Kompleks Janda

Kompleks Janda
35. Kedua Kaki Lemas, Hati Terasa Sakit


__ADS_3

Waktu di tunggu tiba. 1 minggu setelah Imelda memberikan alamat rumah milik mereka kepada Rihana dan Maya. Malam hari Maya dan Rihana terbang menuju kota AU. Bukan hanya Maya dan Rihana saja, Imelda juga diam-diam pergi ke kota AU dengan tiket penerbangan VIP.


Di dalam pesawat Rihana dan Maya.


“Eh jeng, janda hiper itu percaya begitu saja meninggalkan Putra di luar negeri,” celetuk Maya.


“Betul kali itu jeng Maya. Kalau aku jadi janda hiper itu, mungkin aku tidak akan melepaskan dan membebas liarkan berondong secakep itu. Walau katanya demi menutut ilmu. Aku nggak percaya. Apalagi janda seperti kita ini pernah di tinggal lakik yang haus akan belaian wanita,” sahut Rihana cepat dengan wajah seriusnya.


“Tuh bener. Sudah 1 tahun loh, Putra tidak kembali ke tanah air. Jangan-jangan Putra sudah menikah dan memiliki seorang anak di sana!” celetuk Maya.


“AAAA, aku tidak bisa membayangkan hal itu terjadi!” teriak Maya dan Rihana histeris, semua penumpang menoleh ke arah mereka dengan tatapan tajam.


Pramugari mendengar keributan di buat Rihana dan Maya, langsung menghampiri kursi mereka.


“Permisi!” ucap pramugari telah berdiri di samping kursi Maya.


“I-iya,” sahut Maya gugup.


“Demi kenyamanan semua penumpang, di harapkan menurunkan volume suaranya. Terima kasih!” tegur pramugari tersebut sopan.


“Maaf!” sahut Rihana dan Maya sedikit pelan.


Pramugari tersebut membalas dengan senyuman, kemudian melangkah pergi.


“Ssst! Kita harus sadar kalau kita mengambil penerbangan kelas ekonomi,” ucap Maya berbisik.


“Iya, itu lah begonya aku. Saking senangnya, sampek lupa aku kalau tiket penerbangan yang aku ambil adalah kelas ekonomi,” sahut Rihana mengingat kesalahannya.


“Pantesan kau di tinggal suamimu, ternyata kau adalah wanita yang menyesatkan,” celetuk Maya.


“Kau juga nya. Di tinggal lakik mu karena ketek kau bau. Sudahlah jangan menghina satu sama lain kalau masih punya ke kurangan. Jijik pula jadinya aku duduk dekat denganmu!” sahut Rihana tidak mau kalah.


“Iiss, lantam kali memang janda satu ini,” decak Maya menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku.


“Lebih lantam lagi kau!” hela Rihana tak mau kalah, tangannya memijat pelipisnya karena merasa pusing mendengar ocehan Maya.


“Bacot!” bisik Maya, membuat Rihana menggeram.

__ADS_1


“Awas saja kamu setelah pesawat ini lepas landas. Habislah kau ku buat setelah sampai di rumah Putra!” bisik Rihana tak ingin kalah.


“Hem!” dengus Maya menunjukkan kepalannya ke wajah Rihana.


Rihana membalasnya dengan lidah menjulur, mengejek Maya.


Jam dan menit terus bergerak, tidak terasa hampir 1 hari melakukan penerbangan menuju Negara tempat Putra tinggal. Pesawat milik Rihana dan Maya mendarat tanpa hambatan di landasan pesawat kota AU.


Tidak sabar ingin segera bertemu dengan Putra. Rihana dan Maya melangkah cepat keluar dari dalam bandara untuk mencari taksi demi cepat sampai ke rumah Putra.


30 menit kemudian pesawat Imelda juga mendarat dengan selamat.


“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga!” ucap Imelda merasa bersyukur.


Sambil melangkah keluar bandara, Imelda mencoba menelepon Putra. Hampir 5 kali Imelda menelepon, Putra tak kunjung mengangkat.


“Taksi!” panggil Imelda melambaikan tangannya ke taksi berjarak 2 meter dari tempat ia berdiri.


Taksi tersebut berhenti, Imelda memberikan alamat rumah Putra kepada supir taksi. Deal dengan pembayaran, Imelda masuk ke dalam taksi. Taksi tersebut perlahan melaju menuju tempat tinggal Putra.


Tidak putus asa, Imelda masih menelepon Putra. Memasuki 20 kali panggilan, barulah Putra menjawab panggilan telepon Imelda.


📲 [“Wa’alaikumsalam. Kamu pasti lelah. Kalau lelah, sebaiknya istirahat dulu. Aku tutup panggilan teleponnya, ya!”] ucap Imelda dengan suara lembutnya.


📲 [“Iya!”] sahut Putra langsung menutup panggilan telepon Imelda tanpa mengucapkan kata salam penutup.


Puas sudah mendengar suara Putra, Imelda memasukkan ponsel miliknya ke dalam tasnya. Berfikir jika Putra akan lapar setelah membersihkan rumah, Imelda meminta tolong kepada supir taksi untuk singgah sebentar ke salah satu tempat makanan.


Setelah menempuh waktu 4 jam dari bandara akhirnya taksi milik Imelda berhenti berjarak 10 meter dari halaman tanpa pagar milik mereka.


“Terimakasih, Pak!” ucap Imelda setelah memberikan ongkos kepada supir taksi.


Sebelum melangkah menuju rumah. Imelda memutuskan untuk bersembunyi di salah satu pohon besar begitu rindang di atas trotoar jalan berjarak 5 meter dari pohon tempat Maya dan Rihana bersembunyi. Dahi Imelda mengernyit melihat Rihana dan Maya berdiri seperti patung di balik pohon besar di halaman rumah.


Penasaran apa sebenarnya terjadi. Imelda memutuskan untuk melangkah mendekati tempat Rihana dan Maya. Kali ini Imelda berusaha melupakan kebohongannya kepada Rihana dan Maya demi mencaritahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi.


Langkah kaki Imelda terhenti di belakang Rihana dan Maya. Pandangannya ia alihkan mengikuti arah pandang Imelda dan Rihana. Begitu melihat hal sebenarnya terjadi di depan matanya, makanan dan minuman dingin di kedua tangannya terlepas begitu saja dari genggamannya.

__ADS_1


“Ti-tidak mungkin!” gumam Imelda terkejut melihat Putra begitu mesra mengajarkan seorang wanita menyapu teras rumah. Wanita itu adalah Salsabila.


Mendengar gumaman Imelda, Rihana dan Maya langsung menoleh kebelakang. Rihana dan Maya cepat-cepat membungkam mulut dan menarik Imelda untuk ikut bersembunyi bersama dengan mereka di balik pohon besar itu.


“Macam hantu kau ku rasa. Sudah diam dulu, jangan sok-sok histeris kau di sini!” tegur Rihana menekan nada suaranya.


“Pu-Putra…”


“Cengeng kali janda hiper satu ini. Macam nggak pernah lihat adegan berselingkuh aja kau ini. Diamlah berisik kau!” sela Maya membungkam kembali mulut Imelda.


Karena rasa sedih dan tak percaya melihat perbuatan Putra seperti itu. Tubuh Imelda menjadi lemas, ia pun pasrah menerima perbuatan Maya dan Rihana kepadanya.


‘Ternyata ini kisah sebenarnya. Kamu sibuk membersihkan rumah dengan seorang wanita,’ lirih Imelda dalam hati.


Dengan serentak kedua bola mata Imelda, Rihana, dan Maya, membulat sempurna saat melihat Salsabila mencium sebelah pipi Putra, kemudian Salsabila terlihat berlari begitu centil masuk ke dalam rumah.


“Aih! Ini benar-benar tidak bisa di toleransi lagi!” celetuk Maya melepaskan bungkaman tangannya dari mulut Imelda.


Kedua kaki Imelda mendadak lemah, ia pun berjongkok di antara Maya dan Rihana.


“Eh, janda hiper. Kenapa kamu malah jongkok di situ! kebelet berak apa kau?” celetuk Rihana.


“Sudahlah abaikan saja wanita bodoh ini. Mari kita beri pelajaran kepada gadis centil itu yang sudah berani merebut ciuman pertama kita!” celetuk Maya serius.


“Benar, siap-siaplah kau menghadapi badai besar dari kami!” gumam Rihana.


Rihana dan Maya melangkah besar. Aura jahat seorang wanita seperti ingin melabrak pelakor terpancar jelas di wajah Maya dan Rihana.


Langkah kaki Rihana dan Maya pun kini terhenti di depan pintu rumah terbuka lebar.


Tok tok tok!


“Assalamualaikum!” panggil Rihana dan Maya kuat, bersamaan dengan ketukan pintu rumah yang kuat pula.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2