
Sesudah mendengar kepergian Putra ke luar negeri bersama Imelda. Randy, Lila, dan Joni memutuskan untuk pergi ke rumah Fuji demi menghiburnya agar tidak bersedih. Walau mereka tahu kepergian Putra demi menimba ilmu di sana, tetap saja saat mendengar Imelda ikut ke sana pikiran mereka berubah menjadi kacau.
“Tak perlu bersedih, ya, Fuji,” ucap Randy mengelus punggung Fuji.
“Lagian kau sudah mau menikah dengan anak tuan takur dari Kampung sebelah. Ketampanan pria itu juga terlihat tidak terlalu buruk. Masih sama tampannya dengan Putra, walau ketampanannya 90% lebih banyak pada Putra,” Lila menimpali.
“2 minggu lagi kamu juga akan menikah. Sudah, jangan bersedih, ya?” sambung Joni.
Fuji masih diam dengan kepala tertunduk, tangannya terlihat menyeka tetesan air mata hampir jatuh di kedua pipinya. Sejenak ia menarik nafas panjang kemudian memberikan senyuman palsu untuk ketiga temannya itu.
“Aku tidak menangis ataupun bersedih akibat kepergian Putra. Mendengarnya dibiayai kuliah ke luar negeri oleh janda itu, sudah membuatku sangat senang. Putra memang pantas mendapatkan pendidikan lebih tinggi lagi, apalagi aku mengingat mendiang kedua orang tua Putra dulu adalah orang paling kaya di Desa ini, dan aku rasa jika mendiang kedua orang tuanya masih hidup, mungkin mereka akan melakukan hal sama seperti dilakukan oleh janda itu kepada Putra,” ucap Fuji dengan suara lirih.
“Kamu memang luar biasa Fuji. Pantas saja Putra lebih memilihmu sebagai adik daripada sebagai kekasih!” celetuk Randy sembari memeluk Fuji.
“Adik,” gumam Fuji tanpa suara.
Joni dan Lila juga ikut memeluk Fuji.
Randy lebih dulu mengurai pelukannya, di susul Lila, dan Joni.
“Ekhem, gimana jadinya kalau Putra duluan nih yang punya anak dari pada kamu, Fuji,” celetuk Randy menaikkan kedua alisnya, mengarahkan sorot matanya ke Joni, dan Lila.
“Iiss, kamu ini tidak boleh mendoakan teman yang belum menikah. Kasihan anaknya nanti jadi harom,” tegur Fuji sopan.
“Haha, iya-ia. Kamu benar juga,” angguk Randy.
“Kalau aku jadi Putra, udah ku gas aja itu. Sebelumnya ku suruh cewek itu KB, lalu…entahlah, jadi entah kemana pikiran aku nih,” sambung Joni mulai berpikiran mesum.
“Kamu lagi. Jangan-jangan kau sudah mempraktekkannya bersama pacarmu itu!” cetus Lila dan Randy bersamaan.
“Nggaklah bego. Kalian tahu sendiri bapaknya kayak mana. Udah kepalanya botak, kumisnya tebal, tinggi, kulitnya hitam, kalau melihat ku, bola matanya melotot seperti hendak lepas. Ngeri kali, kan?!” ucap Joni sambil menaik-naikkan kedua bahunya seolah merasa ngeri.
“Awas, awas kamu. Kami adukan kamu sama bapak itu. Awas!” ancam Randy dan Lila. Fuji hanya tertawa melihat tingkah nakal dari ketiga temannya.
.
__ADS_1
.
Sementara itu di kota tempat Putra berada.
Putra dan Imelda berbaring di kamar berbeda, Putra menempati kamar di lantai bawah, sedangkan Imelda menempati kamar di lantai atas. Di masing-masing kamar mereka terlihat gelisah, tubuhnya lelah namun kedua mata tidak bisa terpejam.
Lelah dengan posisi tubuh terus berharap kedua mata untuk tertidur, Putra dan Imelda sama-sama keluar dari dalam kamar mereka menuju ruang tv. Langkah kaki Putra dan Imelda terhenti saat mereka saling berpapasan.
“Kamu kenapa?” tanya mereka bersamaan.
“Aku tidak bisa tidur!.. Mataku tidak mau tidur!” sahut Imelda dan Putra kembali bersamaan hingga akhirnya mereka tertawa satu sama lain.
“Kamu mau bilang apa?” tanya Imelda lebih dulu dengan sisa tawa di bibirnya dan perut terasa pegal.
“Aku tidak bisa tidur karena memikirkan besok mau masuk kuliah,” sahut Putra dengan wajah datarnya meski dalam hatinya ia sangat-sangat gugup.
“Aku buatin kopi mau?” tanya Imelda menawarkan.
“Aku tidak suka kopi,” tolak Putra lembut.
“Tidak perlu, aku bisa buat sendiri,” sahut Putra.
“Kalau kamu yang buat pasti rasanya nanti beda,” ucap Imelda, kedua tangannya menekan bahu Putra sampai Putra terduduk.
“Nah, sepertinya kamu harus duduk tenang agar bisa menikmati minuman yang aku buat nanti,” lanjut Imelda.
“Kalau kamu memaksa, baiklah!” sahut Putra pasrah.
Imelda pun melangkah menuju dapur, sesampainya di dapur ia ingin mengambil makanan di dalam lemari pendingin. Namun ia ingat kalau mereka belum berbelanja bahan makanan.
“Ya ampun, pakai lupa segala lagi,” gumam Imelda menepuk dahinya.
Imelda keluar dari dapur menghampiri Putra dengan bibir terus cengengesan.
“Kamu kenapa?” tanya Putra penasaran kenapa Imelda terus cengengesan.
__ADS_1
“Aku lupa kalau belum membeli stok bahan makanan di rumah,” sahut Imelda. “Sebaiknya aku pergi ke supermarket terdekat untuk stok bahan makanan, ya?” lanjut Imelda meminta izin.
“Aku juga ikut,” sahut Putra beranjak dari duduknya.
“Kalau gitu kita naik taksi saja dulu, soalnya mobil pesananku besok siang baru sampai,” ucap Imelda memberitahu jika ia sudah membeli mobil dan belum datang.
“Kenapa harus beli mobil?” tanya Putra terdengar tidak senang.
Putra terdengar tidak senang karena Imelda terkesan boros demi memenuhi kebutuhan Putra. Itulah sedang Putra rasakan. Lain dengan Imelda, melihat raut wajah Putra Imelda langsung tahu apa sedang Putra pikirkan. Imelda pun mencoba untuk tetap tenang dan menjelaskan tujuannya membeli rumah dan mobil.
“Sayangku,” panggil Imelda gemas sembari mencubit kedua pipi Putra. “Kamu harus tahu kalau saat ini kita tidak tinggal di tanah air. Biaya transpor ke sana ke sini, naik taksi itu cukup besar. Aku hitung-hitung sama saja seperti membeli mobil baru. Tentang membeli rumah, aku beli rumah ini tidak mahal kok. Aku beli rumah ini saaangat murah tidak semahal menyewa apartemen,” tambah Imelda menjelaskan, menahan kegemasan nya melihat tingkah Putra seperti anak kecil.
“Entar kamu bohong?” tanya Putra dengan bibir mengerucut karena kedua pipinya di tekan oleh Imelda.
“Buat apa aku berbohong. Aku jujur loh!" sahut Imelda.
“Jangan pincit kedua pipiku lagi, entar aku jadi khilaf ini,” ucap Putra terlihat susah saat berbicara karena kedua pipinya di tekan.
Mendengar kata khilaf, menyadari kali ini sudah tinggal serumah tanpa hubungan resmi, Imelda langsung mundur 3 langkah ke belakang, ia pun berlari menuju kamarnya untuk mengambil dompet, dan jaket hangat miliknya.
Putra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Dasar wanita,” gumam Putra gemas melihat tingkah imut Imelda.
Mungkin bagi pemuda seusia Putra saat melihat wanita berstatus janda dan jauh lebih tua. Pasti pria akan merasa ngeri dan sedikit aneh saat dekat-dekat dengan wanita itu. Beda hal dengan Putra, di mata Putra Imelda terlihat seperti seorang wanita berusia 22 tahun, dan dialah seorang pria berusia 35 tahun.
Mungkin ini dinamakan cinta sejati.
Putra dan Imelda kini sudah menunggu di depan halaman rumah. Memiliki rumah dekat dengan pusat kota, memudahkan Imelda untuk mencari taksi. Bukan mencari transfortasi saja yang mudah. Mencampai titik lokasi universitas Putra juga tidak memakan waktu lama. Intinya semua jarak dan waktu sudah di prediksi oleh Imelda, hanya untuk Putra.
.
.
Bersambung....
__ADS_1