Kompleks Janda

Kompleks Janda
50. Kedua orang Asing


__ADS_3

Menyadari pandangan aneh dari tetangga barunya. Imelda hanya memantau tanpa melakukan apa pun, dan melihat gimana reaksi Putra.


Menyadari ada Putra di belakang. Maya, Rihana dan Mama Inces menundukkan sedikit tubuh mereka, berpura-pura basa-basi kepada Aluna demi mendapatkan perhatian Putra.


“Aduh, duh! Kenapa gadis kecil ini bisa ada di sini?” gemes Mama Inces sambil membelai puncak kepala Aluna.


“Maaf ya, Aluna. Tante Maya harap Aluna tidak mendengarkan apa pun tadi,” sambung Maya dengan suara gemasnya.


“Kamu lucu banget sih, saat memasang mimik wajah seperti itu. Aduh, duh! Tante jadi ingin memiliki anak seperti kamu,” ucap Rihana tak mau kalah.


Tetangga baru tersebut diam, memperhatikan Aluna kemudian Putra, lalu ia membatin.


‘Apakah gadis kecil itu anak dari pria muda yang tampan itu? Kalau memang benar, sungguh di sayangkan.’


Terlampau sering mendengar Maya dan Rihana berbicara hal dewasa saat ada Aluna. Putra akhirnya menegur mereka dengan halus.


“Maaf tante. Aku minta lain kali perhatikan sekeliling kalian sebelum berbicara hal dewasa. Jangan sampai Aluna mengerti semuanya sejak dini karena tante-tante ini asal ceplos berbicara,” tegur Putra sopan.


Bukannya marah, Rihana Maya dan Mama Inces mengangguk patuh seperti anak kecil. Lain halnya dengan tetangga baru, mendengar nasehat lembut dari Putra, tetangga baru tersebut semakin terpesona.


Sejenak suasana menjadi hening, kemudian datang pak supir mobil box menghampiri tetangga baru itu.


“Permisi, bu Mimi,” panggil supir mobil box kepada tetangga baru.


Imelda, Maya, Rihana, Putra, dan Mama Inces ikutan mengalihkan pandangannya ke Mimi.


“Iya, Pak. Apakah semua barang-barang milik saya sudah di turunkan?” tanya Mimi dengan suara lembutnya.


“Sudah bu, silahkan periksa kotak-kotak yang sudah kami tumpukkan di dalam agar kami bisa kembali bertugas,” sahut pak supir memberitahu.


Mimi mengangguk, kemudian ia menoleh ke Mama Inces.


“Bu, saya permisi ke dalam dulu. Lain kali saya akan gabung kembali,” pamit Mimi sopan. Ia pun berbalik, saat hendak melangkah Mimi menyempatkan kedua matanya melirik ke Putra hingga akhirnya ia melangkah penuh menuju kontrakan bekas milik Putra.


Setelah Mimi pergi, Rihana dan Maya saling berbisik agar tidak kedengaran Aluna.


“Kau lihat tadi lirikan matanya?” tanya Maya.


“Lihatlah, kau pikir aku buta,” sahut Rihana sinis.


“Harus kita pantau!” tegas Maya.


“Nggak usah kau bilang aku pun akan melakukannya,” cetus Rihana tegas.


Bisikan Maya dan Rihana terdengar di telinga Mama Inces.

__ADS_1


“Hahaha! Kasihan banget janda-janda di sini. Sudah tahu Putra miliknya Imelda sekarang, masih aja berharap dan terus memantau semua gerak-gerik mencurigakan dari wanita baru. Kasihan!” ejek Mama Inces sembari melangkah menuju kontrakan bekas milik Putra kini di kontrakan kepada Mimi.


Tidak peduli dengan perdebatan para wanita di sana. Terpenting bagi Putra saat ini ia harus pamit pergi ke istri tercintanya, Imelda.


“Sayang, aku pamit dulu, ya!” pamit Putra tak lupa memberikan ciuman di dahi Imelda.


Maya dan Rihana mendadak meriang melihatnya. Sementara itu dari kejauhan Mimi terkejut melihat sikap Putra begitu lembut kepada Imelda.


“Iss, kenapa harus memberi ciuman di depan umum, sih!” protes Imelda malu.


Putra hanya tertawa.


“Aluna juga mau di cium Om!” pinta Aluna menyingkap poni di dahinya.


Gemas dengan ucapan Aluna, Putra sedikit membungkuk, menggendong Aluna kemudian memberi ciuman di dahi dan seluruh wajah Aluna.


“Om akan pulang sore, kan?” tanya Aluna setelah Putra selesai mencium dahinya.


“Iya, dong! Om akan selalu pulang setelah semua urusan pekerjaan selesai,” sahut Putra berjanji.


“Kalau gitu, Aluna akan tunggu Om di rumah,” ucap Aluna.


“Siap!”


“Aluna sama Mami dulu, ya. Biar Om Putra bisa berangkat bekerja,” bujuk Imelda sambil menggendong Aluna.


Selesai berpamitan ke Maya dan Rihana, Putra masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju kantor miliknya.


Semenjak Putra telah menikah dengan Imelda. Putra memutuskan untuk memisahkan kantor miliknya dengan Perusahaannya. Kenapa? Karena jarak Perusahaan miliknya dan kota tempat tinggal Imelda cukup jauh. Putra juga tidak ingin berpisah cukup lama dengan Imelda. Sehingga Putra memutuskan untuk memisahkan kantor miliknya dengan Perusahaan. Membuat kantor miliknya dekat dengan Perusahaan milik Imelda.Tugas Putra hanya menghandle semua pekerjaan melalui jarak jauh.


2 jam menempuh perjalanan.


Mobil Putra telah terparkir rapih di parkiran kantor kecil miliknya. Dahi Putra mengernyit saat melihat ada sebuah mobil dari plat kota lain terparkir rapih di parkiran mobilnya. Penasaran siapa pemilik plat mobil tersebut, Putra melangkah cepat masuk ke dalam Perusahaan.


Langkah kaki Putra terhenti di meja resepsionis.


“Lina, siapa tamu kita?” tanya Putra ke karyawan resepsionisnya.


“Tuan dan nona itu tidak memberitahu siapa namanya. Tapi, mereka dari tadi memaksa untuk masuk, dan menunggu Bapak di ruang tamu,” sahut Lina.


“Ya, sudah. Kalau gitu aku masuk dulu. Suruh satpam dan beberapa penjaga lainnya untuk berjaga ketat di luar dan sekitar pintu. Jangan kasih masuk tamu yang tidak memiliki janji,” perintah Putra.


“Baik, Pak!” sahut Lina kemudian menekan tombol pemanggil.


Putra melangkah menuju ruang tamu. Langkah kaki Putra terhenti di depan pintu ruang tamu, memandang sepasang suami-istri begitu asing di kedua matanya. Sepasang suami-istri berperawakan Luar Negeri. Memakai baju rapih dan terlihat begitu anggun dan rupawan.

__ADS_1


“Maaf, tuan dan nona siapa, ya?” tanya Putra sambil melangkah masuk ke dalam.


Sepasang suami-istri tersebut berdiri perlahan, kedua mata mereka di penuhi cairan bening.


“Chandra!” ucap wanita tersebut, kedua kakinya perlahan melangkah mendekati Putra.


Wanita itu hendak memeluk Putra. Namun, Putra segera menjauh dari wanita itu.


“Namaku Putra, bukan Chandra!” tegas Putra memberitahu.


“Tidak, nama kamu adalah Chandra Adamson. Kamu adalah putra kami,” tepis wanita tersebut sambil mendekatkan perlahan kedua tangannya ke pipi Putra.


Lagi dan lagi, Putra menepis tangan wanita itu.


“Maaf, aku rasa kalian berdua keliru. Aku adalah Sanjaya Putra, anak dari almarhumah Pak Sanjaya Agung dan ibu Murni,” jelas Putra tegas.


“Be-benar. Ka-kamu berarti benar anak kami berdua. Kamu adalah Chandra Adamson…”


“Benar, kamu adalah Putra saya, Putra dari Adamson Hengky,” tambah pria berparas Pakistan. Tangannya mengambil sebuah identitas, menunjukkannya kepada Putra. “Lihat, saya tidak berbohong,” lanjut Hengky.


“Hahaha! Ada-ada saja, baru kali ini aku melihat ada orang seperti kalian berdua. Kalau memang benar kalian berdua adalah kedua orang tuaku. Lantas, kemana saja kalian waktu itu? Kenapa aku bisa di besarkan oleh Ayah dan ibuku?” tanya Putra disela tawa garingnya.


“I-itu, karena waktu itu…”


“Nggak bisa menjawab, kan? Terus, yang buat aku tambah penasaran. Kenapa kalian berdua bisa mengetahui kantorku? Setahuku, tidak ada orang asing yang mengetahui alamat kantor khusus ku ini. Yang tahu hanya para karyawan dan istriku saja!” Putra menghentikan ucapannya, nanar bola mata dinginnya menatap tajam ke wajah wanita tersebut. “Katakan padaku, siapa yang menyuruh kalian untuk datang ke sini?” tambah Putra menekan nada suaranya.


Wajah wanita itu seketika panik, keringatnya perlahan mengalir, sorot mata bingungnya berulang kali melirik ke pria di sebelahnya. Tanpa basa-basi, pria tersebut mengeluarkan senjata api dan terdengarlah suara tembakan.


Door!


Tembakan tepat mengenai perut Putra.


“Akh! Sudah ku duga pasti ada yang aneh di sini,” gumam Putra dengan bibir mengeluarkan darah.


“Lari, cepat lari!” teriak pria itu.


Sepasang suami-istri tersebut lari tergesa-gesa. Putra segera mengejarnya tanpa memperdulikan luka tembak di perutnya.


“TANGKAP MEREKA BERDUA!” perintah Putra.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2