
Semenjak saat itu hubungan Rania dan harum semakin dekat, harum tidak segan mengantar Arif dan Kamila ketika Rania dan keluarganya merindukan Arif dan kamila.
Mungkin karena terlalu sering harum membawa Arif dan Kamila keluar bahkan ketika mereka bertiga tidak pernah sebentar, terkadang mereka keluar dari pagi hingga malam hari. Dan inilah yang mengundang kecurigaan Panji terhadap harum.
Panji akhirnya memutuskan untuk menyelidiki sebenarnya mereka kemana, karena sejak pertama kali harum membawa Arif dan Kamila, mereka terlihat sangat ceria dan senang sekali.
"Hari ini aku dikantor tidak banyak kerjaan, apa lebih baik aku ikuti harum dan anak-anak saja" gumam Panji.
"Selamat pagi mas" ucap harum.
"Pagi, anak-anak mana?" tanya Panji.
"Mereka lagi siap-siap mas, seperti semalam yang aku bilang bahwa aku akan mengajak mereka jalan-jalan. Boleh kan mas?" tanya harum.
"Iya tapi jangan malam-malam pulangnya" ucap Panji.
Panji berpura-pura berangkat ke kantor, selang beberapa menit. Akhirnya harum, Arif dan Kamila pun pergi.
Tanpa disadari oleh mereka Panji mengikuti dari belakang, setelah sekitar beberapa kilometer lagi.
"Loh ini bukannya arah rumah Rania? Mau ngapain harum dan anak-anak kesini?" gumam Panji.
"Itu benar kan, jadi selama ini mereka berbohong" gumam Panji dengan segala amarahnya.
"Ooohh.. Ini yang kalian mall?" ucap Panji dengan nada keras.
"M..mas Panji.." ucap harum.
"Ayah Panji" ucap Arif dan Kamila.
"Apa ini semua kamu yang menyuruh hah? Kamu ingin apa lagi? Kamu ingin hak asuh anak jatuh ke kamu lagi Rania? Jangan harap Rania, itu tidak akan terjadi" ucap Panji.
"Sekarang kalian pulang!" ucap Panji.
"Tapi ayah..." ucap Arif dan Kamila.
__ADS_1
"Pulang" ucap Panji.
Didalam perjalanan Panji tidak berkata apapun, dia hanya fokus kepada stir mobilnya. Sesampainya dirumah, Arif dan Kamila langsung menuju kamar atas perintah Panji.
"Apa yang kamu lakukan harum?" tanya Panji.
"Maaf mas, aku hanya ingin melihat Arif dan Kamila bahagia" ucap harum.
"Bahagia? Kamu tau apa soal bahagia hah? Mereka akan bisa bahagia bila mereka tinggal disini bersama kita, jadi jangan pernah kamu bawa mereka kegubuk itu" ucap Panji.
"Apa-apaan sih pagi-pagi sudah berantem? Panji? Bukannya tadi kamu berangkat ke kantor? Dan kami harum katanya ingin jalan-jalan sama Arif dan Kamila, mereka sekarang dimana?" tanya mama yoga.
"Bukan Panji yang ingin berantem mi, tapi dia! Dia yang sudah membawa Arif dan Kamila kerumah Rania" ucap Panji.
"Harum.. Apa benar?" tanya mama Panji.
"Iya mi, tapi harum lakukan ini supaya Arif dan Kamila bahagia. Karena mas Panji selalu mengusir Rania untuk bertemu dengan mereka" ucap harum.
"Harum kamu sadar tidak nak, mereka itu adalah cucu-cucu mami. Dan mami tidak ingin mereka pergi dari rumah, karena itu terjadi lalu bagaimana dengan pewaris keluarga ini harum" ucap mama yoga.
"Sudah cukup! Aku tidak ingin semua ini terjadi lagi, mulai sekarang jika kamu dan anak-anak ingin pergi harus membawa supir" ucap panii.
Ting..
SMS Harum : Ran aku minta maaf, karena aku benar-benar tidak tau bahwa mas Panji mengikuti kita.
SMS Rania : Iya enggak apa-apa, oiya surat keberatan aku diterima rum. Kemungkinan besok aku akan ke pengadilan agama untuk mengantarkan persyaratan.
SMS Harum : Iya aku dukung kamu, tapi jika nanti hak asuh kembali kepadamu. Aku mohon tetap ijinkan aku bertemu mereka.
SMS Rania : Arum, kamu bisa bertemu dengan mereka tanpa ada jadwal.
Jam sembilan pagi, Rania langsung menuju ke pengadilan dengan diantar oleh yoga. Disana dia langsung menunjukkan semua persyaratan.
Sidang keberatan kali ini akan dilakukan hanya sekali, dan Rania harus mengambil kesempatan ini
__ADS_1
Seminggu kemudian sidang pun berlangsung, sidang dimulai dari jam 8 pagi.
"Ibu Rania yang terhormat, apa yang membuat anda mengajukkan keberatan atas hak asuh anak ini" ucap pengacara Panji.
"Saya mengajukkan keberatan karena saya tau bahwa saya bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya" ucap Rania.
"Lalu apakah anda yakin jika suatu saat nanti anak yang anda kandung itu lahir, bapak yoga bisa menerima anak-anak anda" ucap pengacara Panji.
"Saya yakin dengan suami saya" ucap Rania.
"Bapak Panji yang terhormat, apakah anda bisa meluangkan waktu anda sedikit untuk sekedar bermain mereka?" tanya pengacara Rania.
"Iya tentu saja, kenapa tidak?" ucap Panji.
"Lalu kemana saja baru sekarang-sekarang ini anda muncul dan ingin mengambil hak asuh anak?" tanya pengacara Panji.
"Maaf pak hakim, saya keberatan. Client saya ini seorang pengusaha yang telah sukses diusia mudanya, jadi dia lumayan sibuk. Lagipula client saya mencari nafkah ujung-ujungnya untuk anak-anaknya juga" ucap pengacara Panji.
"Oke, saya tidak memungkiri jika orangtua mencari uang demi anak-anaknya. Tapi taukah anda bahwa mereka juga butuh kasih sayang bukan hanya materi. Cukup sekian saja" ucap pengacara Panji.
"Ibu Rania terhormat, seberapa patuhnya anda kepada ketentuan hukum?" ucap pengacara Panji.
"Saya sangat menaati peraturan, seperti yang semua ketahui. Saya tidak pernah melarang anak-anak ketemu dengan ayahnya, tapi karena dulu hak asuh ada ditangan saya jadi saya wajar jika ingin tau ayahnya membawa anak-anak kemana" ucap Rania.
"Lalu apa yang anda lakukan saat anak-anak berada dalam asrama? Anda dan suami anda sengaja untuk mengambil mereka dengan alasan mereka hilang? Tau memang ibu Rania sudah tidak menyayangi mereka sehingga ibu Rania mengabaikan mereka" tanya pengacara Panji.
"Maaf saya keberatan, kejadian itu bukan disengaja tapi itu semua musibah. Bukankah musibah datang tidak pernah ada yang tau?" ucap pengacara Rania.
"Jadi bukankah hak asuh sudah pantas berada kepada Bapak Panji karena dia sudah sangat-sangat berlaku adil dan bahkan dia sangat-sangat menyayangi kedua anaknya" ucap pengacara Panji.
"Saya keberatan pak hakim" ucap pengacara Rania.
Tukk.. Tukk .
"Sidang saya tunda hingga jam istirahat selesai, saya persilakan seluruh yang ada diruangan sidang untuk keluar" ucap pak hakim.
__ADS_1