Kompleks Janda

Kompleks Janda
26. Kalung Emas Untuk Imelda


__ADS_3

Imelda terus menggedor pintu rumah Putra.


“PUTRA! PUTRA!” teriak Imelda sampai 10 menit di depan pintu, barulah Putra membuka pintu rumahnya.


Putra berdiri dengan tangan mengusap handuk kecil di rambut basahnya, dan handuk badan melingkar mulai dari pinggul sampai atas lutut.


Imelda menundukkan pandangannya.


“Ada apa?” tanya Putra dengan wajah datarnya.


“A-anu…ta-tadi..” ucapan Imelda terhenti saat Putra menarik tangan Imelda, membawanya masuk ke dalam rumah.


Deg deg!


Jantung Imelda mendadak berdetak tak karuan. Pikiran aneh mulai menari-nari di otak kecilnya.


“A-aku lagi datang bulan,” celetuk Imelda tiba-tiba, berpikir Putra akan melakukan hubungan intim dengannya.


Terkejut mendengar ucapan Imelda, Putra menarik garis senyum di wajahnya, melemparkan handuk basah bekas rambutnya ke wajah Imelda membuat wajah merona Imelda tertutup handuk miliknya.


“Aku menarik kamu masuk ke dalam rumah bukan ingin melakukan perbuatan itu. Aku menarikmu masuk karena aku tidak suka tubuhku di lihat oleh orang lain,” jelas Putra agar Imelda tidak salah paham.


“Maaf, aku pikir kamu…” gumam Imelda sembari menekan handuk ke wajahnya.


“Kamu duduklah dulu, aku mau pakaian, kemudian sholat Magrib,” sela Putra mempersilahkan Imelda duduk.


“Ba-baik!” sahut Imelda masih menutup wajahnya dengan handuk rambut milik Putra.


Mendengar suara langkah kaki Putra menaiki anak tangga, Imelda perlahan menurunkan handuk dari wajahnya, melirik sejenak ke punggung berotot tanpa penutup milik Putra sudah berada jauh di atas anak tangga.


“Malunya aku! Aku pikir Putra ingin melakukan hal itu kepadaku,” gumam Imelda menahan malu setengah mati.

__ADS_1


Greeg!


“Ya ampun, ada-ada aja sih! Tadi pikiran aku yang jorok, ini perut aku yang berbunyi kuat. Untung saja Putra sudah tidak ada di sini,” keluhan Imelda terhenti, sorot matanya beralih ke dapur. “Sebaiknya aku buat makanan saja, dari pada perut terus keroncongan seperti ini,” lanjut Imelda.


Tidak ingin membuat dirinya bertambah malu karena perut laparnya terus keroncongan. Imelda memutuskan untuk mencari bahan makanan di lemari pendingin, kemudian memasak makanan untuknya dan juga Putra.


40 menit berlalu. Putra sudah selesai berpakaian dan melaksanakan ibadah sholat Magrib. Sebelum melangkah keluar dari kamar, Putra berdiri sejenak di depan pintu kamarnya dengan sebelah tangan memegang handle pintu dan sebelahnya lagi memegang kotak berisi kalung emas.


“Suka atau tidak itu urusan belakangan. Sekarang niatku untuk mengalungkan kalung emas ini ke jenjang leher Imelda. Harus!” gumam Putra serius.


Setelah membulatkan tekadnya untuk menjadikan Imelda sebagai wanitanya tanpa memikirkan hal buruk di kemudian hari, Putra menarik handle pintu, kaki kanannya pun mulai melangkah keluar kamar. Putra terus melangkah mengikuti indra penciuman harum masakan tumis kangkung dan sambal telor dari dapurnya. Langkah kaki Putra pun kini terhenti di samping kursi makan di duduki oleh Imelda.


“Eh, kamu sudah siap?” tanya Imelda menyadari kedatangan Putra berdiri di sampingnya.


“Aku ingin memberikan sesuatu padamu. Izinkan aku menyingkap rambut yang menutupi jenjang leher bagian belakangmu,” ucap Putra tanpa menghiraukan pertanyaan Imelda.


“Ka-kamu mau memberikan apa?” tanya Imelda gugup, tapi tangannya menuruti permintaan Putra.


Putra mengambil kalung emas dari dalam kontak, lalu memasangkan kalung emas tersebut ke jenjang leher Imelda. Perbuatan Putra membuat Imelda terkejut sampai ia menolehkan wajahnya ke belakang.


“Aku tidak memperdulikan tentang lamaran dari kedua orang tua Darwin kepadamu tadi. Yang aku tahu, aku lebih dulu menyatakan perasaanku dari pada pria lain. Aku dan kamu pun pasti sudah tahu jika saat lamaran tadi kamu sudah memiliki hubungan denganku. Walaupun kamu menerima lamaran dari pria lain, kamu tetap masih menjadi milikku karena aku belum resmi menarik perasaanku padamu. Suka atau tidak suka, saat ini kamu telah menjadi milikku! Jika kamu ingin bukti lebih, maka aku bersiap menghamili mu detik ini juga!” jelas Putra tegas dengan wajah datarnya.


Imelda terkejut bukan main, kepalanya tertunduk, kedua tangan di atas pahanya mengepal erat.


“Kamu tahu kalau aku janda, kamu juga tahu aku dilecehkan oleh Darwin malam itu. Kamu juga melihat wajah penuh nafsuku karena obat haram malam itu. Aku juga hampir melahap mu yang belum pernah melakukannya dengan alasan sebagai penawar obatku. Tapi kenapa kamu masih menginginkan aku sebagai kekasihmu? Bukannya lebih bagus jika aku menerima lamaran dari seseorang yang pernah melecehkan aku?” sahut Imelda lirih.


“Entahlah, aku juga masih belum memahami perasaanku sepenuhnya kepadamu. Jelas bagiku saat ini, hanya namamu, wajahmu, serta tawamu yang membuat aku sulit untuk melupakanmu!” ungkap Putra terdengar tulus. Meski dalam hatinya, ‘Meski aku belum memahami sepenuhnya tentang isi hatiku kepadamu. Jelas bagiku saat ini benar-benar tidak ingin kehilangan kamu.’


“Apa kamu serius mencintaiku?” tanya Imelda menyakinkan.


“Serius!” sahut Putra berbohong, dalam hatinya berkata. ‘Aku belum bisa memastikan jika aku serius mencintaimu. Tapi, akan aku pastikan jika perasaan ini sudah membulat sepenuhnya, maka aku akan meresmikan hubungan kita ke jenjang yang lebih dalam lagi.’

__ADS_1


“Meski aku seorang janda yang sudah tidak tersegel lagi?” tanya Imelda menyakinkan kembali.


“Segel itu apa sih? Apakah ucapan itu tentang seorang wanita yang masih perawan atau tidak?” Putra balik bertanya karena bingung.


“Iya, kalau kamu menyukai anak gadis, kamu pasti tahu kalau wanita itu masih perawan. Tapi, kalau kamu menyukai wanita yang pernah menikah, pasti kamu tahukan kalau mesinnya sudah sering di pakai,” sahut Imelda menjelaskan tentang statusnya.


“Ngomong apaan sih! Nggak berbobot sekali. Percuma ada dokter perawatan khusus area organ intim. Kamu tenang saja, aku akan berusaha mencari duit yang banyak untuk membuat kamu melakukan perawatan tersebut, agar aku bisa menikmati milik kamu seperti anak gadis yang masih perawan itu!” celetuk Putra sembari menarik kursi makan utama dan mendudukkan dirinya.


“Sepertinya kamu sungguh serius denganku,” gumam Imelda malu-malu.


“Serius lah, aku mana pernah main-main dengan ucapan yang terlontar dari mulutku,” sahut Putra dengan raut wajah datarnya.


“Sebenarnya aku tadi menolak lamaran dari Darwin, karena aku merasa jika mereka datang dengan niat yang tidak baik,” jelas Imelda kemudian.


“Mau kamu menerima lamarannya atau tidak. Sudah jelas saat ini aku yang menang. Semisal mereka datang lagi, kamu akan aku kurung di rumahku ini! Biar aja aku di bilang posesif, asal kamu tidak bertemu dengan pria lain selain aku!” celetuk Putra berpura-pura cemburu, padahal saat ini ia sangat senang mendengar ucapan penolakan dari Imelda.


“Bagaimana dengan ibu-ibu di kompleks ini?” tanya Imelda mulai cemas.


“Bilang saja kalau kita sudah resmi pacaran,” sahut Putra, tangannya menciduk nasi, meletakkannya ke atas piring kosong miliknya dan milik Imelda.


“Ja-jangan, a-aku takut kalau mereka tidak terima dengan keputusan kita!”


“Kalau kamu takut, maka tutupi saja hubungan kita dari tante-tante di kompleks ini. Cuman, jangan salahkan aku jika mereka terus merayuku!” ucap Putra mulai melahap makanannya.


“Iiiih! Berarti kamu senang di rayu oleh ibu-ibu di kompleks ini?” tanya Imelda mulai cemburu.


“Sebenarnya aku bosan, cuman mau gimana lagi!” sahut Putra membuat Imelda semakin terbakar api cemburu.


“Aku akan terus menjagamu agar ibu-ibu di kompleks ini tidak genit padamu! Tidak ada yang boleh mencicipi kamu selain aku!” gumam Imelda dengan mulut terisi nasi dan lauk.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2