Kompleks Janda

Kompleks Janda
25. Darwin datang Untuk melamar


__ADS_3

Pukul 20:30, di ruang tamu Imelda.


Duduk sepasang suami-istri dan seorang pemuda. Sepasang suami-istri dan seorang pemuda tersebut adalah Doni, Jenni dan Darwin.


“Silahkan diminum Om, tante, dan…” ucapan Imelda terhenti pada wajah Darwin. Sorot mata Darwin mengingatkan Imelda akan perbuatan keji Darwin kepadanya malam itu.


“Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot,” ucap Jenni memecah keheningan saat melihat raut wajah Imelda tampak berubah menjadi pucat seperti menahan ketakutan.


“Oh, ti-tidak repot kok,” sahut Imelda berusaha tenang, ia pun mendudukkan dirinya di kursi single.


Imelda menatap wajah Om dan tantenya lalu mulai bertanya tujuan mereka berkunjung kerumahnya setelah 2 tahun tidak pernah bertemu.


“Maaf, kalau aku boleh tahu apa tujuan Om dan tante datang kesini?” tambah Imelda.


Sekilas Jenni menatap Darwin, lalu beralih pandang ke Doni, kemudian berakhir menatap Imelda dengan wajah masih menunggu jawaban.


“Begini, tante dan Om sudah mendengar semua perbuatan Darwin kepada kamu. Darwin mengatakan jika sangat menyesali perbuatannya waktu itu. Kami sebagai orang tua merasa tak percaya akan perbuatan kotor Darwin kepadamu. Jadi, tante dan Om datang kesini untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan Darwin dengan cara melamar mu,” sahut Jenni menjelaskan niat kedatangan mereka ke rumah Imelda.


“Benar, Om sangat malu melihat Darwin seperti itu. Entah kelakuan siapa yang ia tiru sehingga ia tega melakukan perbuatan mesum itu kepada sepupunya sendiri,” Doni menimpali seolah dirinya sangat marah kepada Darwin. Padahal dalam hatinya ia menaruh harapan besar akan jawaban Imelda, demi melancarkan niat terselubung miliknya.


“Maafkan Om dan tante karena tidak becus mendidik Darwin,” lanjut Jenni kembali.


Imelda tidak menjawab apa pun, ia hanya melihat gerak-gerik wajah Darwin terlihat tidak ada rasa penyesalan. Imelda juga melirik sejenak ke wajah Doni penuh dengan tanda tanya.


‘Rencana apa yang ingin mereka perbuat padaku. Aku bahkan tidak bisa melihat titik penyesalan atas perbuatan Darwin di raut wajah mereka. Di sini aku hanya melihat sebuah rencana terselebung tersimpan di raut wajah tante, Om dan Darwin,’ batin Imelda.


Melihat Imelda belum memberi jawaban apa pun tentang semua ungkapan maksud kedatangan mereka ke rumahnya. Doni memberikan kode kepada Jenni untuk bertanya kembali apakah Imelda mau menerima lamaran mereka.


Jenni pun bergerak, meninggalkan tempat duduknya mendekati sofa tempat Imelda duduk.


“Tante tahu ini adalah sebuah keputusan mendadak untuk kamu. Niat kami datang ke sini tulus. Tante dan Om hanya memikirkan bagaimana jika ada orang lain yang melihat kejadian itu. Merekam perbuatan Darwin secara diam-diam, lalu menyebarkannya. Tante tidak mau nama kamu tercemar, begitu juga dengan Darwin. Imelda, apakah kamu mau menerima lamaran dari tante dan Om untuk kebaikan Darwin dan kamu?” tanya Jenni berusaha merayu.

__ADS_1


Di saat bersamaan, Putra baru saja kembali dari toko perhiasan, ia pun singgah ke rumah Imelda. Sesampainya di depan teras rumah, Putra tidak sengaja mendengar pertanyaan Jenni, hal itu membuat langkah kaki Putra harus terhenti di depan pintu utama.


“Apa! Kedua orang tua dari pria itu akan melamar Imelda?” gumam Putra sembari menyembunyikan tubuhnya di balik pintu.


Tidak ingin membuat kedua telinganya menjadi sakit mendengar percakapan mereka, Putra memutuskan untuk melangkah pergi membawa kotak perhiasan berisikan kalung emas untuk diberikan kepada Imelda.


Putra sengaja membelikan kalung emas tersebut sebagai tanda bukti jika perasaannya tidaklah main-main, meski ia masih belum tahu apakah perasaan aneh terus mengusik dadanya itu adalah perasaan cinta atau hanya perasaan nafsu ingin memiliki Imelda. Jelas bagi Putra saat ini, ia hanya ingin Imelda tahu dengan mengikatkan kalung tersebut ke jenjang leher Imelda menandakan bahwa Imelda adalah wanita satu-satunya miliknya, tidak ada orang lain boleh mengusiknya.


Walau saat ini Putra tahu jika kedua orang tua Darwin akan melamar Imelda, tapi perasaan dan keteguhan hati Putra untuk memiliki Imelda tidak mau kalah. Sampai detik ini Putra tetap tidak akan memberikan Imelda kepada siapa pun. Karena baginya kehilangan seseorang begitu ia sayangi membuat hatinya tersiksa, seperti meninggalnya kedua orang tuanya.


Langkah kaki Putra terhenti di tengah jalan menuju rumahnya saat mobil Rihana menghadang jalannya.


“Sssst! Berondong manis, legit, dan harum!” panggil Rihana mengulurkan kepalanya keluar dari dalam jendela mobil.


Putra melirik sekilas, ia pun melanjutkan kembali langkahnya.


Melihat Putra melangkah dengan wajah kesal, Rihana memutuskan turun dari mobilnya, mengejar Putra.


“Maaf, bisa tidak lepaskan tangan tante dari bahuku,” pinta Putra datar dengan lirikan tajamnya.


“Oh, i-iya deh!” sahut Rihana melepaskan tangannya dari bahu Putra. “Kenapa pulang dari rumah janda hiper wajah kamu menjadi suram seperti ini. Apa janda hiper itu telah menyakiti hati kamu?” lanjut Rihana kembali bertanya.


“Tidak,” sahut Putra singkat.


“Jadi apa yang membuat wajah kamu menjadi seperti ini?” Rihana kembali bertanya karena penasaran.


Di tengah-tengah pertanyaan Rihana, pintu gerbang otomatis milik Imelda terbuka lebar, keluarlah mobil di tumpangi Doni, Jenni dan Darwin, di dalam gerbang juga terlihat Imelda berdiri, sorot mata terkejut Imelda ketangkap basah oleh sorot mata Putra. Imelda dan Putra pun saling pandang dengan jarak kejauhan.


“Putra,” gumam Imelda dengan raut wajah terkejutnya.


Melihat raut wajah suram Putra, dan wajah panik Imelda membuat pikiran Rihana ditumbuhi berbagai macam pertanyaan.

__ADS_1


“Oh, ternyata kamu yang membuat wajah Putra menjadi suram seperti ini. Gara-gara kamu, janda hiper! Putra hampir ketabrak olehku!” celetuk Rihana melebih-lebihkan.


“Apakah ada yang terluka?” Imelda spontan mendekati Putra. Tapi, Putra memutuskan untuk melangkah ke rumahnya meninggalkan Imelda bersama dengan Rihana.


Wajah Imelda berubah menjadi bingung dan panik saat Putra terlihat marah kepadanya.


‘Apakah Putra mendengar semua percakapan kami tadi?’ tanya Imelda dalam hatinya, sorot matanya masih menatap lurus ke punggung Putra sudah masuk ke dalam pintu rumah Putra.


Tidak ingin diam begitu saja, Rihana masih dalam kekepoannya mulai mendekati Imelda.


“He, kau apakan berondong manisku itu?” tanya Rihana sinis.


“Ti-tidak ada,” sahut Imelda gugup.


“Jangan bohong kau! Buktinya tadi Putra berjalan keluar dari rumah kamu seperti seseorang yang putus asa. Apa kau memasukkan seorang pria lagi ke dalam rumahmu?” tuduh Rihana kembali.


“Tidak, aku tidak melakukan apa pun. Aku juga tidak memasukkan seorang pria manapun ke dalam rumahku!” sahut Imelda dengan suara gemetar.


“Alah! Pasti saat ini kau sedang berdusta. Jujur kau!” desak Rihana kembali.


Merasa tidak enak hati kepada Putra. Imelda memutuskan meninggalkan Rihana, kedua kakinya spontan berlari menuju rumah Putra untuk menjelaskan sendiri maksud kedatangan Darwin dan om, tantenya.


Tok tok tok!


“Putra, tolong buka pintu!” teriak Imelda dari depan pintu.


Ingin mendatangi Imelda. Perut Rihana mendadak mulas ingin buang bab, sehingga Rihana memutuskan untuk lekas pulang membiarkan Imelda terus mengetuk pintu rumah Putra.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2