
Tibalah waktunya. Hari ini adalah hari pertama Putra masuk ke universitas di tuju olehnya. Namun, hari ini wajah Putra tampak berbeda dari biasanya. Wajah tampan itu kini diselimuti aura suram sehingga sepanjang mata pelajaran kuliah sampai akhir, wajah Putra tampak suram seperti tak bersemangat.
Sungguh kasihan Putra, Imelda harus pulang ke tanah air sebab rumahnya mengalami kebakaran. Data-data bisnis miliknya juga berantakan karena para karyawan lupa dengan semua pelajaran diajarkan oleh Putra.
Benar-benar Putra kali ini harus tinggal sendiri di luar negeri, dan harus merelakan kepergian Imelda. Meski pikirannya saat ini kacau balau mengingat Darwin, sepupu Imelda masih memiliki rencana jahat.
Mata pelajaran kuliah telah selesai, Putra terus melangkah menuju parkiran mobil di kampusnya sembari ingin menelepon Imelda, memastikan apakah Imelda baik-baik saja, dan bagaimana kondisi rumah dan Perusahaan. Namun, saat Putra masih terus menunggu Imelda mengangkat panggilan telepon darinya, dari belakang ada tangan mungil menepuk bahu kiri Putra, membuat Putra terkejut dan menoleh kebelakang.
“Siapa, ya?” tanya Putra pada wanita itu. Tangan kanannya masih menggenggam ponsel miliknya, terlihat panggilan teleponnya telah diangkat oleh Imelda.
“Namaku, Salsabila. Aku teman sekelas kamu,” sahut Salsabila dengan bibir terus mengulas senyum tipis.
“Oh, kalau gitu aku duluan,” pamit Putra dingin, ia pun melangkah meninggalkan Salsabila.
“Tunggu, kalau boleh tahu siapa nama kamu?” tanya Salsabila sedikit berteriak karena Putra telah berada sejauh 10 langkah darinya.
“Putra!” sahut Putra memberitahu sembari melanjutkan langkah kakinya.
Tanpa Putra sadari, Imelda berulang kali memanggil Putra. Lelah terus memanggil, Imelda memilih diam dengan wajah terkejutnya di ruang kerja miliknya. Tangan kirinya juga spontan meremas tumpukan dokumen di atas mejanya itu.
Setelah sampai di mobil, Putra baru menyadari jika ponsel miliknya masih terus terhubung dengan Imelda. Putra langsung meletakkan ponsel miliknya ke daun telinganya, menjawab panggilannya sembari melajukan perlahan mobil baru pemberian Imelda.
📲 [“Assalamualaikum. A-apa kamu sudah lama mengangkat panggilan teleponku? Dan kamu juga mendengar tentang percakapanku dengan teman sekelas ku?”] tanya Putra gugup.
📲 [“Wa’alaikumsalam. Percakapan yang mana? Aku baru saja kembali duduk di kursi setelah bertemu dengan tukang rehab rumah.”] sahut Imelda berbohong. Meski saat ini hatinya di landa cemburu besar, dan rasanya ingin terbang ke sana. Namun, Imelda harus menahannya demi mengetahui apakah Putra beneran tulus mencintainya atau hanya ingin mengincar hartanya.
📲 [“Yakin?”] tanya Putra memastikan sembari terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
📲 [“Iya. Gimana kuliah kamu?”] Imelda mengalihkan pembicaraan agar meredakan rasa cemburunya.
__ADS_1
📲 [“Otakku tidak mampu menyerap semua pelajaran yang diajarkan oleh dosen pembimbing. Pikiranku hanya tertuju pada kamu yang jauh di sana. Ini bukan gombal, aku serius sangat mencemaskan kamu dari sini. Gimana rumah dan perusahaan kamu?”] sahut Putra terdengar manja.
📲 [“Alhamdulilah, kerusakan di rumah tidak terlalu parah. Untung saja mendiang Papa memasang alat otomatis pemadam api di beberapa titik penting di bagian rumah, sehingga kerusakan itu terjadi hanya pada bagian belakang rumah saja. Tentang aku yang tidak kembali ke sana, kamu tidak keberatan 'kan?”] jelas Imelda sekaligus bertanya.
📲 [“99,999% Aku keberatan. Tapi… ya, udah deh! Aku akan segera pulang sesekali ke tanah air untuk bertemu dengan kamu.”] sahut Putra lesu.
📲 [“Kalau gitu aku tutup panggilan teleponnya, ya. Daa…I love you!”] pamit Imelda setelah ia mendapat salam penutup dari Putra.
Putra pun kembali melajukan mobil miliknya, sedangkan Imelda mengehmpaskan tubuhnya kesandaran kursi kerjanya. Sesekali bibirnya terlihat menarik dan membuang nafas panjang untuk menjernihkan pikirannya.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan pikiran Imelda.
“Ya, silahkan masuk,” sahut Imelda mempersilahkan karyawannya masuk.
“Ini berkas baru yang sudah kami selesaikan, bu,” sahut karyawan tersebut meletakkan tumpukan dokumen di atas meja Imelda.
“Sudah bu,” sahut karyawan itu.
“Kalau gitu kamu boleh pergi,” ucap Imelda mempersilahkan karyawannya pergi.
Melihat tumpukan dokumen menggunung, Imelda harus menghilangkan rasa kecemburuannya kepada Putra. Mencoba berfikir positif dan mempercayai ucapan Putra, agar hatinya menjadi tenang.
Imelda pun akhirnya mencoba menghabiskan waktunya di depan layar laptop miliknya, mengulang kembali semua data-data yang rusak.
Sementara itu di ruang karyawan.
Karena beberapa pekerjaan milik masing-masing karyawan telah selesai, karyawan-karyawan tersebut memilih untuk berkumpul, membicarakan raut wajah Imelda semenjak datang terlihat lesu dan kacau.
__ADS_1
“Eh, kalian lihat tidak wajah lesu bu Imelda saat datang tadi?” tanya karyawan memakai hijab bunga-bunga berwarna coklat.
“Lihat dong! Wajah bu Imelda benar-benar terlihat sangat menyedihkan. Wajah itu mengingatkan aku saat mendiang Papa bu Imelda meninggal dunia,” sahut karyawan wanita berambut keriting.
“Akibat rumah mengalami kebakaran ringan, dan data-data yang kita kirimkan salah. Bu Imelda harus merelakan dirinya jauh dari Putra!”
“Dan sekarang pikiranku telah menerawang jauh ke angkasa. Apa yang sedang Putra lakukan seorang diri di sana. Mengingat di sana banyak wanita cantik tanpa memakai baju yang sopan. Apalagi di sana sangat bebas. Aduuuh! Akankah iman Putra masih bisa bertahan tanpa menghamili anak orang di sana!” sambung karyawan wanita memakai kontak lensa motif batik.
“Gila! Aku baru sadar jika Putra di sana tinggal sendirian. Sudah ganteng, pintar, baik, pendiam. Ah, pokoknya paket lengkaplah. Aku doakan semoga di mata Putra wanita-wanita di sana terlihat jelek,” doa karyawan memakai hijab berwarna hitam.
“AMIIN!” di aminkan banyak karyawan wanita. Kemudian mereka kembali bekerja karena melihat Imelda telah berdiri di belakang pintu ruangan mereka.
.
.
Di kediaman rumah Putra.
Putra telah sampai di rumah. Karena lapar Putra juga memasak makanan untuknya makan. Namun, makan sore hari ini sedikit berbeda dari makan sore, siang, dan pagi sebelumnya. Kali ini Putra harus kembali makan sendiri, walau ia sempat merasakan kehangatan makan berdua seperti keluarga bersama dengan Imelda.
“Ternyata seperti ini rasanya kalau sedang jatuh cinta dan jauh dari sang kekasih,” gumam Putra mengaduk-aduk makanannya. “Oh, kenapalah harus Imelda lebih dulu terlahir di dunia ini dari pada aku. Andai aku duluan yang lahir, mungkin saat ini aku dan Imelda sudah memiliki anak dan hidup bahagia,” tambah Putra dengan khayalannya sendiri.
Lelah terus mengkhayal, Putra akhirnya melahap makanannya dengan santai. Menguyah pelan-pelan untuk menghabiskan waktu kesendiriannya.
Waktu terus berlalu, malam hari pun tiba. Tinggallah Putra seorang diri di rumah itu. Setelah selesai mengerjaka tugas kampusnya, Putra memilih merebahkan tubuhnya di ranjang bekas tempat Imelda tidur. Putra terus menghirup aroma wangi Imelda dari bantal bekas Imelda pakai.
“Harum shampo yang kamu pakai masih melekat di sini. Aku sungguh-sungguh merindukan kamu,” gumam Putra sembari mencium bantal milik Imelda.
.
__ADS_1
.
Bersambung