Kompleks Janda

Kompleks Janda
54. Tak Tahan Di tindas


__ADS_3

Setelah Imelda tenang, Putra melepaskan pelukannya, mengusap lembut keringat di dahi Imelda, lalu menempelkan dahinya dengan dahi Imelda.


“Aku tahu kamu kuatir. Tapi, aku ingin kamu percaya padaku jika aku akan baik-baik saja,” janji Putra dengan nada suara lembut.


Imelda mengangguk.


Putra perlahan menjauhkan dahi miliknya, tangannya memegang dagu Imelda, kedua sorot matanya perlahan turun dan terhenti di bibir merah Imelda.


“Aku sangat-sangat mencintaimu!” gumam Putra.


Perlahan kedua wajah dan bibir itu saling mendekat, saat Putra hendak mencium bibir merah Imelda, terdengar suara Aluna dari ruang tamu memanggil Imelda dan Putra. Putra dan Imelda terpaksa menunda ciumannya, kening mereka saling menempel dengan bibir mengeluarkan tawa kecil.


“Untuk ciuman saja pun sulit,” ucap Putra di sela tawanya.


“Nanti malam setelah Aluna tidur. Sekarang kamu pergi mandi, biar nanti semua luka-luka baru itu aku obati di bawah,” ucap Imelda.


“Baik nyonya!” sahut Putra sambil beranjak dari duduknya.


Karena Aluna terus memanggil, Imelda buru-buru turun, sedangkan Putra segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Begitu sampai di ruang tamu, langkah kaki Imelda melambat, memandang seorang wanita telah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan membawa keranjang berisi buah.


“Maaf mengganggu,” ucap wanita tersebut, tak lain adalah Mimi.


“Enggak mengganggu kok,” sahut Imelda, tangannya mengarah ke sofa tamu. “Silahkan duduk, aku akan mengambilkan minuman dingin untuk kamu,” lanjut Imelda menyuruh Mimi untuk duduk.


“Terima kasih,” sahut Mimi mendudukkan dirinya di sofa single ruang tamu.


Imelda pergi menuju dapur untuk mengambil minuman, dan cemilan ringan untuk diberikan kepada Mimi.


Dengan tangan memegang boneka Tedy, Aluna mendekati Mimi, berdiri di samping Mimi dengan sorot mata terus memandang ke wajah Mimi sedang tersenyum kepadanya.


“Tante siapa, ya?” tanya Aluna dengan wajah polosnya.


“Tante adalah tetangga baru di sini. Nama tante adalah Mimi,” sahut Mimi sekaligus memperkenalkan dirinya.


“Oh! Nama aku adalah Aluna. Anak Mami Imelda dan Om Putra,” ucap Aluna ikutan memperkenalkan dirinya.


Wajah Mimi sedikit terkejut saat mendengar Aluna adalah anak dari Putra. Mimi seperti tidak menyangka jika pria muda seperti Putra telah memiliki anak sebesar Aluna.

__ADS_1


“Pantes saja cantik, ternyata kamu adalah anak dari kedua orang tua yang memiliki wajah rupawan,” puji Mimi sambil memegang dagu Aluna.


“Siapa kamu?” tanya Putra tiba-tiba sudah berada di samping Aluna, menarik Aluna menjauh dari Mimi.


Aluna melihat sikap spontan Putra sejenak terkejut, menengadahkan wajahnya ke atas, memandang wajah tegas dan datar Putra.


“Om, wanita ini adalah tante Mimi, tetangga baru, katanya,” jelas Aluna memberitahu Putra. Namun Putra terlihat tidak percaya.


“Mana Mami Imelda?” tanya Putra kepada Aluna.


Aluna mengarahkan tangannya ke koridor menuju ruang dapur, terlihat Imelda berjalan membawa nampan kecil berisi minuman dingin.


Tidak sakit hati akan perbuatan Putra. Mimi malah membatin penuh dengan kekaguman.


‘Putra, ternyata pria memiliki karakter dingin dan cuek ini adalah Putra. Sungguh menarik, membuat aku ingin menjinakkannya agar bisa memandangku,’ batin Mimi, sorot matanya perlahan melirik ke Putra dari atas sampai bawah. ‘Sungguh-sungguh postur tubuh yang ideal. Aku sangat yakin jika barang miliknya sebagus postur tubuhnya. Membuat nafsu mendidih,’ lanjut Mimi kembali membatin.


Menyadari Mimi terus menatap Putra, Imelda meletakkan nampan berisi minuman dan makanan dengan kasar ke atas meja. Membuat Mimi tersentak dan langsung memutar haluan pandangannya.


“Te-terima kasih atas minumannya,” ucap Mimi berusaha kembali ke mode normal.


“Sama-sama,” sahut Imelda sambil mendudukkan dirinya ke sofa di sisi kiri Mimi.


Sementara Putra pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun.


“Buah yang bagus dan segar!” celetuk Imelda sengaja.


Mimi tersentak, pandangannya kini ikutan beralih kepada keranjang buah di hadapannya.


“Oh! Be-begini, saya datang kemari karena mendengar jika suami dari Ibu Imelda mengalami sebuah kejadian buruk. Jadi, niat saya ke sini hanya untuk datang menjenguk. Cuman, begitu saya datang ke sini, ternyata suami ibu sudah sembuh,” jelas Mimi setengah berbohong.


Padahal niatnya datang ke rumah Imelda karena ia ingin melihat jelas bagaimana rupa Putra selalu di gosipkan janda-janda di kompleks mereka, dan gadis remaja di luar kompleks.


“Terima kasih atas niat baiknya,” terima kasih Imelda lembut tanpa menyinggung tujuan aneh terlihat begitu jelas di raut wajah Mimi.


Di tengah-tengah basa-basi Mimi, masuklah Maya, Rihana dan 7 janda lainnya ke dalam rumah tanpa mengucap salam.


“WOW! Ternyata ada yang lebih dulu datang menjenguk berondong kita!” celetuk Rihana setelah melihat Mimi duduk di ruang tamu.


Mimi hanya mengangguk, tersenyum membalas tatapan mereka.

__ADS_1


Tidak ingin kalah dengan Mimi, Maya langsung bergerak, duduk di samping Mimi. Begitu juga dengan Rihana dan 2 janda lainnya. Sehingga sofa panjang tersebut di penuhi 5 janda bertubuh montok.


Mimi sendiri hanya bisa diam diapit keempat janda bertubuh lebih besar dari tubuhnya.


‘Buset dah! Kalau seperti ini ceritanya aku bisa mati,’ batin Mimi, raut wajahnya terlihat tidak nyaman.


Melihat wajah Mimi seperti tertekan, Imelda tertawa bersama dengan janda lainnya.


Tidak suka mendapat perlakuan seperti itu dari Maya, Rihana dan 2 janda lainnya, Mimi spontan beranjak dari duduknya, nafasnya terlihat membesar seperti sedang menahan emosi.


Bukan Maya dan Rihana namanya, kalau tidak puas mengerjai seseorang yang ingin mencari perhatian Putra.


Maya dan Rihana secara serentak menarik tangan Mimi, membuat Mimi kembali duduk di tengah-tengah bersama dengan mereka.


“Mau kemana sih, janda baru?” tanya Maya sambil menyikut lengan kiri Mimi.


“Ma-mau pulang,” sahut Mimi sedikit gugup, sembari menahan amarahnya.


“Kalau sudah berada di sini, aku sarankan lah samamu. Lebih baik tunggulah beberapa menit lagi, mengobrol sebentar sambil menunggu Putra keluar dari sarangnya,” tambah Rihana.


“Sa-saya tadi sebenarnya sudah berjumpa dengan Putra. Ja-jadi tidak perlu menunggu bersama dengan ibu-ibu di sini,” sahut Mimi jujur.


Bukannya menyelamatkan diri, ucapan Mimi malah menjerumuskan dirinya sendiri.


Maya, dan Rihana saling menaikan alis mereka, memberikan kode untuk memberikan serangan balik agar Mimi berhenti mengejar Putra.


“Kalau gitu, tunggulah beberapa menit lagi di sini. Bukannya kamu ingin di sapa oleh Putra?” tanya Rihana tepat sasaran.


Maya, Rihana, dan 7 janda lainnya sangat tahu persis gimana sikap Putra tak begitu ramah kepada wanita lain kecuali, Imelda. Hanya Imelda pawang Putra keluar dari tempat persembunyian dan mau menyapa ramah wanita lain dengan lebih banyak lagi.


Maya perlahan mendekatkan bibirnya ke daun telinga Mimi.


“Terus, setelah bertemu dengan Putra tadi, perkataan apa yang pertama kali lontarkan kepada kamu?” tanya Maya terdengar dingin.


Suara Maya membuat Mimi ketakutan. Tak tahan seperti ditindas oleh para janda di kompleks tersebut, Mimi beranjak dari duduknya, berpamitan kepada Imelda kemudian melangkah cepat meninggalkan rumah Imelda.


Maya, Rihana dan 7 janda lainnya tertawa puas. Sedangkan Imelda menggeleng. Sudah paham betul dengan sikap para tetangganya itu.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2