Kompleks Janda

Kompleks Janda
29. Aku ingin keluar dari Perusahaan kamu


__ADS_3

Mobil di kendarai Putra dan Imelda terparkir rapih di parkiran perusahaan. Sebelum turun dari mobil, Imelda menahan tangan Putra karena ia ingin membicarakan hal penting.


“Kenapa kamu menahan tanganku?” tanya Putra melihat genggaman tangan Imelda begitu erat.


“Anu, kamu marah tidak, ya?” tanya Imelda ambigu.


“Marah kenapa?” Putra balik bertanya karena tidak mengerti.


“Mengenai hubungan kita. Boleh tidak aku…”


“Kamu ingin mengatakan hubungan kita agar tidak dipublikasikan ke para karyawan, iya?” sela Putra langsung mengerti tujuan pembicaraan dari Imelda.


Imelda menundukkan kepalanya, tangannya meremas pinggiran roknya karena gugup.


“Sebenarnya, sebenarnya aku bukan malu karena kamu adalah kekasihku. Aku malu kalau para karyawan tahu jika kamu berpacaran dengan seorang janda,” jelas Imelda pelan, kepalanya semakin tertunduk karena malu.


“Sudahlah, jangan hiraukan hal itu,” ucap Putra sembari membuka seatbelt milik Imelda.


“Kamu benar tidak malu kalau para karyawan membicarakan kita?” tanya Imelda memastikan.


“Tentu saja tidak. Paling nanti ada sebuah gosip miring tentangku,” sahut Putra sembari melangkah keluar dari mobil.


Penasaran dengan ucapan Putra, Imelda segera turun, ia pun berdiri di samping Putra yang berdiri di depan mobil miliknya.


“Gosip apa itu?” tanya Imelda penasaran.


“Kamu tahu aku hanya seorang pemuda di bawah 20 tahun. Aku tidak memiliki apa pun di kota ini, bahkan aku juga baru bekerja selama hampir 1 bulan dengan kamu di perusahaan ini. Mendengar aku berpacaran dengan kamu, tentu saja akan ada gosip yang mengatakan jika aku rela berpacaran dengan kamu karena menginginkan uang dari kamu,” jelas Putra.


Imelda mengernyitkan dahinya, seolah paham maksud ucapan Putra.


‘Benar juga, kenapa aku tidak memikirkan hal itu. Kalau memang ada gosip murahan seperti itu terjadi, kasihan juga Putra. Dari pada memikirkan tentang perasaan orang lain, lebih baik aku memberi semangat untuk Putra agar giat bekerja,’ gumam Imelda dalam hati, tangannya menggenggam pergelangan tangan kanan Putra.


“Kenapa tiba-tiba menggenggam tanganku?” tanya Putra, sorot matanya beralih ke genggaman tangan Imelda.

__ADS_1


“Apa pun ucapan buruk orang lain tentang kamu, aku akan tetap percaya pada kamu. Bukti nyata itu lebih penting dari pada omong kosong yang melihat sesuatu hanya dari luarnya saja,” sahut Imelda menyelipkan jari-jemarinya ke jari-jemari Putra, lalu menggenggam tangannya. “Ayo! masuk,” tambah Imelda mulai melangkah, Putra mengikutinya.


Begitu langkah kaki mereka sampai di ruang loby dan ruang percetakan, semua mata karyawan memandang ke arah Imelda dan Putra, tercengang melihat pagi ini Imelda begitu lengket dengan Putra. Karyawan wanita, mereka hanya bisa mendengus kesal.


“Pagi semua!” sapa Imelda seperti biasanya.


Bukan sapaan di dapat Imelda, malah hampir separuh karyawannya memandang sinis ke arahnya, apa lagi melihat genggaman tangan Imelda pada tangan Putra.


Imelda dan Putra naik ke lift menuju ruangan mereka. Di dalam lift, Imelda melepaskan genggaman tangannya. Namun, Putra tidak membiarkan hal itu. Putra malah balik menggenggam tangan Imelda.


“Kenapa kamu tidak melepaskannya?” tanya Imelda bingung.


“Boleh kamu menganggap aku bocah masih di bawah umur. Tapi, asal kamu tahu saja..” Putra menggantung ucapannya, memutar ujung sepatunya, berdiri berhadapan dengan Imelda. “Aku ini adalah lelaki normal. Bukan seorang bocah yang bisa kamu permainkan,” lanjut Putra serius.


Imelda menjadi gugup, ia pun mencari alasan mengapa ia bersikap seperti itu kepada Putra.


“Ta-tadi aku hanya ingin membuktikan jika aku tidak malu berpacaran dengan kamu. A-aku juga membuktikan kalau aku tetap akan memilih kamu…” penjelasan Imelda terhenti saat pintu lift terbuka.


“Aku kasih tahu ke kamu, jangan coba membuktikan kepada orang lain seperti itu lagi, karena pembuktian yang kamu terapkan seperti seorang bocah!” ucap Putra memberitahu.


Kedua kaki mereka masih terus melangkah di koridor menuju ruang kerja mereka. 5 menit berjalan dalam diam di koridor, akhirnya Putra menghentikan langkahnya di depan pintu ruangan Imelda, dan melepaskan genggaman tangannya.


“Silahkan masuk bos,” ucap Putra membuka pintu ruangan Imelda.


“Rasanya tidak rela harus berpisah darimu,” gumam Imelda dengan suara imutnya.


“Jangan seperti itu, kamu harus terbiasa jauh dariku,” cetus Putra mematahkan sedikit perasaan rindu Imelda.


“Kejam sekali kamu!” gumam Imelda mulai berbalik badan.


“Imelda, aku ingin minta izin kepadamu,” ucap Putra tiba-tiba, Imelda langsung berbalik badan, melangkah lebih dekat.


“Kamu ingin minta izin apa?” tanya Imelda penasaran.

__ADS_1


“Apa boleh aku masuk sebentar agar bisa berbicara lebih private dengan kamu?” Putra balik bertanya.


“Oh, tentu saja. Lagian pagi ini kita tidak terlalu banyak permintaan pesanan,” sahut Imelda mempersilahkan Putra masuk.


Tanpa banyak bertanya Putra masuk ke dalam ruangan Imelda, dan duduk di sofa single. Kemudian Imelda pun mendudukkan dirinya di sofa single berhadapan dengan Putra.


“Langsung saja ke intinya. Setelah aku pikir-pikir, aku ingin mencoba mencari pekerjaan di luar dari Perusahaan kamu. Aku lihat banyak perusahaan masih mau menerima seorang pria yang hanya tamatan SMA. Sebagai seorang pria yang harus menafkahi istrinya di masa depan, aku memutuskan ingin melamar di salah satu perusahaan, agar aku bisa menjadi pria sejati yang tidak makan gaji dari kekasihnya,” jelas Putra dengan niatnya.


“Kamu kira gaji di luaran itu sebesar di perusahaan ku? Kamu kira kamu bisa bekerja tanpa banting tulang, dan harus makan telat di luar dari perusahaanku? Tidak Putra. Aku akan merasa sakit hati jika harus membiarkan kamu pergi begitu saja,” ucap Imelda, tangannya memegang punggung tangan Putra, lalu menatap wajah tertunduk Putra terlihat banyak pertimbangan.


“Kalau kamu ingin membiayai istrimu di masa mendatang, maka aku bersedia melebihkan gaji kamu agar kamu bisa masuk kuliah. Lulus kuliah dengan nilai bagus dulu, baru kamu bisa keluar dari perusahaan ku demi mewujudkan cita-citamu,” tambah Imelda mengusulkan.


“Aku tidak tahu universitas mana yang bagus di kota ini,” ucap Putra jujur.


“Kamu bisa ambil kuliah di salah satu Universitas bergensi di kota ini. Ambil dulu D3, kemudian kamu bisa lanjut ke S1 di universitas luar negeri ternama agar kamu bisa memiliki jenjang tamatan bergengsi yang bagus,” sahut Imelda mengusulkan.


Putra mengernyitkan dahinya, terkejut mendengar kalimat terakhir Imelda.


“Ja-jangan bercanda kamu. Luar negeri itu jauh dari tanah air. A-aku pun juga tidak mungkin mampu masuk universitas di sana!”


“Aku akan membiayai kamu,” sahut Imelda pelan, raut wajahnya terlihat tidak ikhlas melepaskan kepergian Putra.


“Tidak, aku tidak bisa membiarkan kamu tinggal di negeri ini sendirian. Lebih bagus aku kuliah sampai D3 di sini dari pada aku…”


Imelda membungkam mulut Putra dengan tangannya, ia pun menggeleng.


“Sssst! Masa depan kamu masih panjang, jadi kejarlah sebelum terlambat. Ketika libur berkunjunglah ke tanah air, atau aku akan berkunjung ke sana. Sekarang jangan membantahku, karena saat ini aku bos kamu di sini. Pembicaraan kita sudah selesai, sebaiknya kamu masuk sebelum aku potong gaji kamu!” sela Imelda tegas. Putra pun patuh.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2