
Waktu isi pesan dari nomor misterius masuk. Putra baru saja tiba di ruang tamu Imelda, tak sengaja melihat ponsel milik Imelda bercahaya dan berdering. Putra mendekatinya, kemudian diam-diam membalas isi pesan tersebut.
...----------------...
...[Aku tidak tahu siapa kamu. Yang jelas aku ingin kamu segera menyimpan nomor darurat milikku. Aku juga akan menunggumu, karena aku telah bosan hidup bersama dengan Putra.] ...
...----------------...
Balasan Putra sembari mengirimkan nomor ponsel miliknya. Puas telah mengerjain orang tersebut. Putra segera memblokir dan menghapus nomor misterius tersebut, tak lupa. Putra juga menyadap ponsel milik Imelda agar bisa memantau siapa saja menghubungi sang kekasihnya itu.
Selesai sudah tugas Putra. Kedua kakinya melangkah mengikuti harum masakan dari dapur.
“Masak apa Aluna?” tanya Putra setelah ia berhenti di samping kursi khusus makan Aluna.
“Mami masak sop sosis di campur bakso dan brokoli. Mami juga goreng mata sapi telur bebek kesukaan Aluna,” sahut Aluna.
Imelda, Maya, dan Rihana tersenyum mendengar suara Aluna. Begitu lucu dan imut.
“Berondongku, kamu sudah siap mandi?” tanya Maya sembari meletakkan sayuran matang di atas meja.
“Maaf, bisa tidak panggilnya Putra saja. Mendengar kalimat itu rasanya geli di telinga,” protes Putra, ia pun mendudukkan dirinya di kursi utama.
“Hehe, ternyata kamu memang sudah berubah. Tambah dewasa. Baiklah, tante tidak akan memanggil kamu dengan sebutan berondong,” ucap Maya sembari ikut mendudukkan dirinya di kursi tak jauh dari kursi Putra.
“Tentu saja, sebagai seorang pria sejati dan bertanggung jawab harus segera merubah dirinya sebelum kehilangan apa yang sudah ia miliki,” sahut Putra.
Imelda tersenyum, Rihana dan Maya saling menyikut.
“Sepertinya kami memang benar-benar tidak ada kesempatan kedua lagi untuk bisa menggebet Putra,” hela Rihana.
“Pingin ikhlas, tapi rasanya kok nggak rela,” sahut Maya.
“Aku doakan semoga tante Maya dan Rihana bisa menemukan sosok pria yang sesuai dengan kriteria. Amiinnn!” doa Putra ikut diaminkan Aluna dan Imelda.
“Kalau gitu mari makan, keburu makanan kita dingin,” aja Imelda mulai mengambil tempat makan khusus untuk Aluna.
Di saat Imelda sibuk mengambilkan makanan untuk Aluna, di saat itulah Maya dan Rihana berebut untuk mengambilkan makanan untuk Putra.
__ADS_1
Bibir boleh berkata tidak, tapi gerak tubuh masih ingin melayani Putra tidak bisa dibohongi.
“Aku, aku aja. Sini aku aja!” ucap Maya dan Rihana saling sikut-sikutan mengambil lauk dan nasi.
Aluna heran melihat tingkah Maya dan Rihana, akhirnya bertanya.
“Tante Maya dan tante Rihana kenapa terus berebut? Kalau memang mau memberikan makanan ke Om Putra, kenapa mesti berkelahi dulu?” tanya Aluna penasaran. Pandangannya mengarah ke Putra. “Daripada tante Maya dan tante Rihana berebut untuk mengambilkan makanan untuk Om. Lebih baik Aluna saja yang ambilkan makanan untuk Om,” lanjut Aluna sembari ingin beranjak dari duduknya, naik ke atas meja. Namun, Imelda segera menggendong dan meletakkannya kembali ke kursinya.
'Gawat! ada saingan baru aku!' batin Imelda.
“Kenapa Mami menggendong Aluna dan meletakkan Aluna kembali ke kursi ini?” Aluna kembali bertanya.
“Sayang, di meja itu, kan ada banyak makanan. Jadi, tidak baik bagi seorang anak untuk naik ke atas meja. Gimana kalau makanan itu terkena pasir dari kaki dan tangan Aluna. Gimana kalau rambut indah Aluna mengenai makanan? Makanan tersebut nantinya tidak akan bisa dimakan, dan jadinya mubazir. Itu tandanya tidak boleh naik ke atas—” nasehat Imelda
“Meja!” sambung Aluna.
Prok prok!
“Aluna memang anak tante yang pintar!” puji Maya dan Rihana serentak sembari memberi tepuk tangan untuk Aluna.
“Aluna sekarang mulai pintar menyebut nama benda,” tambah Rihana kembali memuji.
2 jam berlalu, selesai sudah menikmati santap makan siang, membersihkan sisa makanan di dapur. Imelda, Maya, Rihana dan Putra berpindah tempat ke ruang tamu. Sedangkan Aluna tertidur di dalam kamarnya, efek kekenyangan.
“Tante, tadi siapa nama pemilik Perusahaan itu?” tanya Putra mengingat tawaran Rihana.
“Pak Bagus. Nama Perusahaannya “Bagus dong”. Kenapa? Kamu tertarik untuk membeli Perusahaan miliknya?” tanya Rihana.
“Begini, setelah aku caritahu. Ternyata surat-surat dan nama pemilik dari Pak Bagus telah di alihkan ke salah seorang wanita muda bernama Siti Maimunah. Yang katanya wanita itu adalah selingkuhan lama Pak Bagus. Jadi, mohon maaf untuk tawarannya aku tidak tertarik. Lebih baik pria itu dilaporkan kepada pihak berwajib agar tidak ada orang lain yang terkena tumbalnya,” jelas Putra sembari menjelaskan.
“Pantes saja mantan istrinya memilih untuk berpisah 1 bulan lalu. Ternyata Pak Bagus memiliki masalah tersembunyi. Sudah, sudah, kalau gitu kamu tak usah jadi membelinya,” ucap Rihana sedikit tak percaya dengan kenyataan.
“Kamu mau membuka Perusahaan Percetakan sekaligus penerbitan? Atau khusus Penerbitan saja?” tanya Maya penasaran. Imelda dan Rihana memperhatikan.
“Karena sekarang banyak orang hobi menulis, aku ingin membuka keduanya untuk memudahkan mereka menerbitkan sekaligus mencetak buku yang ia karang,” sahut Putra memberitahu tujuannya.
“Nah, kebetulan sekali. Di kota B atau kota Y adalah tempat yang cocok untuk membuka bisnis yang kamu inginkan. Gimana kalau minggu nanti tante temani ke sana untuk melihat tanah kosong yang cocok untuk kamu,” usul Maya.
__ADS_1
Sebelum memberi jawaban, Putra mengalihkan pandangannya ke Imelda. Imelda hanya mengangguk dengan raut wajah terpaksa. Setelah mendapatkan anggukan Imelda, Putra kembali mengalihkan pandangannya ke Maya.
“Baiklah, aku akan ikut pergi bersama tante. Tapi, aku ingin Imelda ikut juga—”
“Tante, gimana dengan nasib tante. Tante juga mau ikut pergi,” sambung Rihana cepat.
“Gimana dengan Perusahaan tante nantinya?” tanya Putra karena ia tahu jika pergi untuk melihat-lihat akan memakan waktu beberapa hari.
“Tenang saja, semua bisa di arahkan lewat online dan zoom,” sahut Rihana yakin.
“Kalau Imelda, gimana?” tanya Putra membutuhkan kepastian dari sang kekasih.
“Aluna—”
Baru saja hendak menjawab, Maya dan Rihana segera memotong pembicaraan Imelda.
“Bawa. Bawa saja Aluna pergi bersama kita. Sudah, jangan sia-siakan kesempatan ini!” sela Maya cepat tak lupa cubitan maut kekompakan mendarat di perut bagian samping Rihana.
“I-iya, bawa saja Aluna yang cantik, dan imut itu pergi bersama kita,” tambah Rihana terpaksa.
“Hem, jangan di pikir-pikir terus. Sekali-sekali kamu harus ajak Aluna pergi traveling. Jadi janda kaya jangan pelit-pelit amat. Sudah cepat ambil keputusan yang bijak!” desak Maya diangguki Rihana.
“Baiklah, aku akan membawa Aluna ikut pergi bersama kita,” sahut Imelda terpaksa menerima. Imelda melirik ke Putra, “Apa kamu beneran tidak keberatan Aluna ikut?” tanya Imelda.
Mendengar pertanyaan Imelda ke Putra, kali ini Maya dan Rihana terpaksa diam, memanjangkan jenjang lehernya mendekati wajah mereka ke wajah Putra demi mendapat keputusan jawaban.
“Aku tidak keberatan!” sahut Putra membuat Maya dan Rihana gembira.
“Yes! Akhirnya bisa tidur sekamar dengan Putra di dalam hotel!” gumam Maya dalam hatinya.
‘Berhasil, akhirnya aku bisa melihat benda keras yang sepanjang hari itu tertidur, dan di saat matahari terbit ia ikut terbangun walau hanya beberapa menit,’ batin Rihana.
Lain dengan pikiran Imelda. ‘Akhirnya aku bisa tidur sekamar dengan Putra. Meski ada Aluna, tapi ini benar-benar kesempatan bagus untuk romantis dengan Putra,’ batin Imelda.
.
.
__ADS_1
Bersambung