
Baru saja kepalan tangan Maya ingin menyentuh daun pintu, pintu rumah Putra terbuka. Putra berdiri dengan sorot mata datar memandangi Maya.
“Dari cctv, aku melihat tante terlihat seperti orang bingung,” ucap Putra.
“I-iya, begini Putra. Se-sebenarnya…gas di rumah tante habis. Biasanya tukang gas yang memasangkannya, karena sudah malam, bisa tidak tante minta tolong sama kamu untuk memasang gas di rumah,” pinta Maya berbohong.
“Ya sudah,” sahut Putra tanpa penolakan.
“Kalau gitu mari,” ajak Maya berjalan terlebih dahulu, lalu Putra menyusul setelah mengunci pintu rumahnya.
Di saat Maya dan Putra jalan bersama menuju rumah Maya, Imelda baru saja memasuki gang kompleks. Imelda terlihat senang dengan sorot mata terus memandang ke bungkusan plastik berisi makanan instan di tangannya. Namun, langkah kaki Imelda harus terhenti saat dari kejauhan pandangannya terhenti pada punggung Putra memasuki gerbang rumah Maya. Senyum di bibir Imelda perlahan menguncup.
“Kenapa Putra bisa ke rumah jeng Maya? Apakah aku harus menyusulnya sampai ke sana?” gumam Imelda. Pandangan Imelda melirik ke plastik di tangannya. “Tapi, aku sudah berjanji akan memasak buat Putra. Sebaiknya aku biarkan saja Putra di sana, siapa tahu jeng Maya membutuhkan bantuannya, dan aku masak saja dulu,” lanjut Imelda memutus pikiran anehnya.
Imelda pun masuk ke dalam rumahnya, memasak makanan untuk Putra dan dirinya.
2 jam berlalu, Putra tak kunjung datang sesuai dengan janjinya kepada Imelda. Imelda terus melirik ke jam arloji di dinding ruang makan. Jarum panjang kini terhenti di angka 10.
“Kenapa Putra belum datang juga, ya? Apa dia lupa akan janjinya?” gumam Imelda terlihat cemas.
Tidak ingin terus menunggu di ruang makan, Imelda beranjak dari duduknya, kedua kakinya melangkah keluar rumah menuju rumah Putra, memastikan, apakah Putra sudah pulang atau masih di rumah Maya.
Tok tok!
“Putra, apakah kamu berada di rumah?” panggil Imelda.
Dari dalam terdengar suara kunci pintu rumah terbuka. Putra terlihat berdiri dengan baju sudah berganti piyama tidur.
“Ada apa?” tanya Putra seolah tak bersalah.
“Apakah kamu lupa dengan janjimu?” Imelda balik bertanya.
“Nggak, aku tidak lupa. Bukannya kamu sendiri yang mengatakan kepada tante Maya kalau mau makan di luar dengan seseorang, dan tidak jadi makan malam bersamaku,” sahut Putra mengingat ucapan Maya tadi.
__ADS_1
“Ti-tidak, mana ada aku mengatakan hal seperti itu! aku bukan tipe seorang wanita yang ingkar janji. Di-di rumah aku terus menunggumu hingga makanan yang aku masak sudah dingin,” jelas Imelda sendu.
“Maaf, tapi aku sudah makan tadi di rumah tante Maya. Kalau memang kamu masak, dan makanannya belum di sentuh, maka masukkan saja ke dalam lemari pending. Bukannya besok bisa kamu makan lagi,” ucap Putra datar.
Imelda tertegun, hatinya terasa sakit saat Putra mengatakan hal kejam seperti itu. Susah payah ia memasak, menahan lapar hanya untuk menunggu Putra datang. Namun, pada akhirnya orang di tunggu malah percaya akan ucapan orang lain.
“Oh, kalau gitu aku permisi,” pamit Imelda dengan wajah sendu.
Imelda melangkah dengan perasaan kecewa berat kepada Putra. Imelda juga sangat tak menyangka jika Maya berani melakukan hal itu kepadanya.
Sesampainya di rumah, Imelda mendudukkan dirinya di kursi makan, sorot mata sendunya menatap lirih ke makanan di atas meja. Hatinya benar-benar merasa kecewa hingga tetesan air mata tak terasa jatuh di kedua pipinya.
Tidak ingin terlarut dalam rasa kecewa, Imelda langsung menyeka air matanya, ia pun beranjak dari duduknya, memanaskan kembali masakan ia masak untuk di bagikan ke penjaga kompleks agar makanannya tidak mubazir.
Setelah semua masakan di masukkan ke dalam rantang, Imelda berniat untuk keluar dari rumahnya, membagikan makanan miliknya ke pos penjagaan.
“Assalamualaikum! Malam Pak Bagus, Pak Hendra, dan Pak Susilo,” sapa Imelda setelah berdiri di pos penjagaan di depan gang kompleks.
“Bapak-bapak sudah makan malam?” tanya Imelda meletakkan 2 rantang tingkat 3 di atas meja.
“Kebetulan Pak Susilo mau pergi membeli gorengan untuk menambah tenaga, Bu,” sahut Hendra di angguki Susilo dan Bagus.
“Berarti kedatangan aku pas nih, kebetulan aku tadi masak banyak sekali makanan, karena hanya tinggal sendiri, dan makanannya tidak habis. Jadi aku bawakan saja untuk bapak-bapak di sini. Mau ‘kan Pak?”
“Mau, tentu saja kami mau,” sahut Bagus cepat.
“Kalau gitu ini makanannya, untuk rantangnya besok saja pulangi,” ucap Imelda.
“Wah, beneran nih, bu? Apa ibu tidak merasa rugi memberikan makanan ini kepada kami?” basa-basi Susilo.
“Tidak. Karena sudah malam, sebaiknya aku kembali pulang,” sahut Imelda sekalian berpamitan.
“Terimakasih, bu!” terimakasih Susilo, Bagus dan Hendra bersamaan.
__ADS_1
Imelda mengangguk, lalu meninggalkan pos penjagaan. Di gang kompleks itu Imelda terus berjalan dengan kepala tertunduk. Namun, Imelda langsung memicingkan matanya setelah mendengar suara sepeda motor matic milik Maya melintasinya, berusaha cuek dengan perlakuan Maya padanya.
Lain dengan Maya, Maya terlihat tidak puas melihat sikap santai Imelda. Ia pun melajukan sepeda motor matic miliknya dengan pelan agar seirama dengan langkah kaki Imelda.
“Sepertinya untuk melakukan makan malam dengan brondong ku gagal, ya?” tanya Maya seolah tak menutupi kesalahannya.
“Sepertinya aku tidak perlu mencemaskan Putra lagi sekarang. Kalau besok semisal aku tidak masak, ‘kan ada jeng Maya dan jeng lainnya bisa menyajikan makanan untuknya,” sahut Imelda tenang. Baginya tidak penting marah untuk hal kecil.
Mendengar ucapan santai dari Imelda, hati Maya mendadak panas. Niat hati ingin membuat Imelda membenci Putra, malah Imelda seperti merasa lega.
“Oh, tentu saja aku dan janda lainnya akan memperhatikan Putra. Jadi, aku tekankan sama kamu, jangan terus-terusan menempel pada Putra, karena dia bukan hanya milikmu seorang. Putra itu milikku juga, jangan serakah!” tegas Maya memberitahu.
“Iya, lagian aku dan dia hanya sebatas bos dan karyawan. Kalau di kompleks aku hanya menganggapnya sebagai tetangga, nggak lebih,” sahut Imelda masih tenang.
Langkah kaki Imelda terhenti di depan gerbang rumahnya, begitu juga dengan Maya menghentikan sepeda motornya di depan gerbang rumah Imelda.
“Sekali lagi aku peringatkan ke kamu, janda hiper. Kamu harus menjaga jarak darinya selain di lingkungan pekerjaan. Jika kau masih terus ingin menempel padanya dan berharap lebih. Maka aku akan membuat rencana lebih gila lagi untukmu!” ancam Maya serius.
“Iya, kalau gitu aku boleh masuk?” tanya Imelda lembut, tangannya mengarah pada gerbang rumahnya.
“Iya, aku pun sudah selesai. Oh, tunggu!”
“Hem! Ada apa lagi jeng?” tanya Imelda sebagian tubuhnya berada di gerbang.
“Jangan kasih tahu ucapanku tadi kepada Putra atau janda-janda di kompleks ini. Paham kamu!”
“Paham,” angguk Imelda patuh.
“Ya sudah, masuk sana. Aku tidak ingin Putra melihat aku di sini,” cetus Maya mulai menghidupkan mesin sepeda motornya dan mulai melajukan nya.
Setelah Imelda masuk ke dalam rumah, dan Maya pergi meninggalkan rumah Imelda. Salah satu kain jendela di ruang tamu milik Putra bergoyang, seolah ada seseorang baru saja berdiri di sana.
Bersambung
__ADS_1