Kompleks Janda

Kompleks Janda
40. Mami nggak Marah, kan?


__ADS_3

Keesokan paginya.


Sesuai dengan percakapan Putra dan Imelda tadi malam. Kini Putra datang ke Perusahaan Imelda sebagai Inverstor baru. Tak lupa mobil baru hasil jerih payah.


“Putra! Apa benar yang kami lihat ini Putra?” tanya karyawan wanita di Perusahaan Imelda seolah tak percaya.


“Iya, apa wajahku tampak berbeda?” Putra balik bertanya.


“I-iya. Kami tidak menyangka selama 4 tahun kamu pergi ternyata kamu bertambah tampat, macho, dan sekarang akan menjadi Investor di Perusahan milik Bos,” sahut karyawan lainnya.


“Itu semua berkat doa baik dari kalian semua. Kalau gitu aku permisi dulu, aku mau keruangan Imelda,” sahut Putra sekaligus berpamitan kepada karyawan.


“Iya!” sahut karyawan serentak.


Putra melangkah menuju lift, menuju ruangan Imelda. Pintu lift terbuka, Putra kembali melangkah menuju ruangan Imelda.


Tok tok!


Pintu ruangan segera terbuka karena Aluna sedang bermain di sekitar pintu ruangan.


“Siang Om,” sapa Aluna menunjukkan gigi susunya.


“Siang, apa Om boleh masuk?” tanya Putra meminta izin.


“Iya!” angguk Aluna, ia pun mencoba membuka pintu ruangan itu. “Uh uh uh, berat. Uh!” ucap Aluna merasa berat saat mendorong daun pintu.


Imelda tertawa melihatnya, sedangkan Putra membantu Aluna membuka pintu kemudian menutupnya kembali.


“Kamu pasti gemas melihatnya?” tanya Imelda setelah ia mempersilahkan Putra duduk di sofa tamu.


“Tentu saja. Apalagi dulu aku tidak memiliki adik perempuan,” sahut Putra melirik sejenak ke Aluna, lalu melirik ke Imelda kembali. “Setelah bisnis kita berkembang, aku juga ingin memiliki anak seperti Aluna dari kamu,” tambah Putra sedikit berbisik.


“Kamu! Ih, genit sekali sekarang, ya!” tegur Imelda sedikit bergumam.


“Wajar saja, lagian aku sudah memasuki pria dewasa. Jangan-jangan kamu tidak mau menikah dan memiliki anak dariku?”


“Apaan sih! Apa aku masih bisa bereproduksi lagi. Aku ini, kan sudah masuk usia kepala 3,” ucap Imelda mengingatkan Putra kembali tentang umurnya.

__ADS_1


“Insyaallah masih. Selagi wanita masih memiliki rahim, insyaallah keajaiban akan terus terjadi,” sahut Putra menyakinkan.


“Bagaimana kalau aku tidak bisa memiliki anak suatu hari nanti?” tanya Imelda mengkuatirkan dirinya.


“Hem, mungkin aku akan tetap setia di samping kamu. Aku akan terus mengajak kamu bulan madu keliling dunia,” sahut Putra kembali menyakinkan.


“Terima kasih, kamu sungguh lelaki yang baik,” ucap Imelda tulus.


“Jangan terlalu memujiku. Gimana kalau kita bahas investasi dulu, sekaligus membahas kota mana cocok untuk membuka anak Perusahaan milik kamu,” ucap Putra mengalihkan pembicaraan agar Imelda tidak terlalu tertekan membahas topik itu-itu saja.


“Ini berkas-berkas untuk Investasi, kamu bisa membacanya,” sahut Imelda memberikan beberapa lembar kertas mengenai Investasi.


“Tidak perlu aku baca. Aku sudah yakin dengan kamu,” ucap Putra menutup berkas Investasi.


“Ja-jangan, ka-kamu harus membacanya. Siapa tahu aku sedang berbohong dengan kamu. Kamu baca saja dulu, jangan percaya begitu saja padaku,” celetuk Imelda sedikit kaku, tangannya mendorong kembali berkas Investasi agar di baca oleh Putra.


Putra memang mengambil berkas Investasi tersebut. Tapi ia malah menjauhkannya dari Imelda. Membuat Imelda terkejut. Imelda hendak mengambil berkas tersebut, namun Putra malah menahan sebelah paha Imelda.


“Bukannya kita sudah cukup lama saling kenal. Meski jarak memisahkan kita berdua, tapi aku sangat yakin jika kamu bukanlah wanita penipu. Jika kepercayaanku tetap disalahgunakan oleh kamu, dan kamu malah kabur dengan uang itu. Maka itu adalah nasib sial yang harus aku tanggung sendiri. Sekarang, beritahu aku kota mana yang bagus untuk membangun anak Perusahaan,” tegas Putra, nanar kedua mata Putra dan Imelda saling bertemu sehingga membuat debaran jantung mereka saling menyahut dari dalam.


Prang! Bug!


“Huuaaaa!”


“Aluna!” gumam Imelda dan Putra serentak.


Dengan sigap Imelda dan Putra berlari ke arah Aluna tertimpa vas besar berisi tanaman. Sehingga dahi mungil Aluna mengeluarkan darah banyak.


“Maafkan Aluna, Mami! Aluna salah!” maaf Aluna di sela tangisan kuatnya.


“Aluna nggak salah sayang. Yang salah Mami. Aluna sabar ya, Mami akan bawa kamu ke dokter!” sahut Imelda menggendong Aluna sembari berlari mengikuti langkah kaki Putra.


Semua mata karyawan memandang Imelda. Wajah turut bersedih terlihat di masing-masing wajah karyawan saat memandang Aluna mengeluarkan darah sebanyak itu.


Setelah Imelda bersama Aluna masuk ke dalam mobil milik Putra. Putra melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan Putra terlihat panik, sejenak ia mengingat peristiwa almarhum kedua orang tuanya tak bisa segera di bawa rumah sakit karena tidak memiliki uang.


Kali ini, saat ia memiliki uang lebih dari cukup, meski Aluna bukan darah dagingnya. Putra tetap berusaha untuk tenang dan melajukan mobilnya agar bisa membawa Aluna dengan tepat menuju rumah sakit.

__ADS_1


“Sabar ya, Aluna. Sebentar lagi kita akan sampai,” ucap Putra mencoba menenangkan Aluna masih menangis akibat denyut di dahinya.


“Sakit Om! Embus luka Aluna agar tidak sakit lagi!” rengek Aluna di sela tangisannya dan kembali menangis.


“Iya, Om akan hembus ya,” sahut Putra sedikit mendekatkan wajahnya ke dahi Aluna, menghembus sejenak dengan kedua mata fokus ke jalan.


Tak sampai 30 menit akhirnya mobil di tumpangi Aluna, Imelda, dan Putra sampai di rumah sakit terdekat. Kini bergantian Putra menggendong Aluna dan membawanya segera ke ruangan UGD untuk mendapatkan perawatan dengan tepat.


1jam menunggu.


Aluna sudah mendapatkan perawatan di bagian lukanya. Karena terus menangis untuk tidak di rawat di rumah sakit, Imelda memutuskan untuk membuat Aluna menjalani rawat inap di rumah.


Putra setuju, asal Aluna tidak menangis dan merasa nyaman, itulah dipikirkan oleh Putra.


Efek obat penenang dan penghilang rasa denyut, membuat Aluna kembali aktif dengan normal meski setiap ucapannya masih terdengar suara isakan.


“Aluna mau pulang ke rumah atau bermain di tempat pemainan anak-anak?” tanya Putra memberi penawaran untuk menghilangkan sisa rasa sakit di tubuhnya.


Sejenak Aluna menoleh ke Imelda. Melihat Imelda mengangguk, Aluna kembali menatap Putra.


“Ndak usahlah Om. Aluna takut di culik. Kata tante Maya dan Rihana, zaman sekarang banyak penculik berserakan di tempat permainan anak-anak,” tolak Aluna mengingat ucapan Maya dan Rihana.


“Yakin?” tanya Putra memastikan.


“Yakin, Om. Kalau Om mau, lebih baik Om berikan Aluna permainan baru biar Aluna bisa bermain di rumah bersama dengan Mami, tante Maya dan Rihana,” sahut Aluna yakin.


“Ya sudah, kalau gitu Om akan putar arah mobilnya menuju toko mainan. Tapi, setelah sampai di sana. Kamu harus memilih mainan yang banyak, ya?!” ucap Putra.


“Iya. Aluna akan beli yang banyak mainan untuk membangun toko mainan di rumah,” sahut Aluna semangat. Aluna menengadahkan pandangannya. “Mami tidak marah sama Aluna kalau di rumah itu banyak mainan, kan?” tanya ALuna kepada Imelda.


“Tidak, Aluna bebas melakukan apa saja di rumah. Asal jangan merusak rumah, dan tidak membereskan sisa mainannya,” sahut Imelda.


“Iya!” ucap Aluna kesenangan.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2