
Keesokan paginya.
Merasa bersalah karena telah menyakiti perasaan Imelda. Putra sengaja bangun pagi-pagi sekali berbelanja ke pasar, setelah itu memasak makanan kesukaan Imelda dan juga Aluna. 1 jam berkutik di dapur, akhirnya Putra menyelesaikan masakannya.
Berbagai menu makanan telah tersaji di atas meja, tak lupa minuman juga tersaji.
“Akhirnya selesai juga!” hela Putra puas.
Mencium aroma masakan dari dalam kamar, Imelda, Maya, Rihana dan Aluna, menyerbu dapur.
“Pagi semua!” sapa Putra, senyum manis tertuju untuk Aluna.
“Hem!” dengus Aluna membuang wajahnya karena masih kesal mengingat perlakuan Putra tadi malam kepada Imelda.
Putra terdiam, kepalanya tertunduk seolah merasa tidak berhasil membujuk Aluna untuk tidak marah kepadanya.
“Makanan ini semua kamu yang memasaknya?” tanya Maya, tangannya menarik kursi dan mendudukkan dirinya.
“Tidak ku sangka kamu bisa memasak makanan seenak ini. Rasanya aku ingin cepat-cepat melahapnya,” tambah Rihana.
“Kalau gitu mari kita makan,” ajak Putra.
Imelda, Rihana, Maya dan Aluna telah duduk di kursi mereka masing-masing.
Semua demi membujuk Imelda dan Aluna. Putra rela makan belakangan, melayani Imelda dan Aluna makan.
“Apa kamu melakukan hal ini untuk meminta maaf kepadaku?” tanya Imelda melirik ke sisi kiri, tepat Putra berdiri di samping kursinya.
“Iya, aku mengaku salah,” sahut Putra jujur.
Maya dan Rihana saling sikut dan berbisik.
“Ternyata semua ini demi Imelda,” bisik Maya.
“So sweet banget! Aku jadi ingin memiliki pasangan lagi,” celetuk Rihana iri.
“Kalau aku malas banget memiliki pasangan lagi. Kau tahu kenapa? Karena setelah kita memiliki pasangan nantinya, kita pasti tidak akan bisa cuci mata lagi dengan pria lain. Dan aku paling membenci hal seperti itu,” ungkapan isi hati Maya.
“Benar juga, kamu, ya!” angguk Rihana.
Di tengah-tengah menikmati santap sarapan mereka. Terdengar suara wanita memasuki rumah.
“Assalamualaikum. Apakah orang yang di dalam sini sudah pada bangun?” ucap salam seorang wanita.
Imelda, Putra, Rihana, dan Maya menoleh ke asal suara tersebut.
__ADS_1
“Suara ibu pemilik vila kenapa jadi lebih muda dari kemarin?” gumam Rihana.
“Aku seperti mengenal suaranya, tapi siapa, ya?” gumam Maya.
Imelda dan Putra saling pandang.
“Apa kamu mengundang seseorang?” tanya Imelda.
“Tidak,” sahut Putra jujur.
Suara langkah kaki terhenti di depan ruang dapur sekaligus makan. Imelda, Maya, Putra, dan Rihana terkejut melihat siapa orang itu. Orang itu adalah Linda.
Linda berdiri dengan kedua tangan memegang rantang bertingkat 4 di masing-masing tangannya. Dengan centilnya, Linda berjalan menuju ke arah Putra, tak lupa menggoyang semangka agar memikat Putra.
“Pagi, darling ku!” sapa Linda, ia meletakkan rantang di atas meja.
Melihat Linda ingin memeluk Putra, Aluna dengan cepat turun dari kursinya, memeluk kedua betis Putra karena hanya kedua betis itu bisa ia gapai.
“Kamu kenapa anak kecil?” tanya Linda membungkukkan sedikit tubuhnya.
“Ndak boleh! Tante ndak boleh peluk Om Putra! Om Putra hanya boleh peluk Aluna!” rengek Aluna sambil menangis, kedua kakinya juga dihentakkan di tempat.
Imelda, Rihana dan Maya tercengang mendengar kejujuran Aluna.
“Saingan kecil,” gumam Maya diangguki Rihana.
Sejenak Aluna lupa akan ucapannya, ia melepaskan genggaman tangannya, dan mengangguk.
“Mau, Aluna mau es krim 1 ya, tante!”
“Jangankan 1, 10 es krim atau sama frezzeer nya juga akan tante berikan untuk Aluna. Asal tante boleh memeluk Om Putra,” sahut Linda kembali melontarkan tujuannya.
“Tidak boleh!” tolak Aluna kembali memeluk Putra saat mendengar Linda meminta izin untuk memeluk Putra.
Linda melirik tajam ke Imelda, dan lirikan itu terlihat oleh Putra.
“Mohon maaf, kenapa Linda datang sepagi ini ke vila?” tanya Putra mengambil alih percakapan dan pandangan tajam Linda.
“Begini darling, tadi malam aku mencaritahu sama kenalanku tentang tanah seperti yang kamu inginkan. Kenalanku mengatkan jika di kota Y ada tanah seperti yang kamu inginkan. Pagi ini aku datang, karena aku ingin mengajak kamu untuk pergi melihat langsung ke sana. Kebetulan untuk hari ini ada 5 tanah kosong yang akan di jual dengan harga miring,” sahut Linda menjelaskan.
“Tentang surat-suratnya?” tanya Putra penasaran.
“Tentu saja semuanya sah! Kamu tenang saja, kalau tidak percaya tentang surat-surat. Kita bisa pergi ke kantor pengurusan Negara,” sahut Linda yakin.
“Kalau mau pergi, kami ikut!” ucap Maya dan Rihana cepat.
__ADS_1
“Idih, kedua wanita tua ini ikutan saja!” dengus Linda kesal.
“Aku akan ikut. Tapi, Imelda dan lainnya juga harus ikut, karena ketiga wanita hebat itu juga mengetahui tentang tanah dan lokasi untuk membangun Perusahaan,” sahut Putra tidak ingin membuat Imelda kembali cemburu.
Linda mendengus kesal, mau tak mau dia harus menyiakan demi bisa pergi bersama dengan Putra.
1 jam kemudian.
Putra, Linda, Maya, Rihana, Imelda dalam gendongan Aluna, telah sampai di salah satu lapangan cukup luas, kanan-kiri di penuhi ladang sawit orang.
Maya dan Rihana mengernyitkan dahinya, menatap sekeliling tempat dan jalan begitu sunyi seperti kota mati.
“Eh! Yang benar saja kau ingin menyarankan Putra untuk membeli tanah seperti ini. Murah sudah pasti murah. Tapi lihat di sekitarnya! Suara kentutku saja ku rasa bisa memanggil semua burung-burung yang bersembunyi di dalam sawit itu!” celetuk Rihana kepada sang pemilik tanah langsung.
Imelda, Putra, dan Linda membulatkan kedua bola mata mereka, tak menyangka jika Rihana bisa mengomel seperti seorang preman.
Sejenak sang pemilik tanah terdiam, hingga akhirnya ia tersadar dan mulai ambil bahan pembicaraan.
“Kenapa rupanya kalau membeli lahan di sini? Bukannya kalian ingin membangun Perusahaan di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota!” cetus pemilik tanah.
“Iya, tahu! Tapi ya nggak gini juga kali!” ucap Rihana tak mau kalah.
“Kalau lahannya seperti ini, cocoknya lebih baik di buat pabrik saja, bukan perusahaan!” tambah Rihana geram.
Kesal dengan ulah Rihana, pemilik tanah pergi begitu saja meninggalkan mereka.
Linda tidak bisa berkutik, ia hanya bisa tercengang memandang kepergian rekan dari kerabatnya itu.
“Janda gila! Kau memang hebat,” puji Maya memberikan 2 jempol tangannya ke Rihana.
“Ya jelas,” sahut Rihana menyombongkan dirinya, lirikan tajam ke Linda. “Kau masih ku pantau!” ancam Rihana ke Linda.
“Sudah, jangan kasar seperti itu. Kalau memang tidak suka sebaiknya kita pergi saja, atau menolaknya dengan cara halus,” tegur Imelda lembut.
“Ya deh!” sahut Rihana, lalu melangkah pergi menuju mobil, dan masuk ke dalam.
“Ja-jadi tanah ini tidak jadi?” tanya Linda kikuk.
“Kita lihat di tempat yang lain saja, ya,” ajak Putra, ia pun melangkah menuju mobil.
Pada intinya, selama melihat lokasi tanah di tawarkan kerabat Linda kepada Putra semuanya di tolak mentah-mentah oleh Maya dan Rihana. Sehingga Linda pulang dengan wajah masa dan tak enak hati kepada rekannya itu.
Hem! Kenapa Maya dan Rihana jadi jahat begitu?
.
__ADS_1
.
Bersambung