
Malam harinya.
Maya, Rihana datang ke rumah sakit membawa Aluna dan beberapa perlengkapan baju ganti untuk Imelda.
Mencemaskan kondisi Putra, Maya dan Rihana langsung duduk di samping ranjang dengan derai air mata terus mengalir di kedua pipi mereka.
“Kenapa menangis?” tanya Putra sambil membelai rambut bagian belakang Aluna sedang duduk di samping tubuhnya.
“Sedih!” gumam Maya sambil menangis.
“Sedih kenapa?” tanya Putra penasaran.
“Ya, sedih aja lah. Melihat berondong kami mendapatkan perlakuan seperti ini,” sambung Rihana di sela tangisannya.
“Aku, kan baik-baik saja. Lagian dalang di balik ini semua sudah ketahuan. Saat ini orangnya sedang dalam masa pencarian,” sahut Putra memberitahu dengan tenang.
“Siapa orangnya?” tanya Imelda baru saja keluar dari kamar mandi.
“Iya, siapa orangnya?” sambung Rihana di angguki Maya.
“Sudahlah, itu tidak penting,” gumam Putra malas memberitahu.
“Tidak penting gimana. Kami juga harus tahu siapa orang di balik rencana pembunuhan kamu ini!” cetus Maya serius.
Di tengah-tengah kesibukan Maya, Imelda dan Rihana bertanya siapa dalang di balik pembunuhan Putra. Aluna malah meminta Putra untuk bermain boneka bersamanya.
“Om, Om main bapak-bapak an yok!” ajak Aluna sambil memegang boneka Barbie lelaki.
“Bukannya Om sekarang sudah menjadi Papa beneran Aluna. Kenapa harus menjadi mainan bapak-bapak an boneka?” tanya Putra sedikit bercanda.
“Ini loh, Om. Ini, Om jadi bapaknya dari boneka aku ini, sih Caca loh om!” tegas Aluna menunjukkan boneka Barbie perempuan di beri nama Caca.
“Oh! Jadi suaminya gitu?” tanya Putra tidak paham.
“Isss, enggak loh Om. Om jadi bapaknya sih Caca,” jelas Aluna terlihat emosi.
“Oh, iya-ia. Om sudah mengerti sekarang,” angguk Putra sambil memegang boneka Barbie laki-laki.
Tidak enak membuat Putra terlalu banyak bergerak. Imelda mengambil alih pembicaraan. Imelda mendekati ranjang dan duduk di tepiannya.
“Aluna, kan tahu kalau Om sedang sakit?” tanya Imelda.
“Iya, Mami!” sahut Aluna mengangguk.
“Jadi, Aluna harus bersikap seperti apa saat kita menjenguk orang yang sedang sakit?” tanya Imelda kembali.
“Harus sopan dan tidak membuat keributan,” sahut Aluna mengingat nasehat Imelda.
“Jadi, Aluna sudah tahu harus bersikap apa saat ini, kan sayang?” Imelda balik bertanya.
“Hem,” angguk Aluna, ia pun mengambil boneka Barbie dari tangan Putra dan berkata. “Maafkan Aluna ya, Om.”
__ADS_1
“Iya, nggak apa-apa kok,” sahut Putra di selingi senyuman manis.
“Kalau Om sakit. Berarti Om tidak pulang ke rumah dan tidur bersama dengan Aluna, dan Mami Imelda?” tanya Aluna dengan raut wajah sedih.
“Besok Om akan pulang,” sahut Putra tenang.
“Benarkah? Benar Papa…eh, maksudnya Om akan pulang?” tanya Aluna saking senangnya.
“Kalau Aluna mau memanggil Om dengan sebutan Papa, tidak apa-apa kok. Karena Om sekarang, kan memang sudah menjadi Papa sambung Aluna,” sahut Putra memberi ruang.
Aluna menunduk, dan menggeleng.
“Kenapa menggeleng sayang?” tanya Imelda.
“Om Putra bukan Papi asli Aluna. Jadi, Aluna tidak bisa memanggil Om Putra dengan sebutan Papa,” sahut Aluna bergumam.
Tidak ingin memaksa, Putra lebih baik mengelus puncak kepala Aluna untuk membuatnya tenang dan tidak bersedih.
Memang benar Putra telah menikah dengan Imelda. Tapi, Aluna belum bisa menerima Putra menjadi Papa sambungnya. Karena sampai detik ini Aluna merasa Papi kandungnya masih hidup di dunia ini.
Nyatanya, Papi kandung Aluna memanglah masih hidup. Papinya sebenarnya adalah Darwin. Tapi Darwin benar-benar tidak ingin bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Bahkan, sampai ibu kandung Aluna meninggal saat itu. Darwin benar-benar tidak ingin menikahi wanita tersebut, hingga Aluna terlahir tanpa hubungan halal.
Untung saja ada Imelda. Dengan besar hati dan penuh ketulusan Imelda mau merawat anak hasil hubungan gelap Darwin sampai sebesar ini. Hingga tibalah saatnya, dan sesuai janji Imelda kepada arwah dari ibu kandung Aluna, jika suatu hari nanti Imelda akan memberitahu semua siapa dirinya dan siapa Imelda.
.
.
Sementara itu di tempat berbeda.
Seorang pria memakai baju kemeja rapih, duduk di kursi besar, berlumut. Sebatang rokok menyala terselip di jari-jemarinya, sesekali bibirnya menghembuskan asap rokok tersebut.
Seorang pria terlihat lari tunggang-langgang memasuki rumah tua tersebut, dan berlutut di hadapan pria dengan wajah di tutupi gelapnya ruangan. Hanya ada beberapa lilin menerangi ruangan tersebut.
“Gawat tuan!” ucap pria tersebut.
“Bodoh! Pasti perbuatan kalian semua telah gagal!” umpat lelaki misterius tersebut.
“Benar tuan. Ka-kami telah gagal menjalankan tugas,” ucap pria itu menundukkan kepalanya.
Lelaki misterius membungkukkan sedikit tubuhnya, mengulurkan rokok menyala dan memadamkannya ke punggung tangan pria tersebut.
Cessss!!
“AAAA! A-ampun tuan!” teriak pria bersujud tersebut sambil menghembuskan punggung tangannya.
“Ampun kalian bilang? Sudah aku bayar mahal-mahal tapi kalian malah melakukan perbuatan yang tidak bermutu. MENGHABISKAN UANGKU SAJA!” teriak lelaki tersebut sambil melemparkan sepatunya ke sembarang arah dan mengenai salah satu anak buahnya.
Plaaak!!
“A-Ampun tuan! Ka-kami tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi,” ucap serentak anak buahnya sambil berlutut dengan tubuh gemetar ketakutan.
__ADS_1
“Kalau gitu segera habisi saja sepasang suami-istri yang tidak berguna tersebut yang berada di dalam sel tahanan. Jangan biarkan mereka menikmati udara lembab dan berkaratnya jeruji tahanan di sana!” perintah lelaki misterius tersebut menekan nada suaranya.
“Baik tuan. Ka-kami akan menyusup ke sel tahanan untuk melaksanakan perintah dari tuan!” sahut tiga orang anak buah bertubuh kekar.
.
.
Sementara itu di salah satu kamar hotel di kota M.
Darwin sedang berduaan dengan seorang wanita muda dan terlihat lugu.
“Siapa tadi nama kamu?” tanya Darwin sambil menuangkan sebotol minuman dingin ke dalam gelas.
“Si-Siti, Om,” sahut gadis tersebut.
“Oh, Siti. Nama yang bagus, sesuai dengan wajah dan rambut hitam panjang kamu,” puji Darwin sembari melangkah mendekati ranjang. Tangan kanannya mengulurkan minuman dingin. “Minumlah, saya rasa kamu telah kehausan setelah menempuh pejalanan panjang dari Desa ke kota ini,” tambah Darwin menawarkan segelas minuman dingin.
“Ter-terima kasih Om,” sahut Siti mengambil minuman dingin dan meminumnya.
“Kalau saya boleh tahu, kamu ke kota mau bertemu dengan siapa?” tanya Darwin mengingat ia bertemu dengan Siti dalam keadaan bingung di sebuah bangku terminal bus.
“Sa-saya ingin mencari pekerjaan di kota, Om,” sahut Siti sambil meletakkan gelas minuman ke meja lampu.
“Kamu mau bekerja?” tanya Darwin sambil menundukkan dirinya di sebelah Siti.
“I-iya Om. Saya ingin merubah nasib di kota. Saya bosan di Desa, di hina terus oleh tetangga,” sahut Siti sekaligus curhat.
Sejenak Darwin terdiam dalam pikirannya.
‘Lumayan juga gadis ini jika di jual. Tapi, sebelum aku menjualnya, lebih baik aku cicipi dulu sampai aku puas. Baru aku jual dengan harga tinggi ke pria gila itu,’ batin Darwin.
“Saya sebenarnya mempunyai pekerjaan dengan gaji cukup besar untuk kamu,” ucap Darwin setelah sadar dari pikiran jahatnya.
“Apa itu Om, apa pun pekerjaannya maka aku akan siap melakukannya,” sahut Siti cepat dan semangat.
“Kamu tahu, kan gimana cara mencari pekerjaan di kota besar ini?” tanya Darwin.
“Tahu!” angguk Siti.
“Saya ingin mengetes apakah kamu perawan atau tidak. Kalau kamu terbukti perawan, saya akan membayar kamu 2 juta rupiah. Tapi, kalau kamu terbukti tidak perawan, maka saya akan membayar kamu sebesar 500 ribu rupiah. Gimana?”
“Baik, saya mau Om!” sahut Siti cepat.
“Kalau gitu kamu mandi dulu, kemudian keluarlah tanpa memakai sehelai kain pun,” perintah Darwin.
“Baik Om,” sahut siti cepat.
Tanpa memberi alasan dan penolakan, Siti langsung berlari ke kamar mandi. Sedangkan Darwin tertawa puas melihat kebodohan dari wanita tersebut.
.
__ADS_1
.
Bersambung