
Pukul 07:30 pagi.
Putra sudah tiba di teras rumah Imelda, jempol tangannya berulang kali menekan bel pintu rumah. 10 menit sudah ia menunggu di depan pintu rumah, akhirnya Imelda membuka pintu rumahnya.
“Kenapa kamu datangnya pagi sekali?” tanya Imelda masih memakai baju piyama, wajah kusut dan ada lingkar panda di bawah matanya.
“Apa kamu tidak tidur semalaman?” Putra malah bertanya.
“Tidur kok, hanya saja ada satu hal yang terus mengganjal di pikiranku,” sahut Imelda dengan suara beratnya.
Putra tidak menjawab atau kembali bertanya kepada Imelda. Putra malah menerobos masuk menuju ruang makan. Hal itu sontak saja membuat Imelda terkejut.
“Ka-kamu kenapa masuk ke dapur?” tanya Imelda terus mengikuti langkah Putra.
Putra tidak menjawab, langkah kakinya kini terhenti di depan kulkas 2 pintu, ia pun membuka pintu kulkas tersebut.
“Bagaimana caramu makan jika di lemari pendingin mu tidak menyimpan stok makanan?” tanya Putra datar. Sorot matanya mengarah ke wajah kurang tidur Imelda.
“Anu…aku bisa memesan makanan dari luar jika lapar,” sahut Imelda merendahkan nada suaranya.
“Ck, kalau gitu sana mandi. Biar aku saja yang menyiapkan makanan untukmu!” perintah Putra dingin, namun ucapan itu mampu membuat Imelda senang.
Imelda pun mengangguk, lalu dengan cepat ia melangkah menuju kamarnya di lantai 2.
“Maaf karena sudah berprasangka buruk padamu kemarin, dan membiarkan orang lain mempengaruhi isi pikiranku,” gumam Putra menatap punggung Imelda sudah menghilang dari pintu dapur.
Putra pergi ke supermarket di depan gang kompleks mereka, membeli beberapa makanan instan dan beberapa sayur-mayur yang ada di sana untuk ia masak. 15 kemudian Putra sudah berada di ruang dapur rumah Imelda, pandangannya terus tertuju pada bungkusan plastik belanjaan di atas meja.
‘Apa ini? Ada apa denganku yang baru menyadari jika aku seperti memperdulikannya. Dan tadi malam sewaktu tante Maya bilang kalau Imelda akan malam bersama seseorang, aku merasa cemburu. Jangan-jangan! Oh, jangan bilang aku menyukai Imelda?’ gumam Putra dalam hati, tanpa sadar kepalanya langsung tertunduk, raut wajahnya berubah menjadi suram.
“Kamu kenapa?” tanya Imelda mengejutkan Putra.
“Ti-tidak ada. A-aku hanya…” Putra menghentikan ucapannya, kedua tangannya mengeluarkan semua barang belanjaannya dari dalam plastik. “I-ini, aku sudah membeli semua makanan ini untuk kita sarapan bersama,” lanjut Putra gugup.
“Kamu belum makan?” tanya Imelda.
__ADS_1
“Sudah, cepat bantu aku kupas dan potong-potong bahan makanan yang sudah aku asingkan untuk aku masak,” celetuk Putra mengalihkan topik pembicaraan.
“Iya-ia, aku akan bantuin kamu nih!” sahut Imelda mengambil pisau membantu Putra memotong beberapa bahan masakan.
1 jam berlalu, Putra dan Imelda sudah selesai makan, membereskan meja dan kini sudah berada di dalam mobil siap jalan menuju ke kantor.
“Terima kasih untuk sarapannya,” ucap Imelda malu-malu.
“Hem,” sahut Putra mengangguk, lalu mulai melajukan mobilnya ke luar dari gerbang rumah otomatis.
Mobil di kendarai Imelda dan Putra perlahan melaju di gang kompleks mereka. Namun, Putra harus menghentikan laju mobil karena sepeda motor Maya menghadang jalannya.
“Untung aja aku tadi nggak ngebut,” gumam Putra, bola matanya melirik ke Maya berjalan mendekati pintu mobilnya.
Tok tok!
Maya mengetuk jendela kaca pintu mobil Putra.
“Ada apa tante?” tanya Putra setelah menurunkan jendela kaca mobilnya.
Sebelum mengambil kotak makanan dari tangan Maya, Putra melirik sekilas ke Imelda. Melihat raut wajah Imelda menjadi murung, Putra pun akhirnya menolaknya dengan cara halus.
“Mohon maaf tante, sepertinya siang nanti kami ada rapat sekaligus makan siang di luar. Jadi, aku tidak bisa menerima bekal makanan ini,” tolak Putra sopan.
Penolakan Putra membuat Imelda terkejut, sekilas di wajah tertunduk itu memancarkan senyum tipis. Namun, Maya menyadari hal itu. Tidak ingin kalah saing dengan Imelda, Maya memutuskan meletakkan bekal makan siang itu di atas pangkuan Putra.
“Jangan lupa di makan, ya! Tante memasaknya penuh dengan cinta!” ucap Maya sambil berlalu pergi meninggalkan mobil.
Karena kotak makanan sudah di atas pangkuan, dan Maya sudah melajukan sepeda motor matic miliknya meninggalkan mobil mereka. Putra hanya bisa menghela nafas panjang, meletakkan bekal kotak nasi itu di atas dashboard mobil, lalu kembali melajukan mobil mereka.
“Maaf ya, aku tidak bisa menolaknya,” ucap Putra membuat Imelda sekali lagi terkejut.
“Loh, ti-tidak masalah. Ke-kenapa kamu harus minta maaf padaku?”
“Tidak apa!” sahut Putra tidak mau menjelaskan alasannya meminta maaf kepada Imelda.
__ADS_1
1 jam berlalu, akhirnya mobilnya di kendarai Imelda dan Putra telah sampai di parkiran perusahaan. Baru saja turun dari mobil Putra sudah di hampiri salah satu karyawan wanita.
“Kenapa dengan Shinta?” gumam Imelda melihat dari dalam.
Baru saja ia bertanya di dalam hati, Imelda harus membulatkan kedua bola matanya saat melihat Shinta memberikan bungkusan baju dan coklat ke tangan Putra, lalu Shinta pergi dengan tergesa-gesa.
“Ternyata seperti ini rasanya jika menyukai seorang pria yang jauh lebih muda dan berwajah tampan,” gumam Imelda, kedua tangannya menepuk kedua pipinya untuk menyadarkan akan siapa dirinya.
“Sadar Imelda, kamu tuh hanya seorang janda sedangkan Putra adalah seorang remaja Putra berusia 18 tahun. Kamu boleh mengaguminya, tapi jangan berharap untuk bisa memilikinya. Ingat status kalian berbeda. Kamu adalah janda dan dia adalah bujang tampan,” lanjut Imelda bergumam.
“Kamu kenapa?” tanya Putra mengejutkan Imelda, tangannya menahan handle pintu.
“Oh, sepertinya aku masih mengantuk,” sahut Imelda berbohong, ia pun turun dari mobil. Namun, pandangan matanya terus tertuju ke bungkusan baju dan coklat serta kotak bekal di tangan Putra. “Sungguh masa muda yang indah ya!” tambah Imelda dengan senyum tipisnya.
“Aku malah membenci hal ini. Wanita-wanita itu hanya melihat parasku saja. Aku sangat benci wanita seperti mereka,” sahut Putra datar.
“Kalau tidak suka kenapa kamu mau menerima pemberian mereka?” tanya Imelda penasaran.
“Mendiang kedua orang tuaku mengajarkan akan artinya menghargai dan menghormati pemberian dari orang lain. Dan, menurutku itu tidaklah buruk,” sahut Putra santai.
“Bagaimana jika suatu saat kamu memiliki pasangan. Apakah kamu masih mau menerima pemberian dari para wanita yang menyukaimu?” tanya Imelda kembali.
“Tentu saja tidak. Perasaan pasangan itu lebih penting dari pada perasaan orang lain. Kenapa kamu terus bertanya seperti itu?”
“Tidak, aku hanya merasa kasihan saja pada pasanganmu jika suatu saat kamu masih memperdulikan perasaan orang lain,” sahut Imelda bergumam.
Sejenak Putra menghela nafas panjang, kedua kakinya kemudian melangkah mendekati Imelda dan mulai berbisik di telinganya.
“Sebenarnya aku lelah dengan semua ini. Bagaimana kalau kita pacaran, Bos!”
“APA?!”
.
.
__ADS_1
Bersambung....