
Pintu lift terbuka, Imelda kembali melangkah keluar menuju ruangan Putra. Sepanjang koridor menuju ruangan Putra terlihat beberapa karyawan wanita berwajah lesu membawa kembali hadiah-hadiah mereka. Termasuk karyawan terakhir bertemu dengan Imelda.
“Kenapa kamu bersedih?” tanya Imelda kepada karyawan itu sambil menahan lengannya.
Karyawan wanita tersebut memicing tajam ke arah Imelda. Membuat Imelda sedikit takut dan langsung melepaskan genggaman tangannya.
“Bos bilang tidak ada hubungan apa pun dengan Putra. Tapi, setelah aku mengatakan perasaanku kepada Putra, ia bilang ‘maaf, di hatiku hanya ada satu wanita yaitu, Bos Imelda’. Benar-benar, bos hanya bisa membuat kami semua patah hati!” sahut karyawan tersebut menekan nada suaranya.
“I-itu tidak….” ucapan Imelda harus terhenti saat karyawan tersebut meninggalkan Imelda di koridor tanpa mengatakan sepatah kata.
Imelda terdiam dalam kebingungan. Benar-benar tidak menyangka jika Putra membawa serius hubungan mereka. Tidak ingin terhanyut dalam kebingungan, Imelda mulai melangkahkan kedua kakinya menuju ruangan Putra.
“Putra…” panggil Imelda setelah masuk ke dalam ruangan dan berdiri di samping meja kerja.
Niat hati ingin bertanya, Imelda malah mendapat serangan mendadak oleh Putra. Putra berdiri menghadap Imelda, nanar kedua mata mereka saling bertemu, hembusan satu sama lain saling bertautan.
“Sungguh tega kamu mengatakan hal seperti itu kepada rekan kerja. Aku kan sudah bilang jika mulai hari ini kamu adalah kekasihku! Tapi, kenapa dengan santainya kamu mengatakan jika kita tidak memiliki hubungan apa pun? Apa kamu malu berpacaran dengan pemuda di bawah 20 tahun sepertiku?” celetuk Putra komplain.
“Ta-tapi kamu yang bilang jika ucapan kamu itu tadi adalah sebuah kontrak karena kamu merasa bosan terus di keliling wanita. A-aku pikir hubungan itu tidak boleh dipublish. Da-dan aku pikir hubungan kita hanya sebuah pelampiasan kamu saja,” sahut Imelda mengelak.
Putra berbalik arah membelakangi Imelda.
“Bodoh! Kalau sebenarnya aku ingin hubungan ini menjadi serius, gimana?” tanya Putra merendahkan nada suaranya.
Imelda terkejut bukan main. Ucapan ambigu dari Putra sungguh membuat ia hampir hilang akal.
“Jangan mempermainkan aku seperti ini. Katakan dengan jelas apa maksud dari ucapanmu? Dan, kenapa tadi kamu menciumku dengan alasan ciuman itu adalah sebuah kontrak kerja sama. Putra, kamu harus ingat aku ini siapa di sini. Aku tidak ingin kamu mempermainkan ku seperti ini lagi!” celetuk Imelda di sela kebingungan.
Dengan santai sambil berjalan menuju kursi kerja, dan mendudukkan dirinya Putra menjawab.
“Mungkin saat diparkiran tadi ucapanku terdengar ambigu. Aku ingin bilang, ucapanku yang di sini adalah yang sesungguhnya. Aku ingin menjadikan kamu sebagai kekasihku tidak dengan alasan apa pun. Kamu mau atau tidak? Kalau kamu menolak ku, anggap saja ciuman diparkiran hanya sebuah kesilapan,” ucap Putra dengan santai tanpa berpikir.
Imelda mengernyitkan dahinya, benar-benar tidak menyangka mendengar ucapan Putra seperti sedang mempermainkannya.
“Apa kamu sedang mempermainkan ku, karena aku sebenarnya menyukaimu?” tanya Imelda keceplosan.
Sejenak Putra tersentak, lalu sudut bibirnya menarik garis senyum senang sekilas. Putra pun mengarahkan tatapan datarnya ke wajah bingung Imelda.
“Aku serius. Apa perlu aku membuktikan keseriusanku kepadamu?” tanya Putra datar, kedua tangannya membuka gesper tali pinggang.
__ADS_1
Imelda menarik nafas sejenak, bola matanya semakin membulat sempurna saat Putra dengan santai ingin menurunkan resleting celananya.
“Putra, apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Imelda menahan tangan Putra.
“Aku pernah dengar seorang pria akan membuktikan keseriusan ucapannya saat pria tersebut membuka celananya, dan melakukan hubungan intim dengan kekasihnya. Aku pun akan melakukan hal yang sama denganmu agar kamu percaya jika ucapanku yang ini bukanlah ambigu,” sahut Putra dengan santai.
Wajah Imelda memerah seperti kepiting rebus. Saking paniknya ia pun segera memasang kembali gesper tali pinggang Putra. Putra hanya melihatnya. Namun, sorot matanya tertuju pada tangan Imelda seperti sengaja mendekat ke bagian titik sensitifnya.
“Apa kamu ingin membangunkan belalai gajahku yang saat ini sedang tertidur?” tanya Putra masih dengan mode datarnya.
Imelda tersentak, kakinya mundur satu langkah ke belakang. Malu dengan aksi spontan nya mengancing resleting celana Putra, Imela berbalik badan, berlari cepat meninggalkan ruangan Putra.
Putra menyandarkan tubuhnya di kursi sandarannya.
“Meski aku belum pernah melakukannya, tapi beneran aku serius ingin membuktikan kesungguhan ucapanku kepadanya,” gumam Putra masih dengan pikiran polosnya.
.
.
Di ruangan Imelda.
Bukan hanya wajah saja memerah seperti kepiting rebus, ritme debaran jantung Imelda juga berdegup sangat kencang hingga ingin lepas dari tempatnya. Namun, semua hal senang itu harus terputus saat dering ponsel dalam saku jas miliknya terus berdering kencang.
Imelda segara merogoh ponsel tersebut, melihat nama pemanggil. Dahi Imelda mengernyit saat melihat nama pemanggil adalah Om Doni, papanya Darwin.
“Tumben Om Doni meneleponku,” gumam Imelda, ia pun menekan tombol hijau.
📲 [ “Hallo, assallamulaikum, Om!”] sahut Imelda setelah mengangkat panggilan telepon Doni.
📲 [ “Malam nanti kamu tidak kemana-mana ‘kan?”] tanya Doni dari sebrang sana.
📲 [ “Sepertinya tidak, kenapa Om?” ] Imelda balik bertanya.
📲 [ “Om, tante dan Darwin akan ke sana nanti malam, ada sesuatu yang ingin bicarakan kepada kamu nanti.” ] sahut Doni.
📲 [ “Ya sudah, aku akan menunggu Om nanti malam.” ] sahut Imelda.
📲 [ “Kalau gitu Om tutup dulu. Sampai bertemu nanti malam.” ] pamit Doni sambil menutup panggilannya setelah Imelda membalas salam penutupnya.
__ADS_1
Imelda menatap layar ponselnya sudah mati. Ia pun mulai melangkah dan mendudukkan dirinya di kursi kerja miliknya.
“Ada apa ya? Kenapa Om dan tante ingin berkunjung. Tidak seperti biasanya,” gumam Imelda bertanya-tanya sendiri.
.
.
Sementara itu di ruang kerja milik Doni.
Doni duduk santai di kursi kerja miliknya dengan sekretaris berpakaian ketat duduk di sebelah pahanya.
“Siapa itu bos?” tanya sekretaris tersebut.
“Keponakanku. Seorang janda cantik yang begitu kaya raya di kota ini,” sahut Doni.
“Keponakan atau keponakan saying?” goda sekretaris tersebut.
“Keduanya. Ingin rasanya aku memilikinya, mengingat lekuk tubuhnya begitu sempurna di mataku!” sahut Doni mulai berpikiran mesum.
“Bagaimana jika istri Anda tahu tentang perasaan ini?” tanya sekretaris tersebut, jari-jemarinya bergerak maju ke bidang dada Doni.
“Darwin, anakku yang bodoh itu menyukainya. Mungkin aku bisa memanfaatkan hal tersebut dengan alasan ingin melamarnya,” sahut Doni sembari menahan jari-jemari sekretarisnya ingin menyelinap masuk ke dalam baju kemejanya.
“Bos sungguh hebat!” puji sekretaris tersebut.
“Kalau gitu kamu kunci pintu ruanganku dulu, jangan lupa tarik tirai kacanya agar kita bisa bermain sejenak,” bisik Doni.
“Aku sedang datang bulan. Gimana kalau aku melayaninya dengan cara yang berbeda,” tolak sekretaris tersebut tetap mematuhi perintah Doni, mengunci pintu dan menutup tirai kaca.
“Kalau hanya pakai mulut aku tidak puas. Aku ingin dari lubang lain, memikirkan lekukan tubuh Imelda membuat gairahku tidak bisa terbendung lagi,” ucap Doni dengan pikiran mesumnya.
“Ah, baiklah!” sahut sekretaris tersebut tanpa menolak.
.
.
Bersambung...
__ADS_1