
Mengingat kesedihan dan rasa tidak rela berpisah dari orang terdekat membuat kita awalnya merasa sulit untuk berpisah jauh darinya. Pikiran buruk terus melanda, hati terus curiga setiap 1 menit tidak mendapat kabar darinya.
Rasanya itu terlihat egois untuk diri sendiri. Memutuskan untuk berhenti memikirkan kecemburuan dan pikiran buruk dengan pasangan, awalnya memang sedikit berat. Namun, jika telah terbiasa mungkin semuanya akan terlihat normal dan waktu pun berjalan begitu cepat tanpa ada rasa curiga dan cemburu.
Tidak terasa 1 tahun sudah berlalu Putra berkuliah di luar negeri. Demi mengurangi pengeluaran Imelda, Putra memilih untuk bekerja paruh waktu di salah satu restaurant di kota AU, dengan gaji perjamnya sebesar $21,28, tanpa sepengetahuan Imelda.
Merasa lebih dari cukup mendapatkan gaji sebesar itu, Putra menyimpan uang bulanan pemberian Imelda, ia juga menyimpan sisa gajinya secara diam-diam. Semua itu untuk bekal ia 3 tahun lagi, setelah tamat ia berencana ingin mengembangkan perusahaan milik Imelda agar bisa lebih luas lagi.
“Permisi, ini pesanan Anda,” ucap Putra meletakkan piring makanan di atas meja pelanggan.
“Terima kasih,” sahut pria bersama dengan pasangannya.
Selesai meletakkan makanan pesanan pelanggan, Putra kembali ke dapur. Namun, langkah Putra harus terhenti saat tangan mungil memegang tangannya dari belakang.
Putra menoleh, dahinya mengernyit saat melihat genggaman tangan itu ternyata adalah milik Salsabila, teman satu kelas di kampusnya.
“Maaf, aku masih banyak pekerjaan,” ucap Putra menurunkan genggaman tangan Salsabila dari tangannya.
“Kamu tenang saja, tidak akan ada orang yang bisa memarahi kamu selagi ada aku di sini,” ucap Salsabila santai.
“Ck, bicara apa kamu. Kalau mau pesan makanan, mari aku antarkan ke kursi kosong di sana,” ajak Putra mengarahkan tangannya ke sisi kiri.
“Sebaiknya kamu ikut aku ke ruangan Presdir, di sana ada seseorang yang ingin berbicara kepada kamu,” ucap Salsabila mengajak Putra pergi ke ruangan pemilik restauran.
“Baiklah, aku pamit dulu ke teman-teman di dapur,” sahut Putra tanpa membantah.
Putra pun melangkah menuju dapur, meminta izin kepada senior, dan semua rekan kerjanya di dapur. Setelah mendapatkan izin, Putra mengikuti ajakan Salsabila menuju ruangan Presdir.
Sepanjang koridor menuju ruang Presdir, Salsabila terus mengajak Putra mengobrol, namun Putra tidak menjawabnya sama sekali. Bukan tidak sopan, tapi Putra sedang menghargai perasaan seorang wanita sedang memikirkannya di kota lain. Wanita itu adalah Imelda.
Langkah kaki Salsabila terhenti di depan ruangan Presdir, tangannya mendorong handle pintu.
“Mari masuk,” ajak Salsabila mempersilahkan Putra masuk.
“Terima kasih,” sahut Putra, kaki kanannya melangkah masuk ke dalam ruangan.
Salsabila menutup pintu ruangannya, kemudian berjalan manja menuju meja kerja milik Presdir.
“Pa, ini pria yang aku maksud,” ucap Salsabila mengejutkan Putra.
Putra kini berdiri di depan meja Presdir, sorot mata tenangnya menatap Presdir duduk di kursi kerja.
“Maaf, kalau boleh aku tahu. Kenapa Presdir Vience memanggilku ke sini?” tanya Putra sopan.
“Kamu teman sekelas Salsabila di universitas?” Vience balik bertanya dengan logat bahasa asing bercampur luar negeri.
__ADS_1
Putra melirik sekilas ke Salsabila berdiri di sisi kiri kursi Vience, kemudian ia mengarahkan pandangannya ke Vience.
“Iya, aku mahasiswa baru di universitas itu,” sahut Putra singkat.
Vience melirik ke Salsabila. “Izinkan Papa bicara berdua dengan Putra di sini, dan kamu tunggulah di luar ruangan,” pinta Vience meminta izin dengan lembut kepada Putrinya.
“Iya, Pa!” sahut Salsabila, tangannya melambai ke Putra. “Aku tunggu kamu di luar, ya?!” pamit Salsabila ke Putra.
Vience hanya melirik tajam ke Putra masih bersikap dingin dan cuek.
“Salsabila cantik, baik, ramah, dan sopan saat bersamamu. Kenapa kamu malah tidak bisa menghargai hal itu?” tanya Vience masih setia duduk di kursi besarnya.
“Aku menghargai kebaikan, dan sikap ramah putri Presdir. Namun, aku lebih menghargai perasaan seorang wanita yang telah setia dan terus memberikan aku semangat di tanah air,” sahut Putra tegas dengan sorot matanya datar.
“Ck, omong kosong macam apa ini? Jangan berlagak sok setia jika kamu baru menetap selama 1 tahun di sini. Bagaimana kalau kamu memilih untuk bersikap lebih kepada putriku. Tenang saja, aku akan memberikan gaji lebih kepadamu,” ucap Vience memberi penawaran.
Putra membungkukkan setengah tubuhnya.
“Maaf, aku bukan seorang pengkhianat. Aku permisi keluar karena banyak pekerjaan menungguku di dapur,” tolak Putra lembut, lalu ia melangkah keluar dari ruangan Vience dengan wajah datarnya.
Vience membiarkan Putra pergi.
“Pantas saja Salsabila sangat tertarik dengan pemuda ini. Selain wajahnya yang tampan, pemuda ini juga memiliki tutur kata yang sopan dan juga lembut. Meski wajahnya datar dan cuek,” gumam Vience menatap punggung Putra terus menjauh dari pantauan matanya.
Sesampainya di luar ruangan Vience. Putra melirik sejenak ke Salsabila berjongkok di sisi kirinya. Tidak ingin berbasa-basi, Putra melanjutkan langkahnya menuju ruang dapur untuk kembali bekerja.
“Tidak ada!” sahut Putra berbohong, dengan kedua kaki terus melangkah di koridor.
“Masa sih? Papa bilang ingin menaikkan gaji kamu karena kamu itu adalah karyawan terbaiknya selama 1 tahun ini,” gumam Salsabila.
Putra menghentikan langkahnya di koridor menuju dapur, sorot mata datarnya memandang nanar mata Salsabila.
“Berhentilah mengejarku, karena aku tidak akan bisa kamu kejar. Sudah begitu lama seorang wanita telah mengisi hatiku dan hari-hariku sampai sekarang. Sehingga aku tidak bisa menukarnya dengan orang baru seperti kamu!” cetus Putra memberitahu.
Salsabila tercengang sesaat. Kepalanya tertunduk, rasanya sungguh sakit kalau di tolak sebelum berjuang.
“Aku tahu. Wanita itu adalah wanita yang menjadi wallpaper di ponsel kamu, kan?” sahut Salsabila mengejutkan Putra.
“Iya!” sahut Putra singkat.
Putra pun kembali melangkah menuju ruang dapur, di ikuti oleh Salsabila. Seperti biasa, Salsabila terus berbicara tanpa mendapatkan jawaban dari Putra.
.
.
__ADS_1
Sementara itu di tanah air sendiri.
Kalau di tempat Putra tinggal adalah malam hari, maka di tempat Imelda adalah siang hari. Hari ini adalah tanggal merah, dimana semua para pekerja dan pemilik perusahaan mengistirahatkan tubuhnya di rumah atau melakukan jalan-jalan.
Bosan dengan aktivitasnya, Imelda berinisiatif untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar kompleks. Namun, langkahnya harus terhenti saat Rihana dan Maya menghadang jalannya.
“Berani sekali kamu masuk wilayah kami!” hardik Maya.
“Sudah membawa berondong kami ke luar negeri. Kini kamu malah ingin menyegarkan diri dengan berkeliling melewati rumah kami. Sana! Kembali kamu ke wilayah mu!” tambah Rihana mengusir Imelda sembari mendorong pelan tubuh Imelda.
Untunglah Imelda memiliki hati selembut salju. Meski sering dizholimi, Imelda tetap sabar menghadapi sikap tetangganya itu.
“Jangan terus menuduhku seperti itu. Semua itu keputusan Putra, bukan aku. Kalau kalian tidak percaya bisa tanya langsung ke orangnya,” jelas Imelda memberi masukkan.
“Alah! Pinter kali muncungmu itu berkilah!” tepis Rihana penuh amarah.
“Kalau tidak percaya, gimana kalian susul saja Putra ke sana. Aku akan memberikan alamat rumah kami yang ada di sana,” ucap Imelda memberi penawaran.
Rihana dan Maya saling melihat, kemudian mereka tersenyum manis kepada Imelda.
“Kebetulan sekali minggu depan ada libur panjang. Dengan senang hati aku akan menemuinya di sana,” sahut Maya cepat diangguki Rihana.
“Mampirlah ke rumahku biar aku beri catatan menuju jalan rumah Putra,” ucap Imelda.
“Tapi kamu tidak ikut, kan?” tanya Maya curiga.
“Tentu saja tidak. Kebetulan liburan itu aku masih banyak pekerjaan, kalian berdua pergilah ke sana,” sahut Imelda berbohong. Sebenarnya ia ingin mengunjungi Putra diam-diam.
“Apa kamu tidak curiga kepada kami?” tanya Rihana meyakinkan.
“Tentu saja tidak. Kita sudah bertetangga dan memiliki status janda yang lama. Aku tahu kalian tidak mungkin akan melewati batas kepada Putra,” sahut Imelda lagi-lagi berbohong, padahal ia merasa was-was.
“Kalau gitu kami akan ke rumah kamu nanti. Oh, ya! Kebetulan hari ini aku masak pudding, apa kamu mau makan di rumahku?” tawar Rihana.
“Aku juga masak rendang jengkol, ikan asin goring, dan ada cendol di rumah. Apa kamu mau?” tambah Maya tak mau kalah.
“Gimana kalau kita makan di taman saja,” sahut Imelda memberi masukan.
“Ide yang bagus. Kamu tunggulah di sana. Kami akan membawa makanan ke sana,” sahut Rihana diangguki Maya.
Imelda pun mulai melangkah menuju taman kompleks, Maya dan Rihana menyiapkan makanan unyuk mereka bawa.
.
.
__ADS_1
Bersambung