Kompleks Janda

Kompleks Janda
31. Para wanita menangis


__ADS_3

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sepertinya baru kemarin Imelda dan Putra membahas tentang Universitas negeri mana ingin Putra pilih. Hari ini, tepat 2 minggu kemudian, Putra dan Imelda sudah berada di dalam pesawat siap terbang menuju kota AU.


Awalnya Imelda ingin mengambil penerbangan kelas vip, namun Putra menolaknya untuk mengurangi biaya.


Di dalam pesawat Putra masih diam tak menyangka jika hari ini dia akan pergi meninggalkan tanah air demi melanjutkan studinya ke jenjang lebih tinggi.


“Terima kasih telah mewujudkan keinginanku,” ucap Putra sembari memegang punggung tangan kiri Imelda.


“Jangan berkata seperti itu. Kamu harus ingat, ketika kamu mulai masuk ke perguruan tinggi, maka kamu harus siap untuk mempertanggung jawabkan ucapan kamu waktu itu. Kamu harus janji untuk memulangkan semua uang yang sudah aku berikan untuk kamu, dan…”


Imelda menggantung ucapannya, lirikan penuh cinta kini berubah menjadi suram.


“Dan kamu harus segera menikahi aku setelah kamu sukses nantinya. Awas saja jika kamu melirik wanita lain selain aku. Aku akan potong ekhem kamu nantinya!” lanjut Imelda berbisik di telinga Putra.


Bisikan halus membuat Putra bergidik ngeri. Putra mengangguk patuh untuk membuat Imelda senang.


Pesawat dinaiki mereka akhirnya lepas landas menuju kota tempat mereka akan menetap selama 4 tahun atau bahkan waktu tidak ditentukan. Ada perasaan sedih dan campur aduk mengingat harus meninggalkan rumah bekas peninggalan kedua orang tuanya.


Melihat ekspresi wajah Imelda berubah menjadi mendung, Putra menggenggam punggung tangan Imelda.


“Apa kamu sedih meninggalkan tanah air demi ikut bersamaku?” tanya Putra dengan suara lembut.


“Iya, setelah kepergian mendiang kedua orang tuaku, baru kali ini aku pergi meninggalkan tanah air, perusahaan dan rumah peninggalan milik Papa dan Mama,” sahut Imelda lirih.


“Maaf, karena keegoisanku kamu akhirnya harus meninggalkan rumah dan semuanya. Tapi, semua yang aku lakukan demi kebaikan kamu juga. Hatiku tidak nyaman saat harus berpisah darimu,” ucap Putra terdengar tulus.


“Terima kasih telah peduli padaku,” sahut Imelda, bibirnya mengulas senyum tipis untuk Putra.


Setelah menempuh waktu penerbang hampir satu hari dari tanah air ke AU. Pesawat dinaiki Putra dan Imelda akhirnya mendarat di bandara Internasional kota AU.


Kedua bola mata Putra membulat sempurna saat ia benar-benar tidak menyangka jika sudah berdiri di kota tersebut.


Suhu udara dingin menusuk ke tulang-tulang Putra meski sudah memakai jaket tebal.


“Ternyata suhu udara di sini dingin, ya?” ungkap Putra polos sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya agar hangat.


“Iya, maka mari kita cari taksi untuk segera sampai ke rumah,” sahut Imelda mulai melangkah lebih dulu.


Putra dan Imelda sudah mendapatkan taksi, akhirnya taksi di tumpangi Imelda dan Putra menuju ke rumah sudah di beli oleh Imelda.


4 jam kemudian taksi tersebut terhenti di sebuah rumah sederhana bertingkat 1 dengan halaman begitu luas, serta pepohonan rindang. Selesai sudah melakukan pembayaran kepada supir taksi, Imelda dan Putra melangkah memasuki halaman rumah tersebut.


“Rumah yang sangat bagus. Di sini kita juga memiliki banyak tetangga seperti di tanah air,” ucap Putra dengan sorot matanya memandang ke sekeliling tempat.

__ADS_1


“Syukurlah kalau kamu suka,” sahut Imelda menghentikan langkahnya di depan pintu rumah, diikuti Putra.


“Kenapa kita tidak masuk ke dalam?” tanya Putra penasaran kenapa Imelda tidak membuka pintu rumah.


“Kita sedang menunggu pemilik rumah untuk datang. Katanya 5 menit lagi…” ucapan Imelda terhenti melihat mobil berwarna putih berhenti di halaman rumahnya. “Nah, itu orangnya,” lanjut Imelda menunjuk ke mobil putih.


Keluarlah sepasang suami-istri di dari dalam mobil. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa mendekati Imelda dan Putra.


“Maaf sudah membuat kalian menunggu lama,” ucap perempuan itu memakai bahasa asing.


“Tidak masalah, kami juga baru sampai,” sahut Imelda dengan bahasa asing.


Perempuan tersebut mengeluarkan selembar kertas putih bertulisan angka, lalu memberikannya ke Imelda.


“Kemarin kami sudah mengganti kuncinya memakai pin. Ini pin dari pintu tersebut, kalau kamu mau mengubah pin nya, silahkan,” ucap perempuan tersebut.


“Baik, terima kasih,” sahut Imelda mengambil kertas dari tangan wanita tersebut.


"Anak kamu sangat tampan, ya!" puji suami dari perempuan itu.


Putra dan Imelda saling pandang, mereka hanya melemparkan senyum kaku.


“Kalau begitu kami permisi dulu. Semua keterangan tentang rumah ini yang telah kita bicarakan di telepon kamu sudah puaskan?” lanjut wanita tersebut memastikan, sekaligus berpamitan.


Sepasang suami-istri itu pun pergi meninggalkan Imelda dan Putra. Imelda pun membuka pin pintu diberikan oleh wanita itu kemudian menukarnya dengan pin baru.


“Mari masuk,” ajak Imelda setelah membuka pintu rumah.


Putra pun masuk, sorot matanya menjadi liar untuk memastikan apakah di dalam rumah itu aman-aman saja. Belum puas hanya memandangi, Putra mendekati ke semua barang di ruang tamu itu, memeriksa secara detail apakah ada sebuah camera di pasang di sana. Atau sebuah bom.


“Kamu kenapa?” tanya Imelda sembari meletakan koper dan tas di ruang tamu.


“Aku hanya memastikan apakah tempat ini aman dari para penjahat,” sahut Putra saat ini berjongkok, memandang bawah kolong sofa.


Kewaspadaan Putra membuat Imelda tidak mampu lagi menahan tawanya, hingga tawa itu terlepas keluar begitu saja dari bibirnya.


“Kamu sungguh polos,” cetus Imelda di sela sisa tawanya.


“Jangan bilang aku polos. Gini-gini aku bisa cium kamu sampai kehabisan nafas loh,” celetuk Putra.


Imelda terdiam, tangannya memegang bibirnya.


“Hehe, kalau hanya itu aku juga bisa,” ucap Imelda tak mau kalah.

__ADS_1


Putra pun berhenti dari pencariannya, ia berjalan dengan wajah datarnya ke arah Imelda.


“Stop! Berhenti berkata seperti itu sebelum nafsuku naik,” cetus Putra menghentikan percakapan dewasa mereka.


“Baik-baik, kalau gitu mari kita periksa yang lainnya,” usul Imelda.


“Yuk!” sahut Putra sambil membawa koper miliknya dan milik Imelda menuju kamar mereka.


Di saat Imelda dan Putra sibuk membereskan rumah baru mereka di sana. Ada banyak wanita merasakan patah hati di tanah air.


.


.


Di kompleks janda.


Berkumpul sudah para wanita-wanita di depan teras kontrakan Putra. Dan di sana ada Mama Inces pemilik kontrakan Putra.


Isakan tangis patah hati terdengar begitu lembut di depan teras rumah Putra. Jari-jemari manja di penuhi cat kuku berwarna warni terus menempel di daun pintu kontrakan Putra.


“Berondong ku, kenapa kamu malah pergi dengan janda hiper itu? Di sini ada aku. Aku juga mampu kok membiayai kamu untuk kuliah di luar negeri!” isak Rihana.


“Putra, apa janda hiper tak tahu malu itu telah memperkosamu agar kamu selalu menuruti semua ucapannya? Tante di sini ada, punya tante juga lebih menggigit dari milik janda hiper itu. Tante juga memiliki banyak uang untuk bisa mengajak kamu indehoi, eh…maksudnya sekolah di luar negeri!” isak Maya tak mau kalah.


Mama Inces, sang pemilik kontrakan hanya diam memandang drama kesedihan di buat para janda di kompleks itu. Tangan kanannya terus menggerakkan kipas ke wajah dan lehernya.


“Eh, anak itu kuliah di sana. Bukan menggatal seperti yang kalian pikirkan. Jadi, berhentilah kalian berpikiran buruk tentang kontrakan baruku!” sekak Mama Inces.


.


.


Sementara itu di perusahaan milik Imelda.


Seluruh karyawan wanita serentak memakai pakaian berwarna hitam, tangisan kehilangan terus menggema di masing-masing ruang kerja para karyawan.


“PUTRA! Tidak akan aku biarkan kamu di miliki bos Imelda. Putra, pulanglah dengan keadaan masih perjaka. Jangan sampai kamu menghamili bos Imelda di sana!”


Itulah teriakan dari para karyawan dan janda di kompleks setelah mengetahui kepergian Putra bersama dengan Imelda.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2