Kompleks Janda

Kompleks Janda
60.


__ADS_3

1 minggu telah berlalu dari kepergian Aluna. Imelda masih bersedih atas kepergian Aluna, lebih sering menyendiri di dalam kamar milik Aluna. Memeluk boneka tedy kesayangan, dan bingkai foto Aluna saat merayakan ulang tahun yang ke-3 tahun.


Putra, Maya dan Rihana tidak bisa berbuat apa pun lagi. Mereka bertiga hanya bisa berdiri di depan pintu, memandang Imelda tertidur di atas ranjang berukuran 4 kaki milik Aluna.


“Nasibnya memang sungguh menyedihkan,” cetus Maya bergumam.


“Semua yang ia sayangi perlahan pergi meninggalkannya. Orang terdekat dianggapnya bisa menjadi pelindung dan tempat curhat, ternyata adalah seorang pengkhianat dan musuh besar,” tambah Rihana lirih.


“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi padanya,” ucap Putra cepat.


Maya dan Rihana memutar arah berdirinya menghadap Putra.


“Berjanjilah untuk tidak mengkhianatinya,” ucap Maya ingin memberikan sebuah janji kepada Putra.


“Aku tidak bisa berjanji. Tapi, ku pastikan hal buruk dan sebuah pengkhianatan tidak akan aku lakukan di belakang Imelda,” sahut Putra menolak janji.


“Janda baru itu telah di tangkap. Om yang sudah memiliki rencana buruk kepadamu juga telah di kebumikan dengan layak. Tante dan semua janda di sini berharap setelah ini tidak akan ada lagi sebuah masalah besar menimpa kalian,” cetus Rihana memberitahu sekaligus memberi doa.


“Amiin,” sahut Putra mengaminkan.


“Karena kami masih harus segera berangkat ke kantor. Tolong jaga dan lindungi Imelda, ya,” ucap Maya berpamitan.


“Tenang saja. Terima kasih telah menyempatkan diri untuk melihat Imelda,” terima kasih Putra sedikit membungkukkan tubuhnya.


“Di sini kita adalah keluarga. Jadi perbuatan kami adalah hal biasa,” ucap Maya.


Rihana menepuk sebelah bahu Putra. “Kami pergi,” pamit Rihana sekali lagi.


Putra mengantar kepergian Maya dan Rihana sampai ke teras rumah. Saat hendak berbalik, masuk ke dalam rumah ia melihat seorang wanita memakai pakaian serba hitam berdiri di sebrang jalan, memandang ke arahnya. Wanita itu adalah Jenni, istri dari almarhum Doni.


Putra melangkah menuruni anak tangga teras rumah, berjalan menghampiri Jenni masih berdiri di sebrang sana.


“Kenapa hanya berdiri di sini?” tanya Putra penasaran.


“Aku hanya ingin melihat apakah Imelda baik-baik saja di dalam?” sahut Jenni sekaligus bertanya.


“Semenjak kepergian Aluna, kondisi Imelda buruk. Imelda masih sering menyendiri di dalam kamar Aluna,” sahut Putra memberitahu.


Jenni sedikit membungkuk. “Maafkan semua kesalahan almarhum suamiku. Aku tidak menyangka jika lelaki itu akan melakukan hal buruk seperti ini kepada keluarga keponakannya,” maaf Jenni dengan suara lembutnya.

__ADS_1


“Aku rasa Imelda telah memaafkan perbuatan dari almarhum suami tante,” sahut Putra.


“Syukurlah. Kalau gitu aku pamit pulang. Sampaikan salamku kepada Imelda,” pesan Jenni sebelum melangkah pergi.


“Baik, akan aku sampaikan nanti,” sahut Putra.


Jenni melangkah menuju mobil miliknya, dan pergi meninggalkan kompleks rumah Imelda.


Putra kembali melangkah masuk ke dalam rumah, membuatkan segelas teh hangat untuk Imelda dan memberikannya.


“Sayang, bangun dan minum teh hangat ini dulu,” ucap Putra sopan, ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, tangan kanannya memegang gelas berisi teh hangat.


Imelda tidak menjawab, bibirnya malah mengeluarkan suara tangisan lirih. Putra segera meletakkan gelas berisi teh di atas meja lampu, dan merebahkan tubuhnya di belakang Imelda sembari memeluknya.


“Aku tahu kamu sangat terpukul akan kepergian Aluna. Tapi, bagaimana dengan Aluna di sana. Aku rasa gadis mungil itu telah tenang dan bertemu dengan ibu kandungnya,” ucap Putra memberitahu, tangannya membelai puncak kepala Imelda, dan meletakkan dagunya di sana.


“Sayang, jika kamu menangis seperti ini. Kamu terlihat seperti seorang wanita yang menyulitkan Aluna untuk bertemu dengan ibu kandungnya. Seharusnya dia bisa tertawa dan bermain di sana bersama dengan ibunya, saat melihat kamu terus menangis di sini, Aluna pasti ikut bersedih dari sana. Dan kebahagian untuk bermain dengan ibunya akan tertunda,” lanjut Putra berusaha membujuk Imelda.


Merasa ucapan Putra ada benarnya. Tangisan Imelda perlahan mereda, ia memutar posisi tidurnya jadi saling berhadapan dengan Putra, kepalanya menengadah, menatap wajah tenang dan santai Putra.


“Apakah saat ini Aluna benar-benar telah bertemu dengan ibu kandungnya?” tanya Imelda memastikan.


“Berarti selama aku terus menangis, Aluna tidak akan tenang bermain dengan ibu kandungnya di sana. Kalau benar seperti itu, aku akan mencoba untuk tidak menangis dan meratapi kepergian Aluna,” ucap Imelda lirih.


“Kalau masih ingin menangis, maka menangislah. Tidak ada seseorang yang akan melarang hal itu, asal semua tangisan yang kamu keluarkan akan meredakan rasa sedihmu!”


Imelda memeluk Putra dengan sangat erat, Putra membalasnya dengan senyuman dan pelukan hangat. Isakan tangis begitu kuat keluar begitu saja dari bibir Imelda.


“Aluna, Aluna. Semoga kamu tenang di sana sayang. Berbahagialah bersama dengan ibu kandungmu di surga sana!” isak tangis Imelda.


30 menit berlalu. Tangisan Imelda perlahan mereda, kedua tangannya melepaskan perlahan pelukannya dari tubuh Putra.


“Apakah kamu sudah tenang?” tanya Putra.


Imelda mengangguk, kedua tangannya segera mengusap air mata di wajahnya, dan suara isakan masih terus terdengar.


Lelah terus berbaring, Putra membantu Imelda duduk.


“Biar tubuh kamu segar kembali. Gimana kalau kita mandi bareng, aku akan membantu kamu menggosok punggungmu, dan memijat tubuhmu agar bisa lebih rileks dan tenang,” usul Putra.

__ADS_1


Imelda mengangguk.


Putra turun dari ranjang, dengan sekali gerakan ia menggendong tubuh ringan Imelda. “Ayo! Mari kita mandi!” teriak Putra membuat Imelda tertawa.


.


.


Di ruang tamu kediaman Jenni.


Jenni terus menatap wajah penuh penyesalan Darwin.


“Kenapa Mama terus menatapku seperti itu?” tanya Darwin tak suka.


“Apa kamu sekarang sedang menyesali perbuatanmu?” Jenni balik bertanya.


“Tentu saja,” sahut Darwin merendahkan nada suaranya.


“Apa kamu ingin mengulang semua perbuatan buruk ini suatu hari nanti?” tanya Jenni kembali.


“Aku rasa tidak, karena aku telah menemukan seorang wanita yang pas untukku,” sahut Darwin.


“Siapa?”


“Wanita itu adalah gadis Desa yang sudah aku renggut kesuciannya dengan cara berbohong. Saat ini dia sedang tinggal di sebuah kontrakan kecil,” sahut Darwin.


Merasa lelah dan pusing melihat kelakuan jahat Darwin. Jenni berulang kali menghela nafas panjang, memijat pelipisnya.


“Nikahi gadis itu. Tapi, jangan harap Mama akan datang di pernikahanmu!” tegas Jenni memberi perintah.


“Rencananya aku memang akan menikahi gadis itu,” ucap Darwin memberitahu. Ia pun beranjak dari duduknya, “Terima kasih telah mendengarkan permintaanku. Aku pergi, Ma. Semoga Mama akan menemukan letak kebahagian Mama sendiri nantinya,” tambah Darwin memberi doa terbaik untuk Jenni.


“Mama akan mengirimkan uang untuk biaya pernikahanmu. Lamar, buatlah pesta, serta berikan rumah layak untuk menantuku,” cetus Jenni sembari menatap kepergian Darwin.


“Baik!” sahut Darwin sambil terus melangkah.


.


.

__ADS_1


Semoga kita dijauhkan dari orang-orang yang ingin berbuat jahat kepada kita. Amiin. 🙏✨


__ADS_2