Kompleks Janda

Kompleks Janda
30. Pilihlah


__ADS_3

Setelah memberikan izin kepada Putra untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Imelda menyuruh Putra kembali bekerja.


Di dalam ruang kerja Putra, ia duduk termenung di depan layar monitornya menyala.


“Imelda sungguh baik kepadaku. Tapi, kenapa saat ia ingin merelakan aku pergi ada perasaan mengganjal di hatiku. Rasanya aku tidak ingin menjauh darinya,” gumam Putra sambil memegang dada bagian kirinya.


Lamunan Putra terhenti saat ponsel miliknya di atas meja berdering. Putra melirik ke layar ponselnya, dahinya mengernyit melihat pesan wa dari Randy.


“Kenapa sih perut buncit ini mengirimkan foto padaku?” gumam Putra melihat nomor pengirim adalah Randy.


Dahi Putra mengernyit melihat gambar foto Randy, Lila, Joni bersama dengan Fuji memakai baju hijab sopan seperti melangsungkan resepsi lamaran. Di bawah gambar tersebut bertulisan sebuah pesan Randy mewakili ketiga temannya.


...{Wajah aja yang ganteng, di rebuti banyak wanita. Tapi sayang belum laku kau, Putra! Sehabis Fuji menikah. Maka Joni akan menyusul, menikahi anak perawan orang yang dari kota. Tidak lama aku, kemudian Lila. Kami semua akan kejar target untuk mendapatkan anak. Ha ha ha! Kau akan menjadi bujang lapuk yang di kelilingi para janda di sana. Oh ya, aku ingin berpesan kepada kamu, jangan bercocok tanam dulu sebelum menikah, entar anu…ehem mu menjadi? Akh! Sudahlah, lanjutkan terus perjuangan kamu untuk bisa menikmati goyangan dari janda-janda itu. Tunggu-tunggu, aku juga dengar kalau kamu sedang berpacaran dengan salah satu janda di kompleks tersebut. Aku sarankan sebaiknya kamu pilih yang perawan dulu, biar kau tahu rasanya menerobos gawang yang masih di sekat!}...


Membaca isi pesan dari Randy membuat emosi Putra naik turun karena merasa sedang mengejek Imelda. Tidak ingin kalah dengan Randy dan ketiga temannya, Putra pun membalas isi pesan dari Randy.


...{Jangan banggakan anak perawan orang lain. Sudah kalian pastikan wanita itu masih perawan atau tidak? Kalau belum, pastikan dulu keperawanannya dan goyangannya. Jujur aja aku memang berpacaran dengan janda cantik di kompleks ini. Tapi, rasanya sama sempit dan enaknya macam anak perawan. Tentang aku kapan menyusul kalian menikah, kalian tenang saja. Tanpa menikah aku bisa punya anak banyak di sini.}...


Putra pun mematikan ponsel miliknya karena ia mendadak emosi melihat isi pesan dari keempat teman di Desanya itu. Putra menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi empuk miliknya.


“Kawan nggak berbobot. Untung aku banyak baca artikel-artikel kemarin, kalau tidak. Mati kutu aku tidak mampu membalas isi pesan dari Randy itu!” gumam Putra menggeram.


Gumaman Putra terputus saat ada seseorang mengetuk pintu ruangannya. Putra pun mempersilahkan masuk karyawan wanita tersebut.


“Ini berkas-berkas milik salah satu klien,” ucap wanita itu menumpukkan dokumen di atas meja kerja Putra.


“Terimakasih ya,” sahut Putra menatap wajah gugup karyawan tersebut.

__ADS_1


“Kamu kenapa?” tanya Putra menyadari kegugupan wanita itu.


“A-anu, apa benar kamu berpacaran dengan bos Imelda?” tanya wanita itu takut-takut.


“Benar, kenapa?” tanya Putra menatap wajah wanita tersebut saat ini tertunduk lesu.


“Yah, sepertinya aku tidak memiliki harapan deh!” hela wanita tersebut.


“Harapan apa, ya?” tanya Putra tidak paham maksud dari ucapan wanita itu.


Wanita tersebut menundukkan kepalanya, kedua tangan saling mencubit di depan perutnya.


“Hem, aku…aku sebenarnya menyukai kamu!” gumam wanita itu lalu mengangkat wajahnya. “Tapi, aku tidak akan menyerah. Aku akan berusaha untuk merebutmu agar bisa berpaling padaku!” lanjut wanita itu serius, wajahnya pun berubah menjadi merah karena malu.


Putra terdiam di dalam kebingungannya. Belum lagi ia sempat angkat bicara, wanita itu sudah berlari pergi keluar dari ruangan kerjanya.


Di saat bersamaan Imelda datang membawa beberapa lembaran kertas di tangan kanannya.


“Aku melihat Susi lari dengan wajah merah yang tertunduk dari ruangan kamu. Kalau aku boleh tahu, ada apa sebenarnya?” tanya Imelda sedikit cemburu.


Langkah kaki Imelda berhenti di samping meja kerja Putra, tatapan penuh curiga masih memperhatikan gerak-gerik tubuh Putra.


“Aku juga sebenarnya tidak tahu maksud dari ucapannya. Menurutku ucapan karyawan bernama Susi tidak terlalu penting untuk di bahas,” sahut Putra malas menjelaskannya kepada Imelda, takut Imelda salah paham.


“Yakin tidak penting?” tanya Imelda menyakinkan.


“Iya, bu Imeldaku!” sahut Putra di selingi senyuman manisnya. Sorot mata Putra beralih ke beberapa lembar kertas di tangan Imelda. “Kertas apa itu yang kamu pegang?” tanya Putra mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Oh, ini beberapa Universitas luar negeri yang bagus untuk kamu,” sahut Imelda memberikan lembaran kertas berisi foto universitas berserta kelebihan dan jurusan dari masing-masing Universitas itu.


Putra mengambil dan membaca satu persatu lembaran Universitas tersebut. Putra meletakkan kertas itu, lalu menatap wajah sendu Imelda.


“Bukannya aku ingin berkuliah di tanah air. Tapi, kenapa kamu malah memberikan aku referensi kuliah di luar negeri?” tanya Putra penasaran.


“Setelah aku pikir-pikir, sepertinya sayang jika kamu hanya mengambil kuliah di tanah air. Agar wawasan kamu lebih luas lagi, aku ingin membiayai kamu kuliah di luar negeri. Bu-bukan ada maksud yang aneh-aneh, i-itu semua demi masa depan kamu. A-aku akan setia menunggu kepulangan kamu di sini, tentang biaya a-aku yang akan membayar semuanya. Ke-kebutulan aku memiliki tabungan lebih dari cukup,” jelas Imelda gugup.


“Aku tidak ingin menjadi benalu di hidupmu,” tolak Putra tegas.


“Bu-bukan benalu!” sahut Imelda cepat.


“Aku hanya menginginkan masa depan yang baik untukmu. Karena itu aku juga memilih Universitas yang terbaik untukmu. Dengan ini aku juga bisa mendapatkan harapan besar untukmu, seperti kamu akan membangun perusahaan sendiri yang lebih besar dari pada milikku!” tambah Imelda lagi, tangannya mengambil tangan Putra. “Aku mohon, jangan tolak permintaanku. Kalau kamu tidak enak mendapatkan uang dariku secara gratis, maka bayarlah uang pemberianku itu nanti setelah kamu lulus dan menjadi orang yang sukses!” tambah Imelda lagi agar tidak menyinggung perasaan Putra.


“Sepertinya aku tidak ingin meninggalkan kamu di sini sendirian. Hatiku merasa tidak tenang jadinya. Bagaimana jika Darwin atau ada beberapa lelaki jahat yang ingin melecehkan kamu lagi. Siapa yang akan menolongmu di saat hal itu terjadi?” tanya Putra mencemaskan Imelda.


“Kamu tenang saja, aku akan pasang pin pengunci di rumah, agar tidak ada orang lain yang bebas keluar masuk ke rumahku,” sahut Imelda menyakinkan Putra.


“Maaf, aku tidak percaya. Kalau kamu mau aku kuliah di luar Negeri, maka kamu juga harus ikut bersamaku ke sana. Tentang semua pekerjaan milik kamu, bukannya bisa karyawan-karyawan ini yang mengirimkan e-mail ke kamu. Dan kamu cukup menghandle dari kejauhan saja,” usul Putra.


“Baiklah, kalau itu mau kamu. Mulai sekarang aku akan mengajari mereka tentang cara mengirim dokumen dari e-mail,” sahut Imelda patuh.


Setuju dengan usul Putra, Imelda mulai memilih universitas mana cocok untuk Putra. Setelah dapat Imelda melanjutkan mencari apartemen atau rumah untuk mereka tinggal di sana.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2