Kompleks Janda

Kompleks Janda
23. Ada Semut di Bibir


__ADS_3

Permintaan Putra sontak saja membuat Imelda terkejut. Mau senang atau sedih, tapi raut wajah Imelda terlihat berbinar terang.


Siapa sih, tidak merasa senang saat seseorang disukai menyatakan perasaan kepada kita. Mau itu beneran atau bercandaan, jelas ucapan itu mampu membuat seseorang merasa bahagia hingga ke surga.


“Bagaimana, apa kamu mau menerimaku sebagai pacar?” tanya Putra sekali lagi.


“A-apa alasan kamu menyatakan perasaan itu kepadaku?” Imelda balik bertanya, ingin tahu apa alasan Putra tiba-tiba saja menyatakan perasaan kepada dirinya.


“Sebenarnya aku tidak tahu apa itu namanya cinta dan bagaimana menjalaninya. Alasan kenapa aku menyatakan cinta kepada kamu adalah, aku merasa bosan dengan semua yang aku jalani saat ini. Aku benci dengan semua wanita berbagai usia yang terus mengejar ku karena aku memiliki rupa wajah seperti ini. Menurutku, jika ada seorang kekasih yang menetap di hatiku, mungkin para wanita-wanita itu tidak akan mengejar ku lagi. Jadi, apakah kamu mau menjadi pacarku?” jelas Putra panjang lebar.


“A-aku hanya seorang janda dengan umur terlampau jauh berbeda dari kamu. Meski hubungan ini hanya untuk menjauhkan kamu dari wanita-wanita di luar sana. Tetap saja, menurutku seorang janda tidak pantas membantu dalam hal seperti….” Penolakan Imelda terhenti saat Putra melangkah dekat dengannya.


“Aku tidak pernah meminta apa pun kepada kamu. Jika aku meminta, maka jangan pernah menolaknya dengan alasan seperti ini, karena aku benci sebuah kata yang berhubungan dengan penolakan. Suka atau tidak suka, hari ini juga kamu telah resmi menjadi pacarku!” tegas Putra, ia pun mencium Imelda.


Deg deg deg!


Mendapat ciuman mendadak dari seorang pria ia sukai membuat ritme debaran jantung Imelda berpacu cepat. Aliran darah mulai memanas hingga ke puncak kepala. Tubuhnya pun menjadi tegang karena gugup.


‘Apa aku masih tertidur. Tapi kenapa rasanya begitu nyata, harum obat kumur mint nya menyeruak masuk ke tenggorokan dan terhenti di otak kecilku. Rasanya aku ingin membalasnya, namun entah kenapa bibirku merasakan kebas sehingga ku tak mampu untuk menggerakkannya. Yang aku rasakan saat ini hanya lembutnya bibir Putra,’ batin Imelda.


Merasa oksigen di paru-paru hampir kosong, Putra melepaskan ciumannya. Kedua kakinya mundur 2 langkah ke belakang, kepalanya tertunduk dengan wajah memerah menahan malu.


“I-itu adalah sebuah kontrak ciuman kalau hari ini kamu resmi menjadi pacarku. Mungkin menurut kamu aku tidak sopan, tapi di kota ini, wanita yang menurutku pantas mendapatkan ciuman dariku adalah kamu,” ucap Putra merendahkan nada suaranya karena rasa malu masih meredam di pikirannya.


Saking seriusnya ia ingin meminta Imelda untuk menjadi kekasihnya, Putra sampai melupakan jika saat ini mereka berdua masih di tempat parkir. Perbuatan Putra sontak saja membuat para karyawan baru saja datang terdiam seperti patung memandangi mereka berdua. Beberapa karyawan wanita melihat aksi itu berulang kali mendengus kesal. Namun, tidak bisa berkata apa pun lagi karena wanita itu adalah bos mereka.


“A-apa-apaan ini, ya?” tanya salah satu karyawan wanita mengejutkan Imelda dan Putra.


“Eh?” gumam Imelda terkejut bukan main hingga wajahnya kini berubah menjadi merah seperti kepiting rebus. Putra sendiri diam, menahan malu di wajah datarnya itu.

__ADS_1


“Ada semut di bibir Bos Imelda, jadi aku ambil aja,” celetuk Putra dengan santainya, ia pun mengusap bibir bawah Imelda dengan jempolnya, lalu memasukkan jempol tangan itu ke dalam mulutnya. “Hem, pantas saja ada semut hitam. Rupanya bibir Bos Imelda manis!” lanjut Putra tenang, meski sebenarnya ia sangat malu.


Imelda sendiri semakin malu hingga wajahnya berubah merah padam. Kalau bisa kita lihat, di kepala Imelda mengeluarkan asap.


Para karyawan pun di buat baper dengan tingkah Putra.


“WOUW!”


“Ya ampun, kenapa semut hitam itu tidak menempel di bibirku saja. Kalau ada semut seperti itu, pasti bibirku juga akan di cium oleh Putra,” ucap karyawan wanita rambut lurus berwarna merah.


“Kalau aku jadi bos Imelda, mungkin Putra akan aku tarik masuk ke dalam mobil. Langsung buka-bukaan, jangan lupa bercocok tanam agar menghasilkan benih yang bagus!” sorak histeris karyawan lainnya.


Mendengar sorakan histeris dari para karyawan, Putra mendekati salah satu karyawan tersebut, dan mulai berkata.


“Sungguh disayangkan, ciuman itu khusus untuk bos Imelda.”


Perkataan Putra membuat Imelda melayang hingga menuju surga tingkat 10, sedangkan para karyawan mendengarnya mendengus kesal. Hati mereka patah saat menyadari jika Putra tidak akan memilih mereka sebagai sang pujaan hati.


Imelda masih berdiam diri di samping mobil menatap kepergian Putra sudah dikelilingi banyak wanita. Namun, ada satu hal membuat Imelda terus bertanya-tanya kenapa hari ini banyak orang membawa bungkusan kado.


Imelda pun mendekati salah satu karyawan wanita masih berdiri di sana.


“Kalau boleh tahu hari ini hari apa?” tanya Imelda penasaran.


“Hari ini adalah hari valentine. Kenapa bos?”


“Pantes saja dari tadi aku melihat banyak orang membawa bungkusan kado. Ternyata ini hari valentine!”


“Iya!” angguk karyawan tersebut.

__ADS_1


“Kamu, kenapa kamu juga membawa sebuah bungkusan?” tanya Imelda mulai mengernyitkan dahinya.


Wajah karyawan tersebut berubah menjadi panik, tangannya dengan cepat menyembunyikan bungkusan tersebut ke balik tubuhnya, bibirnya terlihat tersenyum tipis dengan wajah terlihat gelisah.


“A-anu, bo-bos dan Putra tidak memiliki hubungan apa pun, kan?” tanya karyawan tersebut takut-takut.


Sejenak Imelda terdiam.


‘Hubungan? Jika pun kami memiliki sebuah hubungan, itu semua pasti hanya sebagai kontrak kerja. Bukan hubungan spesial pada umumnya. Ha,ah! Sudahlah, lagian hubungan kami hanya sebuah kontrak,’ gumam Imelda dalam hati.


“Bos,” panggil karyawan itu membuyarkan lamunan Imelda.


“Oh, ti-tidak. Ka-kami berdua tidak ada hubungan apa pun. Soal Putra yang menciumku tadi, hem…kamu anggap saja tidak melihatnya, karena sebenarnya ciuman itu tidak ada artinya, hehe!” jelas Imelda di sela tawa kakunya.


Mendengar jawaban Imelda membuat karyawan tersebut gembira. Ternyata lampu hijau masih terang mendengar. Kalau gitu masih ada kesempatan untuknya menyatakan perasaan kepada Putra.


“Benarkah Bos tidak ada hubungan spesial dengan Putra?” tanya karyawan tersebut dengan semangat.


“Hanya sebatas tetangga dan antara bos, pegawai,” sahut Imelda mengangguk.


“Kalau gitu aku akan menyatakan perasaanku kepada Putra. Siapa tahu hari valentine ini adalah hari keberuntunganku!” celetuk karyawan tersebut sambil berlari pergi meninggalkan Imelda masih diam berdiri di samping mobilnya.


Mendengar hal itu Imelda tercengang, tangannya memegang bibirnya dan mulai teringat akan ciuman itu kembali.


“Bodohnya aku, kenapa aku tadi diam saja saat Putra menciumku!” gerutu Imelda sambil menghentakkan kedua kakinya.


Lelah dengan pikirannya saat ini sedang kacau akibat ulah Putra. Imelda mulai melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam perusahaannya. Sesampainya di dalam perusahaan, Imelda mengernyitkan dahinya menatap wajah lesu para karyawannya. Penasaran dengan apa terjadi hari itu, Imelda melanjutkan langkahnya menuju ruangan Putra.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2