungguh terasa
Hampa hidupku
Jangan biarkan
Ku musnah
Tanpamu
Aku menangis
Bila ku teringat
Saat bersamamu
Berdua denganmu
Aku yang hancur
Tanpamu
Dengar suaramu
Aku rindu
(Dengar suaramu)
Ingat dirimu
Ku ingin bertemu
Aku tak bisa
Musnahkan
Dirimu
Aku menangis
Bila ku teringat
Saat bersamamu
Berdua denganmu
Aku yang hancur
Tanpamu
Aku yang hancur
Saat kau tinggalkan
Saat kau menjauh
Dari sisiku
Aku yang lemah
Tanpamu
__ADS_1
HooHoo
HooHoo
Aku yang lemah
Tanpamu
Ku musnah
Tanpamu
"Sayang bangun dong please, aku ingin memperjuangkan Arif dan Kamila bersama-sama bukan seorang diri seperti ini. Bangun sayang demi kami, aku mohon sayang" ucap Rania.
Setelah video call Rania semakin rapuh, entah kemana dia harus mengutarakan keluh kesalnya. Terkadang para tetangga memandang bahwa dia penyebab yoga koma, karena dia dan mantan suami masih berhubungan.
"Ya Allah kenapa aku harus mengalami kondisi yang sulit ini untuk kedua kalinya. Tapi sekarang jauh berbeda, aku memang istri dari pria yang aku sangat sayangi. Namun kenapa saat-saat ini aku kembali merasa menjadi seorang janda?" gumam Rania.
Tok.. Tok.. Tok..
"Maaf dengan nyonya Rania?" tanya seseorang yang tak dikenal.
"Iya dengan saya sendiri" ucap rania.
"Saya dari pengadilan agama, berhubung akan dilaksanakan sidang ketiga dalam waktu dua lagi. Jadi pihak pengadilan memutuskan untuk mengambil Arif dan kamila, mereka akan kami pindahkan ke asrama pemerintah. Ini sudah tugas saya nyonya" ucap orang itu dengan membawa surat tugasnya.
"Jadi yang dibilang pas itu benar pak, kalau saya harus berpisah dulu? Tapi kenapa secepat ini, saya belum memberitahukan keluarga saya dan kedua anak-anak saya" ucap Rania.
"Baiklah kalau gitu, saya keringan waktu sampai besok. Besok saya kemari lagi, saya permisi nyonya" ucap orang itu.
"Ran siapa lagi dia?" tanya mama Rania.
"Dia adalah pihak asrama pengadilan ma" ucap Rania.
"Mau ngapain?" tanya mama Rania.
"Ini ma pa, semua penjelasan ada disitu" ucap Rania sambil memberikan surat tu.
"Berarti Arif dan Kamila harus tinggal di asrama dulu sayang, karena pihak ingin melihat tentang kedekatan kamu dengan anak-anak dan sebaliknya Panji dengan anak-anak?" tanya papa Rania.
"Iya pa ma, tapi Rania bingung bagaimana memberitahukan Arif dan Kamila. Hiks... Hiks..." ucap Rania.
"Sudah sayang, biar mama yang bilang sama mereka" ucap mama Rania.
Arif dan kamila sedang asyik bermain, mereka terlihat sangat akur sekali. Karena memang Arif sangat menyayangi adiknya, dia selalu mengalah dan dia juga selalu hawatir jika adik tak ada di pandangannya.
"Sayang lagi pada main apa?" tanya mama Rania.
"Ini mbah uti, mobil-mobilan dan boneka-bonekaan" ucap Arif.
"Sayang mbah uti ingin bicara dengan kalian" ucap Mbah uti.
"Ada apa Mbah uti" ucap Kamila.
"Sayang mbah uti dan mbah kung serta aunty Cantika akan pergi ke Jepang untuk menemui ayah kalian, kita akan menjenguk ayahmu kesana untuk waktu yang lama. Jadi kalau kalian tinggal di asrama, mau tidak?" tanya mama Rania.
"Kenapa kami harus tinggal disana mbah uti? Kami kan bisa tetap dirumah ini? Kan bunda ada disini?" tanya Arif.
"Sayang itu tidak mungkin, karena bunda kalian harus bolak-balik ke pengadilan untuk sidang. Karena biar kita bisa tinggal bersama lagi" ucap papa Rania.
"Lalu bagaimana dengan Ade Januar Mbah? Siapa yang jagain kalau kami tidak ada?" ucap Kamila.
"Mba Kamila kalau Ade Januar bisa bunda bawa sayang, masa iya bunda harus bawa kalian bertiga kalau ke pengadilan. Apa kalian tidak kasian sama bunda? Apa kalian tidak sayang sama bunda harus repot bawa kalian sendiri?' tanya Rania.
"Baik deh, tapi Mbah dan bunda harus janji. Kita akan tinggal bersama lagi, Arif dan Kamila tidak mau tinggal sama ayah Panji. Keluarga ayah Panji jahat selalu bikin bunda menangis" ucap Arif.
"Iya bunda kamila juga tidak ingin tinggal disana, bunda janji juga harus sering-sering ke asrama" ucap Kamila.
__ADS_1
"Baik sayang, bunda janji. Nanti bunda kan sering-sering ke asrama bersama Ade Januar biar kalian bisa bermain-main sama dia dan bunda janji sama Mamas Arif dan mba Kamila, kita akan tinggal bareng lagi bersama bunda, ayah, Mbah uti, Mbah kung dan juga Ade Januar. Kalian tidak marah kan sama kami kalau kalian harus tinggal disana?" tanya Rania.
"Tidak dong bunda, karena kami tau. Kalian sayang sekali sama kami" ucap mereka sambil memeluk mereka.