
Mobil milik Putra terhenti di depan rumah Imelda. Ia turun membuka pintu mobil milik Imelda, kemudian ia berlari kecil membuka pintu bagasi mobil mengambil mainan baru milik Aluna.
Hendak masuk ke dalam rumah, mobil Rihana dan Maya tiba-tiba berhenti di samping mobil milik Putra. Maya dan Rihana terlihat berlari mendekati Imelda berdiri di depan pintu gerbang sambil menggendong Aluna.
“Aduh-duh! Kenapa dengan dahi mulus Aluna?” tanya Maya dengan wajah meringis.
“Cemananya kau janda hiper. Ngurus anak imut seperti Aluna saja kau nggak becus. Apa kata mendiang—”
Maya langsung mencubit perut samping Rihana.
“Eh, bisa diam nggak mulut terompet!” bisik Maya mengancam.
“Iya, aku terbawa suasana janda penyihir!” sahut Rihana tak mau kalah ikut memaki.
“Maaf, bisa minggir tidak? Aku mau lewat,” ucap Putra karena kesusahan membawa banyak bungkusan berisi kotak mainan.
“Aduh! Berondong tampanku, sini-sini. Berikan kepada tante,” celetuk Rihana mengambil bungkusan paling atas, di susul Maya tak mau kalah.
Imelda dan Aluna hanya menjadi penoton, bingung melihat reaksi Maya dan Rihana terkesan berlebihan.
“Kalau gitu bantu aku bawa sampai ke dalam, tante,” ucap Putra senang karena bebannya berkurang.
“Oh, i-iya!” sahut Maya dan Rihana bersamaan.
Putra melangkah masuk terlebih dahulu, kemudian Maya dan Rihana mengikutinya dari belakang. Tak lupa, sikut-menyikut, tendang-menendang terjadi sampai langkah kaki mereka terhenti di ruang tamu.
Sementara Imelda duduk di sofa single dengan memangku Aluna. Sejenak melupakan pertanyaan mereka kepada Aluna, Maya dan Rihana masih terus menggoda Putra.
“Berondong ini makin hari makin cakep aja, ah!” puji Rihana dengan ekspresi malu-malu seperti gadis desa.
“Terima kasih tante. Tante juga semakin lama semakin cantik,” sahut Putra kembali memuji. Imelda mendengarnya sedikit merasa cemburu.
“Tante, bagaimana dengan pujian tante. Apa tante tidak cantik lagi?” tanya Maya tak mau kalah, ia berdiri berhadapan dengan Putra, tak lupa mendorong Rihana untuk menjauh.
“Tante Maya dan tante Rihana semakin hari semakin cantik. Mungkin karena keduanya telah melakukan hal baik, seperti menolong Imelda saat mengurus Aluna,” sahut Putra menjelaskan pujiannya.
“Benar, sewaktu kamu tidak ada. Kami kasihan sekali dengan Imelda,” ucap Rihana.
__ADS_1
“Iya, kami para janda di sini ikut berperan penting dalam menghandel sih, janda hiper itu. Maklum saja, dia itu belum pernah memiliki anak dan mengasuh bayi. Sedangkan kami sudah berapa kali mengeluarkan bayi. Dan yang membuat kami para janda di kompleks ini jadi semangat. Semenjak kehadiran Aluna, rezeky kami ada aja. Nggak putus-putus, mungkin Aluna adalah hoki bagi para janda di kompleks ini. Termasuk janda milikmu, Imelda!” jelas Maya panjang lebar.
“Alhamdulillah, bagus kalau seperti itu,” ucap Putra tak lupa bersyukur.
“Oh ya, tante dengar kamu ingin membuka anak Perusahaan seperti milik Imelda?” tanya Rihana.
Putra sejenak melirik ke Imelda, Imelda membalas lirikan Putra dengan menggerakkan mulutnya meminta maaf. Kemudian Putra mengalihkan lirikannya ke Rihana dan Maya.
“Iya, kebetulan aku masih memiliki cukup uang untuk membuka Perusahaan kecil-kecilan. Aku juga sudah memiliki ilmu dasar tentang bisnis, jadi sayang kalau tidak dimanfaatkan,” sahut Putra.
“Kebetulan sekali, ada sebuah gedung Perusahaan yang cocok untuk kamu jadikan anak Perusahaan seperti milik Imelda. Gedung itu adalah milik salah satu mantan rekan bisnis tante yang tidak bisa melanjutkan bisnisnya karena dia sedang terlilit hutang, dan harus segera melunasinya sebelum kepalanya di penggal,” ucap Rihana serius.
“Ah! Yang benar saja jeng Rihana masa menawarkan bekas Perusahaan milik orang yang sudah bangkrut ke Putra. Bagaimana jika Perusahaan itu ada masalah di tempat lain, dan daerah mana pula itu Perusahaannya didirkan?” tanya Maya menyambar.
“Nggak percaya banget sih, mulut cocor bebek ini. Aku sudah menanyakan perihal sangkut paut tersebut ke pihak-pihak tertentu. Dan hasilnya memang cuman bermasalah pada beberapa orang yang memberinya hutang. Perusahaannya awalnya ingin di jual, cuman karena tempatnya seperti milik Perusahaan janda hiper ini, jadi pebisnis lain malas membelinya. Kalau kamu tidak percaya, coba tanyakan saja sama orang keperceyaan kamu untuk menyelidikinya,” jelas Rihana sewot.
Tidak enak membuat Aluna mendengar perdebatan biasa Maya dan Rihana terkesan pro dengan kalimat seksi, Imelda membuka mulutnya untuk menenangkan Maya dan Rihana.
“Begini saja. Kalau aku boleh tahu nama Perusahaan dan beserta pemiliknya itu siapa? Biar aku minta seseorang untuk menyelidikinya,” sahut Imelda meminta dengan lembut.
Rihana langsung mendekat begitu juga dengan Maya tak ingin ketinggalan.
“Hahaha! Nama pemilik dan Perusahaan sungguh meyakinkan. Tapi sayang, kelakuan pemiliknya tidak bagus,” ejek Maya sembari tertawa.
Aluna masih diam, menonton perdebatan orang dewasa.
“Alah! Mulutmu itu loh janda, macam kau nggak punya lakik aja. Wajar saja sih, Bagus itu bangkrut. Orang dia celup sana celup sini, macam teh celup. Itulah hukum karma bagi pria teh celup,” celetuk Rihana.
“Iya-ia! Aku hampir melupakan identitasku sebagai seorang janda,” kekeh Maya.
“Iya pula! Aku juga hampir melupakan identitasku sebagai seorang janda. Mana alat-alat buat casan kita cukup beragam di jual bebas di via online. Jadi, lupa aku dengan bentuk dan ukuran aslinya,” sambung Rihana sambil tertawa.
Aluna mengernyitkan dahinya, lalu menatap Imelda.
“Mami, tante Maya dan Rihana membicarakan apa?” tanya Aluna penasaran.
Maya dan Rihana langsung terdiam, mereka menutup mulutnya lalu mendekati bungkusan mainan di atas meja.
__ADS_1
“Aduh Aluna, banyak banget mainan kamu,” ucap Rihana mencoba mengalihkan.
“Iya, di beli Om Putra,” sahut Aluna sembari turun dari pangkuan Imelda.
“Benar, ada boneka joget-joget. Gimana kalau kita bermain sejenak sebelum tante pulang untuk mandi,” ajak Maya tak mau kalah.
“Ayo!” sahut Aluna semangat.
Aluna bermain dengan Maya dan Rihana. Sementara Putra mendekati Imelda, meminta izin untuk pulang sejenak memarkirkan mobilnya di halaman kontrakan miliknya.
Setelah mendapatkan izin dari Imelda, Putra melangkah keluar dari rumah Imelda.
“Aluna, jeng Maya dan jeng Rihana, aku permisi ke dapur. Mau masak makan siang untuk Aluna,” pamit Imelda.
“Mau masak apa?” tanya Maya cepat.
“Mau masak sayur kesukaan Aluna,” sahut Imelda, sembari beranjak dari duduknya.
“Kami bantu, ya? Sekalian kami numpang makan siang di sini. Soalnya malas kali pulang ke rumah. Mau makan siang, makan pun hanya di temani kursi-kursi dan hembusan angin,” ucap Rihana diangguki Maya.
“Ya sudah, kalau gitu kita masak lebih siapa tahu Putra mau makan bersama dengan kita,” sahut Imelda.
“Serius, berarti kita akan makan bareng sama berondong kesayanganku?” tanya Rihana semangat.
“Mudah-mudahan saja mau!” angguk Imelda.
“Aluna ikut main masak-masakan,” celetuk Aluna sembari berdiri dengan sebelah tangan memegang boneka.
“Kalau gitu mari kita serbu dapur!” ajak Imelda.
Imelda, Rihana, Maya dan Aluna berjalan sambil bernyanyi menuju dapur.
Saat Imelda di dapur, ponsel miliknya mendapatkan pesan singkat berisi.
...[AKU AKAN MENJEMPUTNYA BERSAMA DENGAN KAMU!]...
.
__ADS_1
.
Bersambung