Kompleks Janda

Kompleks Janda
27. Aku Sudah Dijodohkan dengan Putra!


__ADS_3

Selesai makan malam, Imelda membantu Putra membersihkan dapur bekas masak. Setelah itu Putra menemani Imelda pulang ke rumahnya.


“Maaf, aku pernah mendengar dari ustad jika wanita sedang haid tidak boleh mandi malam-malam. Kalau tidak keberatan, aku akan pulang setelah kamu selesai mandi,” ucap Putra mengejutkan Imelda.


“Ti-tidak perlu kuatir, aku sudah terbiasa…”


“Mulai sekarang hentikan kebiasaan buruk kamu!” sela Putra tegas.


“Aku tidak menyangka jika kamu secemas ini kepadaku,” gumam Imelda merasa nyaman karena saat ini ada seseorang memperhatikan dirinya.


“Karena saat ini kamu adalah kekasihku, maka aku akan terus memantau kamu. Bukan egois atau posesif, semua itu aku lakukan demi kesehatanmu,” jelas Putra.


“Ya, sudah. Aku naik dulu ke atas, ya!” pamit Imelda.


“Iya, kalau terjadi hal buruk berteriaklah agar aku bisa datang menyelamatkan kamu!” sahut Putra berlebihan.


Imelda mengangguk, lalu melangkah naik anak tangga menuju kamarnya di lantai 2. Sesekali Imelda menoleh ke belakang, melihat Putra masih menatap dirinya dari ruang tamu. Sesekali Imelda membalas tatapan Putra dengan senyuman agar tidak terlalu gugup.


Melihat Imelda tidak terlihat lagi di anak tangga, Putra mendudukkan dirinya di sofa, menyandarkan tubuhnya dan mulai menyibukkan jari-jemarinya dengan benda pipih miliknya.


“Apa aku tadi terlihat seperti seorang pria tukang ngatur? Bukan, bukan, aku tadi merasa seperti seorang pria psikopat yang terlalu terobsesi dengan kekasihku. Aduh! Gimana sih agar tetap tampil keren di depan pasangan dan pasangan itu semakin cinta pada kekasihnya?” gumam Putra bertanya sendiri pada dirinya.


Bingung tidak mendapatkan jawaban dari dirinya sendiri, Putra mulai membuka google, di sana ia terus mencari, ‘bagaimana caranya agar membuat pasangan kita nyaman’, ‘bagaimana caranya bersikap baik dan nyaman dengan pasangan’, dan ada banyak tata cara lagi di kunjungi oleh Putra.


30 menit berlalu.


Imelda selesai mandi, ia pun turun dengan pakaian sudah berganti piyama tidur.


“Maaf ya, sudah menunggu lama,” ucap Imelda mendudukkan dirinya di samping sofa kosong sebelah Putra.


Putra menegakkan tubuhnya, salah satu tangannya melingkar di bahu Imelda, lalu menarik tubuh Imelda mendekat padanya.


“Tidak masalah sayang, asal aku bisa melihatmu dalam kondisi baik-baik saja, penantian 1 jam, 2 jam, 1 tahun, 2 tahun, bahkan sampai ribuan tahun pun akan aku tunggu kedatanganmu,” sahut Putra datar.

__ADS_1


Mendengar jawaban Putra, Imelda heran sampai mengernyitkan dahinya.


“Ka-kamu baik-baik saja?” tanya Imelda bingung melihat sikap Putra mendadak aneh.


“Selagi kamu ada di dekatku, aku akan baik-baik saja,” sahut Putra masih mengikuti tata cara pengucapan dari aplikasi tersebut.


“Sepertinya kamu aneh hari ini. Apa kamu sakit?” tanya Imelda menurunkan tangan Putra dari bahunya, dan mulai menatap datar wajah Putra.


Lelah dengan tata cara tersebut, Putra menghela nafas panjang, kemudian beranjak dari duduknya.


“Maaf, aku bukan type pria romantis seperti pria pada umumnya. Aku tadi mencoba menirukan semua tata cara pengucapan dari aplikasi tersebut, dan ternyata kamu menyadarinya,” ungkap Putra tenang, meski dalam hatinya ia ingin sekali berlari karena malu.


Pengakuan Putra membuat Imelda melepaskan tawanya. Putra menjadi semakin malu, ia pun langsung bergegas pergi setelah mengucapkan selamat malam kepada Imelda.


Menyadari Putra pergi dengan raut wajah menahan malu, Imelda menghentikan tawanya, kedua kakinya melangkah cepat mengikuti Putra dari belakang. Namun, langkah kaki Imelda terhenti di depan gerbang rumahnya. Imelda buru-buru bersembunyi setelah melihat Putra berdiri dengan seorang wanita yaitu Fuji, teman satu desa Putra.


“Mereka sedang membicarakan hal apa ya? Dari raut wajahnya terlihat sangat serius,” gumam Imelda penasaran, sorot matanya mengintip dari balik gerbang rumahnya.


Dengan tergesa Putra terlihat masuk ke dalam rumah, Fuji sendiri berdiri di teras rumah Putra.


“Maaf, kalau aku boleh tahu ini ada apa, ya?” tanya Imelda tanpa basa-basi.


“Ayahku sakit, dan ia ingin bertemu dengan Putra,” sahut Fuji ketus.


“Apa hubungannya dengan Putra? Kalau sakit seharusnya kamu bawa ke dokter, bukan memanggil Putra,” ucap Imelda mulai cemas.


“Itu bukan urusan kamu. Lagian kenapa kamu terlalu ikut campur dengan urusanku?” tanya Fuji mulai sewot.


Putra pun keluar dengan pakaian rapih dan sopan.


“Kamu kenapa ada di sini?” tanya Putra ke Imelda.


“Aku tadi tidak sengaja melihat percakapan kalian dari kejauhan. Aku lihat percakapan ini cukup serius, apa aku bisa ikut menolong…”

__ADS_1


“TIDAK! KAU TIDAK BOLEH IKUT BERSAMA KAMI KE DESA!” sela Fuji dengan volume suaranya menggema di kompleks mereka.


Imelda terdiam, kepalanya pun tertunduk.


“Kalau gitu aku masuk ke rumah,” pamit Imelda, sorot mata sedihnya terhenti di wajah tenang Putra. “Kabarin aku jika kamu sudah sampai ke Desa,” tambah Imelda untuk Putra.


“Kamu pasti lelah tinggal di kota, kan? Sebaiknya kamu pulang ganti pakaian dan ikut pergi bersama kami,” ajak Putra membuat hati Imelda senang, tidak untuk Fuji.


“Tapi, aku datang ke kota ini hanya untuk di suruh menjemputmu!” celetuk Fuji.


“Maaf, saat ini Imelda sudah menjadi kekasihku. Karena Imelda hanya tinggal seorang diri di kota ini, aku merasa jika dia harus tetap berada bersamaku. Kalau kamu tidak mengizinkan Imelda ikut pergi bersama kita, lebih baik aku tidak akan pulang ke Desa. Aku titip salam saja sama Ayah kamu,” sahut Putra menjelaskan, dan sukses membuat Fuji terkejut.


“Sepertinya kamu harus segera meninggalkan janda ini. Karena sesungguhnya kedua orang tua kita pernah berjanji, setelah dewasa kita harus dijodohkan,” ucap Fuji berbohong.


“Sejak kapan perjanjian itu terjadi?” tanya Putra mulai mengernyitkan dahinya.


“Sejak mendiang kedua orang tua kamu jatuh sakit, mereka sebenarnya pernah terlilit hutang dengan kedua orang tuaku. Tapi, kedua orang tuaku tidak ingin menerima uang dari kedua orang tua kamu, mereka hanya menginginkan kamu menikahiku, dan mengurus semua sawah milik kami,” sahut Fuji sekali lagi berbohong.


Hati Imelda terasa sakit saat mendengar perkataan Fuji. Baru saja bunga di dalam hatinya tumbuh bermekaran, kini bunga-bunga tersebut perlahan gugur bersama dengan putusnya harapan untuk bisa bersama dengan Putra. Kedua kaki itu perlahan memutar arah, melangkah goyah menuju rumahnya.


Melihat Imelda berjalan seperti seorang sedang putus asa, Putra mengejarnya, menahan pergelangan tangan Imelda dan mulai menyakinkan Imelda akan omong kosong Fuji.


“Aku mohon jangan percaya dengan ucapan Fuji. Aku mohon percayalah padaku!” ucap Putra penuh dengan permohonan.


Imelda terpaksa mengangkat wajahnya, membuat senyum palsu di raut wajah ingin menangisnya itu.


“Aku serahkan semua keputusan ini di tangan kamu. Pergilah dengan hati-hati, jangan lupa beri aku kabar setelah sampai,” sahut Imelda lirih.


Merasa air mata ingin tumpah dari kedua matanya, Imelda buru-buru berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Putra masih berdiri memandang kepergiannya.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2